:strip_icc()/kly-media-production/medias/5429474/original/051286700_1764588356-Lintas_Teknologi.jpeg)
Adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia menunjukkan akselerasi yang signifikan, dengan pertumbuhan adopsi korporasi mencapai 47 persen secara tahunan pada tahun 2024. Studi terbaru dari Amazon Web Services (AWS) bersama Strand Partners mengungkapkan bahwa dari sekitar 18 juta pelaku usaha yang telah menggunakan AI, sebagian besar masih berada pada tahap dasar. Sebanyak 76 persen responden menyatakan pemanfaatan AI masih terbatas pada peningkatan efisiensi operasional dan otomasi proses, sementara hanya 10 persen bisnis yang mengintegrasikan AI dalam pengambilan keputusan strategis dan pengembangan model bisnis baru.
Country Manager AWS Indonesia, Anthony Amni, menjelaskan bahwa sebagian besar korporasi masih memosisikan AI sebagai alat pendukung, bukan bagian inti dari strategi bisnis mereka. Kesenjangan juga terlihat antara perusahaan rintisan (startup) dan korporasi besar. Sekitar 34 persen startup telah menggunakan AI untuk meluncurkan produk atau layanan baru, berbanding 21 persen pada perusahaan besar. Lebih lanjut, 52 persen startup memiliki strategi AI yang komprehensif, sementara hanya 22 persen korporasi besar yang melakukan hal serupa. Sebuah survei Microsoft juga mencatat bahwa 59 persen pemimpin bisnis di Indonesia telah mengadopsi agen AI untuk otomasi proses dan alur kerja, angka ini lebih tinggi dari rata-rata Asia-Pasifik sebesar 53 persen. Potensi AI untuk ekonomi Indonesia diperkirakan akan sangat besar, dengan proyeksi kontribusi terhadap PDB mencapai 2,83-3,67 persen pada tahun 2030, naik dari 0,58-0,8 persen pada tahun 2024.
Namun, di balik pesatnya adopsi korporasi, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam hal literasi AI di kalangan masyarakat. Lebih dari 70 persen masyarakat Indonesia dilaporkan belum menyadari penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari mereka, meskipun sebagian besar pengguna global sudah berinteraksi dengan teknologi ini. Kesenjangan literasi juga terlihat jelas di dunia kerja, di mana hanya 56 persen karyawan yang memahami konsep agen AI, berbanding 87 persen pemimpin bisnis. Situasi ini diperparah dengan krisis literasi digital yang membuat masyarakat kesulitan membedakan fakta dari manipulasi digital, terutama dengan kemunculan AI generatif dan deepfake. Data dari survei Katadata Insight Center pada tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya 41 persen masyarakat Indonesia yang mampu mengenali informasi palsu di internet.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkomdigi) berupaya meningkatkan literasi digital dengan fokus pada AI. Program ini bertujuan untuk memastikan masyarakat tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pelaku yang aktif dan kritis. Pengenalan AI yang lebih mendalam diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan AI secara optimal, kesadaran etis terkait perlindungan data pribadi dan bias algoritma, serta daya saing digital Indonesia. Meskipun Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) meningkat dari 69,42 pada 2023 menjadi 73,52 pada 2024, serta Tingkat Gemar Membaca (TGM) naik dari 66,70 menjadi 72,44 pada periode yang sama, angka ini masih jauh dari ideal.
Pakar AI dari Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, menekankan perlunya kebijakan khusus dari pemerintah untuk melindungi sumber daya manusia dari potensi disrupsi pekerjaan akibat AI dan memastikan implementasi yang sistematis dan bertahap. Sementara itu, Ketua Indonesia AI Society, Lukas, melihat Indonesia memiliki potensi besar berkat kekayaan sumber daya (dataset dari keragaman alam, budaya, bahasa) dan bonus demografi yang harus dioptimalkan. Tantangan lain yang dihadapi korporasi dalam pengembangan AI adalah keterbatasan sumber daya manusia terampil, dengan 57 persen pelaku usaha menyebutnya sebagai hambatan terbesar, serta pentingnya akses terhadap pendanaan dan modal ventura bagi startup. Untuk mengatasi tantangan literasi, integrasi teknologi AI dalam sistem pendidikan, seperti pembelajaran Bahasa Indonesia, dinilai dapat secara signifikan meningkatkan literasi digital siswa, namun keberhasilannya bergantung pada kesiapan teknologi, akses siswa, dan dukungan pendidik.