
Transformasi signifikan sedang terjadi di sektor telekomunikasi dengan munculnya pemain baru yang siap menantang dominasi Starlink milik Elon Musk. Amazon, raksasa teknologi yang didirikan oleh Jeff Bezos, telah secara resmi meluncurkan layanan internet satelitnya, yang kini dikenal sebagai Amazon Leo, sebelumnya Project Kuiper. Proyek ini diposisikan sebagai "pembunuh Starlink" dan menandai babak baru dalam persaingan antara dua miliarder tersebut di arena konektivitas global.
Amazon Leo, yang diluncurkan pada November 2025, bertujuan untuk menyediakan layanan internet broadband berlatensi rendah dari orbit rendah Bumi (LEO), bersaing langsung dengan Starlink dari SpaceX. Amazon berencana untuk menyebarkan konstelasi sebanyak 3.236 satelit. Sebagai perbandingan, Starlink saat ini memiliki sekitar 8.500 satelit aktif dan berencana untuk memperluas jaringannya hingga 12.000 satelit.
Sejak April 2025, Amazon Leo telah meluncurkan lebih dari 150 satelit ke orbit. Layanan ini saat ini dalam fase "pratinjau perusahaan", menawarkan konektivitas kepada pelanggan bisnis terpilih, termasuk perusahaan energi bersih Hunt Energy Network, perusahaan konektivitas nirkabel Vanu Inc, dan maskapai penerbangan JetBlue. Peluncuran yang lebih luas untuk pasar umum diharapkan terjadi pada tahun 2026, dimulai dari Amerika Serikat dan kemudian meluas secara internasional.
Salah satu klaim utama Amazon Leo adalah kecepatan internetnya yang unggul. Perusahaan ini menyatakan bahwa antena Leo Ultra barunya dapat mencapai kecepatan unduh hingga 1 Gigabita per detik (Gbps), menjadikannya "antena array bertahap komersial tercepat dalam produksi". Angka ini diklaim sekitar lima kali lebih cepat dari kecepatan unduh median jaringan Starlink yang sekitar 200 Mbps selama jam sibuk di AS, meskipun Starlink melayani lebih dari 2 juta pelanggan. Selain itu, Leo Ultra menawarkan kecepatan unggah hingga 400 Mbps. Amazon juga telah memamerkan terminal Leo Pro berukuran sedang untuk penggunaan portabel atau kendaraan, dan unit Leo Nano ultra-kompak berukuran 7 inci persegi yang dinilai hingga 100 Mbps.
Di balik teknologi tersebut, Project Kuiper menggunakan chip "Prometheus" yang dirancang khusus, yang menggabungkan kekuatan pemrosesan modem 5G, kemampuan stasiun pangkalan seluler, dan fungsi antena backhaul gelombang mikro. Satelit-satelit juga akan saling terhubung melalui koneksi laser inframerah optik (OISL). Integrasi mendalam dengan infrastruktur Amazon Web Services (AWS) adalah pembeda utama lainnya, menawarkan tautan "Direct to AWS" yang memungkinkan lalu lintas satelit langsung masuk ke beban kerja cloud tanpa melalui internet publik.
Amazon telah mengamankan 92 peluncuran roket dari United Launch Alliance (ULA), ArianeGroup, dan Blue Origin—perusahaan antariksa milik Jeff Bezos sendiri—dengan total biaya melebihi US$10 miliar. Menariknya, mereka juga telah membeli tiga peluncuran dari SpaceX. Peluncuran terbaru termasuk misi KF-03 pada Oktober 2025, yang menambahkan 24 satelit di atas roket SpaceX Falcon 9. Misi Atlas V ULA berikutnya, yang dikenal sebagai "Leo 4", dijadwalkan pada 15 Desember 2025.
Persaingan antara Jeff Bezos dan Elon Musk telah lama terjadi, tidak hanya di internet satelit tetapi juga dalam usaha antariksa mereka, dengan Blue Origin bersaing dengan SpaceX untuk kontrak peluncuran. Rajeev Badyal, presiden Kuiper Systems, adalah mantan wakil presiden konstelasi internet satelit Starlink di SpaceX, menambah dimensi persaingan ini.
Meskipun Starlink memiliki keunggulan sebagai yang pertama dengan lebih dari 5 juta pengguna di lebih dari 125 negara, strategi Amazon Leo adalah fokus awal pada pelanggan perusahaan dengan margin yang lebih tinggi, sebelum beralih ke konsumen setelah teknologi dan ekonomi membaik. Amazon juga berjanji untuk menawarkan harga yang kompetitif, dengan terminal seharga kurang dari US$400. Pertarungan antara kedua raksasa teknologi ini diharapkan akan menguntungkan konsumen, terutama di daerah yang kurang terlayani oleh infrastruktur internet tradisional.