Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

DPR Nilai Rencana Spin-off Fiber Telkom Progresif dan Relevan

2025-12-06 | 02:44 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-05T19:44:50Z
Ruang Iklan

DPR Nilai Rencana Spin-off Fiber Telkom Progresif dan Relevan

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai rencana pemisahan bisnis (spin-off) fiber optik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk sebagai langkah yang progresif dan relevan bagi industri telekomunikasi nasional. Anggota Komisi VI DPR Nevi Zuairina menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Telkom untuk melakukan transformasi dan optimalisasi aset.

Telkom telah menandatangani Perjanjian Pemisahan Bersyarat (Conditional Spin-Off Agreement) dengan anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) yang juga dikenal sebagai Infranexia, pada 20 Oktober 2025. Nilai transaksi untuk pemisahan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ini mencapai sekitar Rp 35,78 triliun, atau setara dengan $2,16 miliar hingga $2,2 miliar.

Langkah korporasi ini bertujuan untuk memperjelas fokus bisnis Telkom dalam mengembangkan konektivitas, meningkatkan efisiensi operasional, dan mengoptimalkan pemanfaatan jaringan serat optik yang luas. Telkom juga berharap dapat memperkuat posisinya sebagai penyedia infrastruktur konektivitas utama di Indonesia. Selain itu, inisiatif ini mendukung agenda nasional untuk mempercepat pemerataan digitalisasi, meningkatkan penetrasi broadband tetap, serta memastikan ketersediaan konektivitas yang andal dan berkualitas di seluruh wilayah Indonesia.

Menurut Nevi Zuairina, rencana pemisahan ini bukan sekadar restrukturisasi biasa, melainkan upaya untuk memfokuskan bisnis dan menciptakan nilai tambah yang lebih jelas dari aset infrastruktur yang sangat besar. Ia juga menegaskan bahwa inisiatif ini sangat relevan dengan tren global dalam industri telekomunikasi, di mana pemisahan bisnis infrastruktur (InfraCo) dari layanan ritel (ServiceCo) menjadi model yang semakin umum. Pemurnian bisnis semacam ini memungkinkan Telkom Group untuk meningkatkan efisiensi operasional dan agilitas di setiap unit bisnisnya.

Setelah transaksi, Telkom akan tetap memegang hampir seluruh saham TIF, dengan porsi kepemilikan sebesar 99,9999997 persen. Transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi material dan afiliasi, namun tidak akan berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan Telkom karena TIF merupakan anak perusahaan terkonsolidasi.

Telkom menargetkan proses spin-off ini akan dilakukan dalam dua fase. Fase pertama, yang melibatkan pengalihan lebih dari 50% aset, ditargetkan selesai pada akhir kuartal keempat 2025. Sedangkan fase kedua, yakni pengalihan penuh, dijadwalkan selesai pada paruh kedua tahun 2026. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk meminta persetujuan atas rencana ini akan digelar pada 12 Desember 2025.

DPR, melalui Komisi VI, menekankan pentingnya efisiensi dan tata kelola yang kuat dalam pelaksanaan spin-off ini agar manfaatnya dapat optimal bagi publik. Telkom memproyeksikan Infranexia akan menjadi motor pertumbuhan baru yang skalanya dapat menyamai Telkomsel di masa depan. Saat ini, utilitas jaringan fiber optik Infranexia baru mencapai sekitar 40 persen. Dengan spin-off ini, diharapkan Infranexia dapat melayani tidak hanya kebutuhan internal Telkom Group tetapi juga operator telekomunikasi lainnya secara netral, sehingga berpotensi menciptakan persaingan yang lebih sehat dan inklusif di tingkat layanan.