Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Fiber Optik: Kunci Mengisi Jurang Broadband Indonesia

2025-12-27 | 22:13 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-27T15:13:17Z
Ruang Iklan

Fiber Optik: Kunci Mengisi Jurang Broadband Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan penetrasi fixed broadband di Indonesia baru mencapai 21% rumah tangga pada tahun 2025, jauh di bawah target pemerintah sebesar 50% pada tahun 2029. Kesenjangan ini menjadi tantangan krusial bagi transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi nasional, mendorong pemerintah dan pelaku industri telekomunikasi mengintensifkan investasi pada infrastruktur fiber optik sebagai solusi utama untuk pemerataan akses internet berkecepatan tinggi.

Situasi ini mencerminkan disparitas mencolok antara penetrasi internet seluler yang telah menembus 80,66% pada tahun 2025, dengan 229 juta jiwa pengguna internet di Indonesia. Sementara itu, rata-rata kecepatan unduh fixed broadband nasional hanya mencapai 43,18 Mbps pada November 2025, masih tertinggal signifikan dibandingkan negara-negara tetangga seperti Singapura (336,5 Mbps), Thailand (237,1 Mbps), dan Malaysia (129,5 Mbps) pada Januari 2025. Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur fixed broadband ditargetkan mencakup 90% kecamatan dengan penetrasi 50% rumah tangga dan kecepatan layanan 100 Mbps pada tahun 2029.

Secara historis, upaya pemerataan akses digital telah dirintis melalui proyek Palapa Ring, jaringan serat optik sepanjang 36.000 km yang menghubungkan seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2019, yang digadang-gadang sebagai tulang punggung telekomunikasi nasional. Proyek ini diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan sosial ekonomi di seluruh wilayah melalui ketersediaan infrastruktur berkapasitas besar. Namun, proyek Palapa Ring lebih berfungsi sebagai tulang punggung (backbone) nasional, meninggalkan pekerjaan rumah besar pada konektivitas "last-mile" atau akses akhir ke rumah tangga dan daerah terpencil. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki topografi sulit, ditambah tantangan logistik, kerusakan dan pencurian infrastruktur, serta biaya investasi yang tinggi, menjadi penghalang utama dalam menggelar jaringan serat optik hingga ke pelosok.

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL), Jerry Mangasas Siregar, mengungkapkan bahwa dari total panjang kabel fiber optik yang telah digelar di seluruh Indonesia mencapai 800.000 km, penetrasi jaringan baru sekitar 30%. Ia juga menyoroti bahwa hanya sekitar 150 dari 514 kabupaten/kota yang memiliki jaringan fiber optik. Selain itu, ia mengeluhkan tumpang tindih regulasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta biaya perizinan yang memberatkan, yang dapat mencapai 12% dari total biaya operasional. Tantangan regulasi ini turut memengaruhi harga layanan fixed broadband di Indonesia yang masih dianggap premium, dengan rata-rata Rp 280.000 per bulan, sehingga menghambat adopsi massal di luar kota-kota besar.

Menanggapi kesenjangan ini, berbagai inisiatif kolaboratif muncul dari pemerintah dan swasta. Kementerian Komunikasi dan Digital melalui program "Kampung Internet" telah memberikan akses internet gratis di berbagai desa, seperti 87 titik di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Telkom Indonesia, sebagai operator telekomunikasi terbesar, telah membangun infrastruktur fiber optik sepanjang sekitar 173.000 kilometer hingga awal 2025, dengan program "Modern Broadband City" yang mentransformasi jaringan ke 100% fiber optik di 215 kota. Telkom juga telah melakukan spin-off sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke entitas anak usaha, InfraNexia, untuk mempercepat pemerataan akses digital dan meningkatkan penetrasi fixed broadband.

Sektor swasta juga bergerak agresif. Arsari Group bersama Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dan Northstar Group membentuk perusahaan patungan (joint venture) bernama FiberCo pada 23 Desember 2025, dengan tujuan memperluas infrastruktur fiber optik dan menjawab ketimpangan akses internet tetap. Wakil CEO dan COO Arsari Group, Aryo P.S. Djojohadikusumo, menyatakan bahwa kolaborasi ini tidak hanya membuka nilai dari aset yang ada, tetapi juga memobilisasi modal jangka panjang untuk mengatasi kesenjangan broadband tetap di Indonesia. Ia juga menegaskan pentingnya fiber optik sebagai tulang punggung bagi pendidikan, layanan kesehatan, layanan publik digital, dan aktivitas ekonomi digital.

Inovasi teknologi lain juga dipertimbangkan untuk menjembatani kesenjangan di daerah yang sulit dijangkau fiber optik kabel. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (SURGE) bekerja sama dengan FiberHome, meluncurkan jaringan 5G Fixed Wireless Access (FWA) berbasis spektrum 1.4 GHz, yang diklaim sebagai peluncuran komersial pertama di dunia untuk teknologi ini. Layanan "Internet Rakyat" (IRA) dari SURGE ini ditargetkan mampu menyediakan internet hingga 100 Mbps dengan kuota tanpa batas seharga Rp100.000 per bulan, diharapkan dapat menjadi solusi bagi daerah "blank spot" tanpa perlu penanaman kabel optik.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyatakan inisiatif seperti ini memenuhi mandat Presiden Prabowo Subianto untuk mengakselerasi kesetaraan digital, yang merupakan kunci kemajuan ekonomi masyarakat. Perluasan konektivitas digital berpotensi meningkatkan inklusi digital dan pembangunan daerah, membuka peluang ekonomi digital di Indonesia yang diproyeksikan mencapai USD 2,8 triliun pada tahun 2040. Fiber optik juga dianggap sebagai prasyarat fundamental bagi pengembangan pusat data, komputasi tepi, dan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Deny Setiawan dari Direktorat Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi menyebut fiberisasi sebagai "jalan raya digital" dan menekankan pentingnya infrastruktur yang kuat agar Indonesia dapat bersaing bahkan melampaui negara lain di ASEAN, terutama dalam era 5G dan AI. Kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk pemasangan kabel serat optik berdampingan dengan proyek jalan raya, diharapkan dapat mempercepat upaya ini.

Dengan komitmen pemerintah dan investasi signifikan dari sektor swasta, Indonesia berada pada titik krusial untuk mengatasi kesenjangan fixed broadband, mengubah tantangan geografis menjadi peluang, dan memastikan bahwa akses internet cepat serta andal menjadi fondasi bagi kemajuan ekonomi dan sosial yang merata di seluruh Nusantara.