:strip_icc()/kly-media-production/medias/5190606/original/074634200_1744876800-ASUS_ROG_Strix_SCAR_III_G531GW.jpg)
Produsen perangkat keras komputer terkemuka asal Taiwan, ASUS, secara resmi membantah laporan yang menyebutkan bahwa mereka berencana untuk memproduksi modul RAM sendiri sebagai respons terhadap krisis memori global yang sedang berlangsung. Spekulasi mengenai langkah strategis ASUS ini mencuat di tengah lonjakan harga dan kelangkaan pasokan memori dinamis akses acak (DRAM) yang diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2027 atau bahkan 2028.
Krisis memori yang parah telah mencengkeram sektor teknologi global pada akhir 2025, memaksa perusahaan kecerdasan buatan (AI), produsen ponsel pintar, dan elektronik konsumen untuk bersaing memperebutkan pasokan yang langka. Harga komponen penting ini, yang berfungsi untuk menyimpan dan mengakses data, telah melonjak drastis, mengganggu pasar korporasi dan konsumen. Lonjakan permintaan infrastruktur AI, yang didorong oleh raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, dan Nvidia, menyebabkan pembuat memori memprioritaskan chip kelas atas, seperti High Bandwidth Memory (HBM) dan DDR5 berkapasitas besar, dibandingkan memori konvensional untuk PC dan ponsel pintar. Samsung, SK Hynix, dan Micron Technology, tiga produsen DRAM terbesar yang menguasai 93% pasar global, telah mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi mereka ke solusi memori ber margin tinggi untuk mendukung AI. Akibatnya, pasokan modul memori tujuan umum menjadi terbatas dan mendorong kenaikan harga secara menyeluruh. Inventaris DRAM dilaporkan turun drastis menjadi dua hingga empat minggu pada Oktober 2025, dari 13–17 minggu pada akhir 2024.
Laporan awal dari beberapa publikasi teknologi pada akhir Desember 2025, termasuk Sakhtafzarmag, eTeknix, Lowyat.NET, Android Headlines, Gadgets 360, dan Sportskeeda Tech, mengindikasikan bahwa ASUS berencana untuk mendirikan lini produksi DRAM sendiri paling cepat pada kuartal kedua tahun 2026. Langkah ini disebut-sebut sebagai strategi "bertahan hidup" bagi ASUS untuk mengamankan pasokan yang stabil bagi jajaran laptop dan produk gaming ROG serta TUF populernya, mengatasi harga tinggi, dan keterbatasan pasokan. Dengan memproduksi modul DRAM sendiri, perusahaan diharapkan dapat memotong biaya perantara, menawarkan harga yang lebih kompetitif untuk produknya, dan memastikan kompatibilitas serta optimasi khusus dengan motherboardnya.
Namun, ketika dikonfirmasi oleh media Taiwan, CNA, ASUS membantah laporan tersebut, menyatakan bahwa mereka "tidak memiliki rencana untuk berinvestasi dalam pabrik wafer memori baru." Perusahaan menegaskan bahwa mereka akan fokus pada "memperdalam hubungan kerja sama dengan pemasok memori, serta menanggapi kondisi penawaran dan permintaan pasar dengan menyesuaikan spesifikasi produk dan mengoptimalkan siklus hidup produk."
Para analis industri telah menyuarakan keraguan terhadap kelayakan ASUS untuk memasuki produksi DRAM secara langsung. Membangun fasilitas manufaktur semikonduktor memerlukan tantangan teknis dan finansial yang sangat besar, dengan perkiraan waktu minimal dua tahun untuk mendirikan pabrik memori yang siap produksi, bahkan jika ASUS memiliki keahlian dan kekayaan intelektual (IP) memori yang ada, yang tidak dimilikinya. Tom's Hardware mencatat bahwa meskipun sentimen di balik keinginan produsen PC untuk mengatasi krisis memori dapat dimengerti, ide ASUS memproduksi DRAM sendiri dianggap tidak masuk akal karena skala investasi dan keahlian yang dibutuhkan.
Krisis memori yang terjadi saat ini diperkirakan akan memiliki dampak luas pada pasar PC dan ponsel pintar hingga tahun 2027. International Data Corporation (IDC) memperingatkan adanya "efek berantai bagi produsen perangkat dan pengguna akhir yang dapat bertahan hingga tahun 2027." Harga PC diperkirakan akan naik 15-20% pada paruh kedua tahun 2026, dengan beberapa produsen seperti Lenovo, Dell, dan HP telah memberi tahu klien mereka mengenai kondisi yang lebih sulit. Produsen ponsel pintar juga akan menghadapi tekanan, dengan segmen menengah ke bawah diperkirakan akan merasakan dampak terberat karena margin keuntungan yang tipis. Perusahaan-perusahaan seperti Xiaomi telah memperingatkan kemungkinan kenaikan harga perangkat seluler pada tahun 2026. Meskipun ASUS tidak akan terjun ke manufaktur memori, krisis ini mendorong perusahaan teknologi lain untuk mempertimbangkan strategi integrasi vertikal dan diversifikasi rantai pasokan. Namun, kompleksitas dan biaya besar dalam mendirikan fasilitas produksi chip tetap menjadi hambatan signifikan bagi sebagian besar pelaku industri.