:strip_icc()/kly-media-production/medias/5393418/original/091550800_1761553691-istockphoto-153794211-612x612.jpg)
Upaya menghemat pengeluaran kendaraan dengan sering mengganti jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) ternyata justru berisiko menimbulkan kerugian yang lebih besar. Banyak pemilik kendaraan tergoda untuk beralih dari BBM beroktan tinggi ke oktan rendah atau sebaliknya, bahkan mencampurnya, demi menekan biaya. Padahal, kebiasaan ini dapat memicu berbagai masalah serius pada mesin kendaraan.
Salah satu risiko utama adalah fenomena "knocking" atau mesin ngelitik, yaitu pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna dan terjadi sebelum waktunya. Ini disebabkan oleh ketidaksesuaian nilai oktan (Research Octane Number/RON) BBM dengan rasio kompresi mesin. Mesin mobil dirancang untuk bekerja optimal dengan nilai oktan tertentu. Ketika BBM dengan oktan yang tidak sesuai digunakan, terutama oktan rendah pada mesin berkompresi tinggi, bensin akan terbakar lebih awal sebelum busi memercik, menyebabkan suara ketukan dan getaran yang merusak komponen mesin.
Selain knocking, sering gonta-ganti BBM juga berdampak pada penurunan performa mesin. Mesin harus terus-menerus menyesuaikan kompresinya dengan bahan bakar yang berbeda, mengakibatkan tarikan mesin terasa berat, akselerasi menurun, dan kinerja yang tidak konsisten. Efisiensi pembakaran yang rendah juga membuat konsumsi BBM menjadi lebih boros, sehingga tujuan awal untuk menghemat justru tidak tercapai.
Masalah lain yang muncul adalah penumpukan kerak atau residu karbon di ruang bakar dan injektor. Setiap jenis BBM memiliki zat aditif yang berbeda. Perubahan jenis BBM yang terlalu sering dapat menyebabkan zat aditif ini tidak bekerja secara optimal atau bahkan menyisakan kerak, yang dapat mengganggu proses pembakaran dan mempercepat keausan komponen. Kerak ini juga bisa menaikkan rasio kompresi mesin secara tidak normal, memicu knocking.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyebabkan kerusakan serius pada komponen vital mesin seperti piston, ring piston, dan katup. Kerusakan ini tentu saja akan memerlukan biaya perbaikan yang mahal, jauh melebihi potensi penghematan dari penggunaan BBM yang lebih murah. Bahkan, mesin dapat cepat panas (overheat) karena harus bekerja lebih keras untuk beradaptasi dengan perubahan bahan bakar, yang berpotensi menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Selain itu, pembakaran yang tidak sempurna juga meningkatkan emisi gas buang berbahaya, berdampak negatif pada lingkungan dan potensi tidak lolos uji emisi.
Meskipun dalam kondisi darurat sesekali mengganti BBM mungkin tidak langsung menimbulkan masalah besar jika tangki hampir kosong, para ahli dan pabrikan kendaraan sangat menyarankan untuk selalu menggunakan jenis BBM yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan dan konsisten dalam penggunaannya. Menghabiskan sisa BBM lama sebelum mengisi dengan jenis baru jika ingin beralih juga merupakan praktik yang lebih aman. Konsistensi dalam pemilihan bahan bakar adalah kunci untuk menjaga performa mesin tetap optimal, memperpanjang umur kendaraan, dan menghindari pengeluaran tak terduga akibat kerusakan mesin.