:strip_icc()/kly-media-production/medias/5412907/original/006280700_1763108886-Galaxy_Z_Flip_7.png)
Samsung diperkirakan akan meluncurkan Galaxy Z Flip 8 pada pertengahan 2026 dengan mengandalkan chipset Exynos 2600 2nm miliknya sendiri, menandai perubahan signifikan dalam strategi semikonduktor perusahaan untuk lini ponsel lipat clamshell-nya. Keputusan ini, yang dilaporkan oleh media Korea Selatan The Bell, mengindikasikan bahwa Galaxy Z Flip 8 akan menjadi model kedua yang sepenuhnya ditenagai oleh chip Exynos setelah Galaxy Z Flip 7 sebelumnya beralih menggunakan Exynos 2500. Langkah ini terjadi seiring dengan pengumuman resmi Samsung Foundry pada 19 Desember 2025, mengenai Exynos 2600 sebagai System-on-Chip (SoC) seluler kelas unggulan terbarunya, yang diklaim sebagai chip pertama di dunia yang dibangun di atas proses 2nm dengan teknologi Gate-All-Around (GAA) canggih.
Exynos 2600 menawarkan peningkatan kinerja CPU hingga 39% dan peningkatan kinerja grafis sebesar 50% dibandingkan Exynos 2500, didukung oleh GPU Xclipse 960 baru yang meningkatkan kinerja ray tracing hingga 50%. Selain itu, kinerja AI generatif diklaim meningkat 113%, menandakan fokus Samsung pada kemampuan kecerdasan buatan di perangkat. Chip ini juga dilengkapi dengan teknologi Heat Path Block (HPB) untuk manajemen termal yang lebih baik, memastikan kinerja tinggi yang berkelanjutan di bawah beban kerja intensif.
Keputusan Samsung untuk mempercayakan lini Z Flip pada Exynos 2600 mencerminkan strategi yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada chipset Snapdragon dari Qualcomm, terutama setelah bertahun-tahun menerapkan strategi campuran atau bahkan dominasi Snapdragon di beberapa pasar. Meskipun lini Galaxy Z Fold 8 kemungkinan masih akan menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5 dari Qualcomm untuk kinerja gaming yang lebih optimal pada layarnya yang lebih besar, pergeseran untuk lini Flip menunjukkan upaya Samsung untuk mengoptimalkan biaya dan mengontrol penuh rantai pasokannya.
Secara historis, Samsung telah memiliki perjalanan yang berliku dengan chip Exynos-nya. Dari debut Hummingbird pada 2010 yang kemudian berganti nama menjadi Exynos 3 Single, hingga adopsi inti CPU kustom "Exynos M" pada 2017, dan kemudian beralih ke inti Arm Cortex-X dan GPU AMD RDNA mulai 2022, perusahaan telah terus berinvestasi dalam pengembangan silikon internal. Namun, Exynos menghadapi kritik di masa lalu terkait masalah termal, efisiensi daya, dan perbedaan kinerja dibandingkan dengan rekan-rekan Snapdragon-nya, yang menyebabkan penurunan kepercayaan pada merek tersebut. Kembalinya Exynos 2400 di beberapa varian Galaxy S24 dan kini Exynos 2500 di Galaxy Z Flip 7 menandai upaya Samsung untuk membangun kembali reputasi chip internalnya.
Implikasi dari langkah ini sangat signifikan, tidak hanya bagi Samsung tetapi juga bagi industri semikonduktor dan pasar ponsel lipat yang berkembang pesat. Dengan fasilitas baru di Taylor, Texas, yang mulai beroperasi pada 2025 dan berfokus pada produksi 2nm, Samsung bertekad untuk bersaing langsung dengan pemimpin industri seperti TSMC. Samsung Foundry menargetkan mencapai hasil 70% untuk proses 2nm dalam enam bulan untuk memenangkan klien besar. Proses 2nm menjanjikan peningkatan kinerja 12% dan efisiensi daya 25% dibandingkan chip 3nm sebelumnya.
Pasar ponsel lipat sendiri diperkirakan akan mengalami pertumbuhan eksponensial. Setelah pertumbuhan 14% year-on-year (YoY) pada Q3 2025, Counterpoint Research memproyeksikan pengiriman ponsel lipat global akan tumbuh 10% YoY pada 2025 menjadi 20,6 juta unit. Tahun 2026 diantisipasi menjadi titik balik, dengan International Data Corporation (IDC) memperkirakan pertumbuhan sebesar 29,7% YoY, didorong oleh peluncuran produk baru dan masuknya pemain besar seperti Apple ke pasar ponsel lipat pada paruh kedua 2026. Apple diproyeksikan akan menguasai lebih dari 22% pangsa unit dan 34% dari nilai pasar ponsel lipat pada tahun pertamanya.
Meskipun ponsel lipat masih merupakan segmen ceruk, dengan pangsa 2,5% dari total pengiriman pasar smartphone global pada Q3 2025, nilainya sangat strategis. Harga jual rata-rata ponsel lipat diperkirakan sekitar tiga kali lipat dari smartphone standar, menjadikannya pendorong nilai utama bagi vendor. Analis memprediksi pasar ponsel lipat akan mencapai $74,02 miliar pada 2030, tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 12,6% dari 2025 hingga 2030. Dengan Z Flip 8 yang menjadi rumah bagi Exynos 2600, Samsung tidak hanya berupaya meningkatkan lini produknya tetapi juga memperkuat posisinya sebagai inovator utama di tengah persaingan yang semakin ketat. Keberhasilan Exynos 2600 akan menjadi penentu penting bagi ambisi Samsung di pasar chip dan ponsel lipat di masa depan.