
Telkomsel mengungkapkan tantangan berat dalam upaya memulihkan jaringan telekomunikasi di wilayah-wilayah yang terdampak bencana, terutama di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Gangguan layanan telekomunikasi yang masif ini terjadi menyusul bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, yang melanda ketiga provinsi tersebut sejak sekitar Rabu, 26 November 2025.
Wakil Presiden Strategi Kolaborasi dan Penyelesaian Jaringan Telkomsel, Nizar Fuadi, menjelaskan bahwa terdapat tiga kendala utama yang menghambat proses pemulihan jaringan. Tantangan paling krusial adalah tidak tersedianya pasokan listrik dari PLN akibat terputusnya jaringan distribusi, yang menyebabkan banyak Base Transceiver Station (BTS) tidak dapat beroperasi. BTS mengandalkan baterai cadangan yang hanya mampu bertahan sekitar empat jam sebelum memerlukan generator set (genset).
Kendala kedua adalah sulitnya akses menuju lokasi BTS. Banjir dan longsor telah memutus akses jalan, membuat tim teknis kesulitan mencapai situs-situs yang terdampak. Untuk mengatasi masalah aksesibilitas ini, Telkomsel bahkan membutuhkan dukungan khusus berupa perahu karet dan perangkat satelit. Tantangan ketiga adalah mobilisasi bahan bakar solar untuk genset. Ketersediaan dan distribusi solar menjadi persoalan serius di tengah kondisi darurat bencana.
Vice President Consumer Business Area Sumatera Telkomsel, Saki Hamsat Bramono, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus hadir dan memaksimalkan seluruh upaya mempercepat pemulihan jaringan, sekaligus memperluas bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak. Telkomsel telah mengerahkan tim tanggap daruratnya, Telcom Cell Emergency Response and Reactive Activity (TERRA), dan bekerja sama dengan Telkom Group.
Secara spesifik, di Aceh, lebih dari 1.430 site, 2.400 BTS, dan 15 Sentral Telepon Otomat (STO) masih mengalami gangguan signifikan. Gangguan ini disebabkan oleh pemadaman listrik, robohnya menara Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), serta terputusnya akses jalan. Sekitar 60 persen BTS di Aceh terdampak bencana.
Di Sumatera Utara, sekitar 1.100 site, 1.900 BTS, dan 10 STO terdampak, terutama di wilayah Gunung Sitoli, Teluk Dalam, dan Sibolga, akibat putusnya kabel serat optik (fiber cut) di ruas jalur Sibolga-Barus. Sekitar 12 persen BTS di Sumatera Utara mengalami gangguan. Sementara itu, di Sumatera Barat, lebih dari 190 site, 360 BTS, dan 1 STO terganggu akibat kerusakan infrastruktur dan jalur backbone di beberapa titik, dengan sekitar 11,03 persen BTS yang terdampak. Total, lebih dari 2.700 BTS dan 1.700 lebih site tercatat mengalami gangguan signifikan di ketiga provinsi tersebut.
Telkomsel juga melakukan koordinasi intensif dengan PLN, pemerintah daerah, TNI/Polri, serta instansi terkait lainnya untuk memastikan percepatan pemulihan jaringan dan distribusi bantuan yang tepat sasaran. Selain upaya teknis, Telkomsel juga menyalurkan bantuan sosial berupa sembako, air bersih, dan mendirikan dapur umum untuk meringankan beban masyarakat di posko pengungsian, seperti di Aceh Singkil dan Pidie Jaya. Perusahaan menyampaikan permohonan maaf atas penurunan kualitas layanan yang dirasakan pelanggan dan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada selama masa tanggap darurat.