:strip_icc()/kly-media-production/medias/5399810/original/068925400_1762009108-OPENAI.jpg)
OpenAI telah secara resmi mengonfirmasi bahwa pendapatan tahunannya telah melampaui $20 miliar (sekitar Rp 339 triliun) pada tahun 2025, menandai lonjakan finansial yang signifikan bagi perusahaan riset kecerdasan buatan terkemuka tersebut. Proyeksi ini, yang sebelumnya disampaikan oleh CEO Sam Altman dan kemudian ditegaskan oleh CFO Sarah Friar, menunjukkan pertumbuhan eksponensial dalam tiga tahun terakhir, didorong oleh peningkatan masif dalam kapasitas komputasi dan adopsi produk AI generatif secara luas.
Lonjakan pendapatan OpenAI mencerminkan perubahan drastis dalam lanskap keuangan perusahaan. Pada tahun 2023, pendapatan tahunan perusahaan tercatat $2 miliar, meningkat menjadi $6 miliar pada tahun 2024, sebelum mencapai lebih dari $20 miliar pada tahun 2025. Friar menyebut pertumbuhan ini sebagai sesuatu yang "belum pernah terjadi sebelumnya" dan secara langsung mengaitkannya dengan peningkatan daya komputasi AI. Kapasitas komputasi OpenAI telah berkembang dari 0,2 gigawatt (GW) pada tahun 2023 menjadi 0,6 GW pada tahun 2024, dan mencapai 1,9 GW pada tahun 2025, sebuah peningkatan hampir 9,5 kali lipat. Friar bahkan mengemukakan bahwa ketersediaan komputasi yang lebih cepat di tahun-tahun sebelumnya dapat mempercepat adopsi dan monetisasi lebih jauh.
Pertumbuhan pendapatan ini bersumber dari diversifikasi model monetisasi OpenAI, yang meliputi langganan konsumen untuk produk seperti ChatGPT Plus dan Pro, penggunaan API oleh pengembang, serta solusi perusahaan untuk berbagai industri. ChatGPT, produk andalan perusahaan, telah bertransisi dari "pratinjau penelitian" menjadi bagian integral dari alur kerja harian di rumah dan di tempat kerja, menjangkau 800 juta pengguna aktif mingguan pada Oktober 2025, naik dari 500 juta pada Maret tahun yang sama. Pelanggan bisnis berbayar juga menunjukkan peningkatan signifikan, melampaui 5 juta pengguna pada Agustus 2025.
Meskipun mencapai pertumbuhan pendapatan yang mengesankan, OpenAI menghadapi tantangan finansial yang signifikan. Perusahaan ini beroperasi dengan tingkat pengeluaran modal yang sangat tinggi. OpenAI membakar sekitar $8,5 miliar pada tahun 2025, dengan proyeksi kerugian melebihi $9 miliar. Tingkat pengeluaran ini diperkirakan akan terus meningkat, mencapai $17 miliar pada tahun 2026 dan puncaknya $47 miliar pada tahun 2028. Sebagian besar pengeluaran ini dialokasikan untuk investasi infrastruktur komputasi skala besar, termasuk komitmen senilai $1,4 triliun untuk pusat data hingga tahun 2033 dan proyek "Stargate" senilai $500 miliar yang dikerjakan bersama Oracle, SoftBank, dan MGX, berkoordinasi dengan pemerintah Amerika Serikat. Altman menyatakan bahwa pertumbuhan pendapatan yang pesat akan membantu menutupi komitmen pengeluaran ini, meskipun profitabilitas masih menjadi target jangka panjang, diperkirakan tercapai pada tahun 2029.
Dalam upaya lebih lanjut untuk memperluas aliran pendapatannya, OpenAI telah mulai menguji iklan di tingkat gratis ChatGPT untuk pengguna di Amerika Serikat. Analis teknologi senior Mark Mahaney dari Evercore ISI memperkirakan bahwa bisnis periklanan ini dapat menghasilkan pendapatan tahunan $1 miliar pada tahun 2026 dan melonjak menjadi $25 miliar sebelum tahun 2030, berpotensi menjadi ancaman bagi dominasi pasar periklanan digital yang saat ini dipegang oleh perusahaan seperti Google. Selain itu, OpenAI berencana untuk beralih ke "adopsi praktis" pada tahun 2026, berfokus pada sektor kesehatan, sains, dan perusahaan, serta mengembangkan agen AI dan otomatisasi alur kerja. Perusahaan juga dikabarkan berencana meluncurkan perangkat fisik pertamanya pada paruh kedua tahun 2026.
Strategi pertumbuhan agresif OpenAI, yang didukung oleh investor besar seperti Microsoft, yang pada Oktober 2024 menyertakan investasi dalam putaran modal $6,6 miliar dengan valuasi $157 miliar, menekankan keyakinan perusahaan pada potensi jangka panjang AI. Namun, dengan biaya operasional yang sangat tinggi dan persaingan ketat dari pemain seperti Anthropic dan Google, keberlanjutan finansial OpenAI tetap menjadi perhatian utama. Analis HSBC bahkan memperingatkan adanya potensi defisit pendanaan sebesar $207 miliar pada tahun 2030. Perusahaan ini tampaknya bertaruh besar bahwa investasi masif dalam komputasi dan penelitian akan menghasilkan dominasi pasar yang tak tertandingi di era kecerdasan buatan.