Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ambang Batas Air Motor Listrik Aman di Tengah Banjir

2025-12-31 | 15:46 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T08:46:27Z
Ruang Iklan

Ambang Batas Air Motor Listrik Aman di Tengah Banjir

Fenomena meningkatnya curah hujan dan frekuensi banjir di perkotaan global menimbulkan tantangan signifikan bagi pengguna kendaraan, tak terkecuali pengendara sepeda motor listrik yang populasinya terus bertumbuh. Meskipun motor listrik kerap diyakini lebih kebal terhadap genangan air dibanding motor konvensional tanpa risiko water hammer, batas aman ketinggian air mutlak harus dipahami untuk menghindari kerusakan serius pada komponen vital dan potensi bahaya keselamatan.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, serta instruktur senior keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, secara konsisten merekomendasikan batas aman ketinggian air yang dapat dilalui sepeda motor listrik berkisar antara 20 hingga 30 sentimeter dari permukaan jalan. Ketinggian ini umumnya setara dengan batas bawah dek kaki pengendara atau maksimal setinggi as roda. "Umumnya aman selama komponen vital seperti baterai tidak terendam. Namun, risiko kerusakan komponen tetap ada jika dipaksakan," kata Yannes. Sony Susmana menambahkan bahwa genangan sekitar 20 cm masih layak dijalankan, tetapi pengendara perlu mewaspadai kedalaman yang bisa berubah. Beberapa pabrikan, seperti ALVA, bahkan menyebutkan bahwa motor mereka telah diuji untuk menerjang banjir setinggi 50 cm, meskipun tetap menyarankan kewaspadaan.

Batas ketinggian ini didasarkan pada standar ketahanan air Ingress Protection (IP Rating) yang disematkan pada komponen utamanya, seperti baterai dan kontroler. Banyak motor listrik modern, termasuk model seperti Yadea, membekali kontroler dan baterai dengan sertifikasi IP67 atau IPX7. Angka "7" pada kode IP tersebut mengindikasikan bahwa perangkat dapat bertahan dalam air dengan kedalaman hingga 1 meter selama 30 menit. Namun, standar ini merujuk pada pengujian di air bersih dan statis, bukan kondisi banjir dengan air kotor, arus, dan potensi benturan benda asing.

Risiko utama saat motor listrik menerjang genangan melebihi batas aman adalah terjadinya korsleting pada sistem kelistrikan. Komponen seperti baterai, kontroler, dinamo motor penggerak, dan sambungan kabel sangat sensitif terhadap air. "Jika air masuk ke komponen kelistrikan, bisa saja terjadi short circuit atau korsleting yang mengancam keselamatan," ujar Masykur, Product Planning Advisor Alva. Selain itu, Putu Swaditya Yudha, Chief Marketing Officer Alva, juga menegaskan bahwa menerjang genangan air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan masalah serius jika air mencapai atau merendam komponen kelistrikan. Air yang merembes ke dalam hub drive motor dapat menyebabkan malfungsi pada sistem penggerak, mengurangi efisiensi dan performa motor dalam jangka panjang. Korosi pada komponen mekanik seperti rangka dan roda juga menjadi ancaman serius jika tidak segera dibersihkan dan dikeringkan. Kerusakan pada baterai lithium-ion yang terendam air, terutama jika memicu korsleting, berpotensi menyebabkan proses peluruhan termal (thermal runaway) yang dapat mengakibatkan kebakaran spontan.

Dalam menghadapi musim hujan dan potensi banjir, pengendara motor listrik perlu menerapkan beberapa langkah mitigasi. Pertama, selalu periksa kedalaman air. Hindari genangan yang melebihi setengah roda atau dek kaki. Jika terpaksa harus menerobos, lakukan dengan kecepatan sangat rendah dan stabil untuk menghindari cipratan air masuk ke bagian sensitif dan gelombang air yang mendorong masuk ke kompartemen. Pastikan port pengisian daya tertutup rapat. Hindari berhenti di tengah genangan dan segera cari jalan alternatif jika arus air terlalu kuat atau kedalaman tidak pasti.

Setelah melewati genangan air, langkah penanganan pasca-banjir sangat krusial. Jangan coba menyalakan atau mengisi daya motor listrik yang sempat terendam. Air yang masuk ke sistem elektronik dapat memicu korsleting. Segera matikan daya sepenuhnya dan, jika memungkinkan, cabut konektor baterai. Pindahkan motor ke area terbuka dan keringkan seluruh bagian, terutama port pengisian, roda, dan area rem. Cahya Agusta Harianto, VP of Engineering Alva, menyarankan untuk mencuci motor sampai bersih setelah menerjang banjir, khususnya bagian kolong dan komponen luar. Jika motor mati di dalam air, jangan dipaksa menyala; dorong ke tempat aman. Waspadai tanda-tanda bahaya seperti bau menyengat, suara mendesis, asap, atau perubahan bentuk fisik pada baterai. Segera hubungi teknisi resmi atau bawa ke bengkel tersertifikasi untuk pemeriksaan menyeluruh. Jangan pernah mencoba membongkar atau memperbaiki sendiri bagian kelistrikan motor yang terendam banjir.

Aspek garansi juga menjadi pertimbangan penting. Mayoritas produsen, termasuk ALVA dan Honda, menetapkan bahwa kerusakan akibat bencana alam seperti banjir tidak tercakup dalam garansi pabrikan. Ini berarti biaya perbaikan akibat kerusakan banjir akan sepenuhnya ditanggung oleh pemilik, menambah beban finansial yang signifikan. Kondisi ini menuntut kesadaran lebih tinggi dari pemilik motor listrik untuk mengelola risiko ini secara proaktif.

Dengan semakin meningkatnya adopsi kendaraan listrik sebagai solusi mobilitas perkotaan yang berkelanjutan dan di tengah tantangan perubahan iklim yang membawa frekuensi banjir lebih tinggi, pemahaman mendalam tentang batas aman operasional menjadi esensial. Konsumen perlu membuat keputusan berdasarkan informasi akurat dan kehati-hatian, bukan sekadar klaim teknis di atas kertas. Keandalan motor listrik di masa depan akan sangat bergantung pada adaptasi desain terhadap kondisi ekstrem dan edukasi pengguna yang efektif.