Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Asal-Usul Tersembunyi: 8 Fitur Android Top yang Dulunya Aplikasi Pihak Ketiga

2025-12-05 | 06:08 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-04T23:08:31Z
Ruang Iklan

Asal-Usul Tersembunyi: 8 Fitur Android Top yang Dulunya Aplikasi Pihak Ketiga

Ekosistem Android telah berkembang pesat dari sistem operasi dasar menjadi platform ponsel pintar yang kaya fitur, dengan banyak fungsi yang kini dianggap standar ternyata berakar dari inovasi pengembang aplikasi pihak ketiga. Google dan berbagai produsen ponsel kemudian mengadopsi fitur-fitur ini, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari pengalaman Android modern.

Salah satu fitur yang kini jamak ditemukan adalah Always-On Display (AOD). Sebelum panel AMOLED populer, pengguna mendapatkan fungsi serupa melalui aplikasi pihak ketiga seperti AcDisplay, yang menampilkan notifikasi dalam tampilan monokrom di layar gelap. Pengalaman yang ditawarkan AcDisplay kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh produsen seperti Samsung dan LG.

Bertahun-tahun lamanya, Android tidak memiliki manajer file bawaan, sehingga pengguna sangat bergantung pada aplikasi pihak ketiga seperti ES File Explorer atau manajer file buatan masing-masing produsen ponsel. Google akhirnya memperkenalkan solusi resminya pada tahun 2017 melalui Files Go, yang kemudian berevolusi menjadi Google Files.

Dukungan tema menyeluruh, yang kini dikenal melalui sistem warna Monet sejak Android 12, juga berasal dari kreativitas komunitas ROM kustom. Platform seperti Substratum dan RRO Layers, yang dikembangkan oleh Sony, menjadi andalan pengguna untuk memodifikasi tampilan sistem dan aplikasi secara menyeluruh. Inovasi ini menginspirasi sistem tema resmi Android saat ini.

Navigasi berbasis gestur yang kini menjadi standar di Android, menggantikan tombol virtual, juga memiliki akar dari aplikasi pihak ketiga. Aplikasi seperti Swipe Navigation dan All-in-One Gestures menawarkan kontrol berbasis sapuan layar yang lebih fleksibel sebelum Google merilis sistem resminya. Produsen seperti Samsung dan Xiaomi juga sempat mengembangkan gestur mereka sendiri sebelum akhirnya diseragamkan oleh Google.

Fitur filter cahaya biru atau Night Light, yang membantu meredam cahaya biru pada malam hari, merupakan adopsi resmi dari fungsi yang dulunya hanya disediakan oleh aplikasi pihak ketiga. Aplikasi seperti Bluelight Filter dan Twilight sangat populer sebagai alat untuk mengurangi ketegangan mata dan menawarkan opsi pengaturan warna yang lebih fleksibel. Kehadiran fitur resmi ini pada seri Pixel pertama kemudian mendorong produsen lain untuk mengikuti.

Sebelum fitur tangkapan layar panjang (long screenshot), anotasi, dan perekaman layar (screen recording) hadir sebagai pembaruan standar, pengguna harus mengandalkan aplikasi pihak ketiga untuk fungsi-fungsi tersebut. Fitur-fitur lanjutan ini kini terintegrasi dalam sistem Android untuk kemudahan pengguna.

Kustomisasi launcher juga sebagian besar berasal dari inovasi pihak ketiga. Launcher seperti Nova Launcher dan Action Launcher memperkenalkan berbagai fitur yang kini umum ditemukan, termasuk pengaturan grid fleksibel, folder yang dapat diubah tampilannya, gestur untuk membuka panel notifikasi, hingga dukungan ikon pihak ketiga. Kemampuan ini kemudian diadopsi sebagian oleh launcher bawaan produsen ponsel.

Terakhir, Quick Share, yang saat ini menjadi solusi berbagi file cepat lintas perangkat Android, Windows, hingga iOS, memiliki pendahulu dari aplikasi pihak ketiga. Quick Share awalnya dikenal sebagai Nearby Share pada tahun 2020. Namun, jauh sebelum Google menghadirkan teknologi ini, aplikasi seperti SHAREit, Xender, dan SuperBeam sudah mengandalkan Wi-Fi Direct untuk pengiriman file berkecepatan tinggi sebagai alternatif Bluetooth yang lambat. Aplikasi seperti AirDroid dan Pushbullet juga pernah populer karena kemampuannya menghubungkan ponsel dengan perangkat lain melalui antarmuka web, membuka jalan bagi Quick Share yang lebih stabil dan terintegrasi.