Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bahaya Kecanduan Gadget Anak: Biaya Detoks Digital Kini Bikin Dompet Menangis!

2025-12-29 | 17:39 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-29T10:39:14Z
Ruang Iklan

Bahaya Kecanduan Gadget Anak: Biaya Detoks Digital Kini Bikin Dompet Menangis!

Kecanduan gawai pada anak di Indonesia mencapai titik kritis, mendorong banyak keluarga menghadapi konsekuensi finansial yang berat untuk program detoksifikasi digital. Tren yang mengkhawatirkan ini terkonfirmasi oleh data terbaru yang menunjukkan peningkatan signifikan kasus, bahkan dengan biaya rehabilitasi yang kini dapat mencapai ratusan juta rupiah.

Indonesia kini menempati peringkat pertama secara global untuk durasi penggunaan perangkat seluler terlama, dengan rata-rata warga menghabiskan 6,05 jam setiap hari pada tahun 2023, menjadi satu-satunya negara yang melampaui enam jam waktu layar harian. Fenomena ini tidak hanya terbatas pada orang dewasa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mengungkapkan, 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, dan 35,57 persen di antaranya sudah mengakses internet. Lebih spesifik, 5,88 persen anak di bawah usia satu tahun telah menggunakan ponsel, sementara 37,02 persen anak usia 1-4 tahun dan 58,25 persen anak usia 5-6 tahun juga menggunakan perangkat tersebut. Angka tersebut menggambarkan paparan teknologi yang masif sejak usia sangat muda, jauh melampaui rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang tidak menyarankan waktu layar sama sekali untuk anak di bawah satu tahun, dan membatasi maksimal satu jam per hari untuk usia 1-5 tahun.

Dampak dari penggunaan gawai berlebihan meluas pada berbagai aspek tumbuh kembang anak. Secara fisik, akademisi keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Andra, mengidentifikasi kasus-kasus anak yang mengeluhkan sakit punggung, pinggang, dan leher akibat posisi tubuh yang buruk saat bermain ponsel. Gangguan penglihatan seperti mata merah, iritasi, dan berair juga kerap terjadi. Kementerian Kesehatan juga menyoroti kebiasaan makan dan tidur yang buruk, risiko obesitas karena kurangnya aktivitas fisik, serta gangguan pertumbuhan.

Secara psikologis dan mental, anak-anak yang kecanduan gawai cenderung mengalami gangguan suasana hati, kesulitan berkonsentrasi, penurunan harga diri, kecemasan, depresi, hingga agresivitas. Perubahan perilaku seperti mudah marah, menarik diri dari pergaulan, sulit bersosialisasi, dan keterlambatan bicara juga menjadi indikasi kuat. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Pemuda Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, mengungkapkan adanya kasus anak kecanduan gawai yang sampai dirawat di rumah sakit jiwa di Kota Semarang. Fenomena kecanduan gim daring, yang diakui WHO sebagai "gangguan permainan," telah mencapai 46,2 persen pada anak dan remaja usia 0-18 tahun di Indonesia menurut data BPS 2023, bahkan dilaporkan memicu kasus ekstrem seperti percobaan bunuh diri di berbagai daerah.

Menghadapi eskalasi masalah ini, banyak orang tua kini dihadapkan pada pilihan sulit dan mahal. Program detoks digital, yang menawarkan jeda total dari perangkat elektronik selama beberapa minggu, menjadi solusi yang dicari. Beberapa kamp detoks digital internasional mematok biaya hingga 8.000 dolar AS atau sekitar Rp133 juta untuk program empat minggu tanpa ponsel. Biaya fantastis ini mencerminkan tingginya kompleksitas dan kesulitan penanganan kecanduan gawai yang sudah parah. Selain kamp khusus, keluarga juga mulai memanfaatkan jasa pelatih penggunaan gawai, aplikasi kontrol orang tua, hingga kelompok pendampingan daring, yang semuanya menambah beban finansial. Situasi ini semakin rumit dengan perkembangan aplikasi, kemampuan anak menemukan "trik bypass" pembatasan, serta kehadiran teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikenalkan pada anak sejak usia dini, menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pakar.

Para ahli menekankan pentingnya peran orang tua sebagai teladan dan penentu batasan yang jelas. Psikolog sosial dan pakar parenting Susan Newman, PhD, mengingatkan bahwa anak-anak meniru perilaku orang tua. Jika orang tua ingin anak-anak mereka melepaskan ponsel, mereka juga harus melakukannya. Psikolog Ajeng Raviando menyarankan agar orang tua memberikan alasan yang jelas dan sederhana saat membatasi penggunaan gawai, agar anak memahami dampak negatifnya. Psikoterapis Amy Morin, LCSW, menambahkan bahwa waktu layar harus dipandang sebagai hak istimewa, bukan hak, dan harus ada konsekuensi yang konsisten jika aturan dilanggar. Kemenko PMK melalui kampanye "Satu Jam Tanpa Gawai" berupaya mendorong interaksi langsung dalam keluarga untuk memperkuat ikatan emosional dan mental anak-anak. Namun, tantangan yang dihadapi orang tua saat ini jauh lebih besar, menuntut mereka untuk berperan ganda sebagai teknisi IT, filter konten, pendidik tentang penipuan digital, dan pendamping emosi. Tanpa intervensi yang tepat dan kesadaran kolektif, biaya detoks digital dan dampak sosial jangka panjang dari kecanduan gawai pada generasi mendatang akan terus meningkat.