:strip_icc()/kly-media-production/medias/5346209/original/041270600_1757581737-20250911_125231.jpg)
Pengujian awal prototipe Samsung Galaxy S26 yang ditenagai chip Exynos 2600 mengindikasikan konsumsi daya yang lebih tinggi dibandingkan varian yang menggunakan System-on-Chip (SoC) buatan Qualcomm, Snapdragon 8 Gen 4, menimbulkan kekhawatiran serius mengenai efisiensi baterai dan manajemen termal perangkat andalan terbaru Samsung tersebut. Data internal yang bocor dari rantai pasok menunjukkan Exynos 2600, yang diproduksi menggunakan proses 3nm generasi kedua Samsung Foundry, menunjukkan tingkat pemborosan energi yang signifikan pada beban kerja puncak dan berkelanjutan. Situasi ini berpotensi memperburuk persepsi pasar terhadap kinerja Exynos dan menantang strategi diferensiasi Samsung di segmen premium.
Isu efisiensi daya bukanlah hal baru bagi seri Exynos; Samsung telah berjuang selama bertahun-tahun untuk menyamai keunggulan kompetitif chip Snapdragon, terutama dalam hal kinerja per watt. Chip Exynos 2100 dan 2200, misalnya, menghadapi kritik serupa terkait panas berlebih dan durasi baterai yang lebih pendek dibandingkan rekan Snapdragon mereka. Analis industri, termasuk Dylan Patel dari SemiAnalysis, telah berulang kali menyoroti tantangan yang dihadapi Samsung Foundry dalam mencapai kepadatan transistor dan efisiensi daya setara dengan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), yang memproduksi chip Snapdragon 8 Gen 4. Patel menyatakan bahwa meskipun Samsung telah berinvestasi besar dalam teknologi proses manufaktur, "celah efisiensi masih menjadi penghalang utama."
Penyebab utama dugaan pemborosan daya pada Exynos 2600 diyakini berasal dari kombinasi arsitektur inti CPU dan proses fabrikasi. Laporan teknis awal menyoroti konfigurasi inti "generasi baru" pada Exynos 2600 yang tampaknya dioptimalkan untuk performa mentah, namun mengorbankan efisiensi dalam skenario penggunaan sehari-hari. Selain itu, proses 3nm Gap-All-Around (GAA) generasi kedua Samsung Foundry, meskipun menjanjikan peningkatan performa dan efisiensi teoritis, tampaknya belum sepenuhnya matang untuk produksi massal dengan hasil optimal yang menyaingi teknologi N3E TSMC yang digunakan oleh Snapdragon 8 Gen 4. Sumber internal di Samsung dilaporkan mengakui adanya "tantangan yield dan kinerja" pada node 3nm GAA awal, yang mungkin memengaruhi karakteristik daya chip. Perbedaan dalam desain unit pemrosesan grafis (GPU) antara Exynos, yang menggunakan arsitektur AMD RDNA terbaru, dan Snapdragon, dengan Adreno mereka yang teruji, juga dapat berkontribusi pada variasi konsumsi daya, terutama dalam aplikasi gaming dan multimedia berat.
Implikasi dari perbedaan efisiensi daya ini meluas. Bagi konsumen, ini berarti potensi perbedaan pengalaman pengguna yang signifikan antara wilayah yang menerima varian Exynos dan Snapdragon dari Galaxy S26, termasuk masa pakai baterai yang lebih pendek, potensi throttling termal di bawah beban berat, dan kinerja yang tidak konsisten. Secara strategis, hal ini dapat semakin mengikis kepercayaan konsumen terhadap merek Exynos, memaksa Samsung untuk kembali ke strategi pengiriman chip tunggal secara global, atau menerima risiko fragmentasi pasar yang lebih besar. Pasar telah menunjukkan preferensi yang jelas untuk model bertenaga Snapdragon di masa lalu, yang terlihat dari harga jual kembali yang lebih tinggi dan persepsi kinerja yang superior. Untuk Samsung Semiconductor, divisi di balik Exynos dan Samsung Foundry, situasi ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk menutup kesenjangan teknologi proses dan optimalisasi desain chip guna memastikan daya saing jangka panjang dalam pasar SoC seluler yang sangat kompetitif. Keberlanjutan strategi "dual-chip" Samsung, dengan Exynos menargetkan wilayah tertentu, bergantung pada kemampuannya untuk menawarkan paritas kinerja dan efisiensi.