:strip_icc()/kly-media-production/medias/4940655/original/039567200_1725912144-iPhone_16_Pro.jpg)
Peningkatan tajam biaya kepemilikan gawai pintar dan dorongan keberlanjutan lingkungan mendorong konsumen global untuk mempertimbangkan kembali pembelian model iPhone terbaru, dengan proyeksi kuat bahwa sejumlah model "jadul" Apple masih akan menawarkan nilai signifikan dan fungsionalitas memadai hingga tahun 2026. Fenomena ini, yang diamati oleh analis industri dan pakar teknologi, mengindikasikan pergeseran perilaku konsumen menuju perangkat yang teruji waktu dan lebih berkelanjutan, melampaui siklus pembaruan tahunan yang didorong produsen.
Secara historis, Apple dikenal dengan dukungan perangkat lunak yang relatif panjang untuk produk-produknya, seringkali melampaui lima hingga enam tahun untuk pembaruan iOS besar, sebuah praktik yang memberikan keunggulan kompetitif dibandingkan banyak pesaing Android. Kebijakan ini secara fundamental mengubah persepsi nilai jangka panjang sebuah iPhone, memungkinkan model yang dirilis beberapa tahun lalu untuk tetap relevan dan aman. Misalnya, iPhone 8, yang dirilis pada tahun 2017, masih menerima pembaruan keamanan penting hingga tahun 2023, menunjukkan komitmen Apple terhadap dukungan pascapenjualan. Model-model seperti iPhone SE generasi ketiga (2022), iPhone 12 (2020), dan bahkan iPhone 13 mini (2021) diperkirakan akan menjadi pilihan yang menarik pada tahun 2026.
iPhone SE generasi ketiga, yang ditenagai oleh chip A15 Bionic yang sama dengan seri iPhone 13, menonjol sebagai kandidat kuat untuk relevansi jangka panjang. Chipset A15 Bionic ini, yang dirancang dengan arsitektur 5-nanometer, masih menawarkan performa yang lebih dari cukup untuk sebagian besar aplikasi modern, gim berat, dan tugas multitasking yang intensif hingga beberapa tahun ke depan. Dengan harga yang cenderung lebih terjangkau di pasar sekunder, perangkat ini menyediakan akses ke ekosistem iOS, pembaruan keamanan, dan fitur-fitur inti Apple dengan investasi awal yang minimal. Kemampuan 5G-nya juga memastikan konektivitas yang relevan di tengah pengembangan infrastruktur jaringan global.
Demikian pula, seri iPhone 12, yang diluncurkan pada akhir 2020 dengan chip A14 Bionic, diproyeksikan masih akan menerima pembaruan iOS hingga setidaknya akhir tahun 2026 atau awal 2027. Perangkat ini memperkenalkan desain kotak yang ikonik, layar OLED untuk semua model, dan konektivitas 5G, menjadikannya standar emas untuk pengalaman iPhone modern pada masanya. Ketersediaannya yang melimpah di pasar perangkat bekas dan rekondisi menawarkan peluang bagi konsumen untuk mendapatkan perangkat dengan kamera yang sangat mumpuni, performa yang solid, dan dukungan perangkat lunak yang berkelanjutan dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan model baru.
Sementara itu, iPhone 13 mini, meskipun penjualannya dihentikan, tetap menjadi pilihan unik bagi mereka yang mencari perangkat ringkas tanpa mengorbankan performa. Ditenagai oleh chip A15 Bionic, iPhone 13 mini berbagi keunggulan performa dengan iPhone SE generasi ketiga dan seri iPhone 13 lainnya. Ukurannya yang kecil, desain premium, dan sistem kamera ganda yang canggih menjadikannya pilihan menarik bagi penggemar perangkat berukuran saku. Meskipun ukurannya mungkin tidak cocok untuk semua orang, daya tahannya dalam hal performa dan pembaruan perangkat lunak akan tetap kuat hingga 2026, terutama bagi pengguna yang memprioritaskan portabilitas.
"Penting untuk memahami bahwa evolusi kinerja chipset smartphone telah melambat," kata Dr. Anya Sharma, seorang analis teknologi senior di firma riset Gartner. "Chip A15 Bionic dari Apple masih berada di garis depan kemampuan komputasi seluler. Untuk sebagian besar pengguna, perbedaan performa antara chip tiga atau empat generasi lalu dan chip terbaru hampir tidak dapat dibedakan dalam penggunaan sehari-hari, terutama untuk tugas-tugas seperti penelusuran web, media sosial, dan bahkan pengeditan foto atau video ringan."
Keputusan untuk membeli iPhone yang lebih tua juga memiliki implikasi lingkungan yang signifikan. Dengan memperpanjang siklus hidup perangkat elektronik, konsumen berkontribusi pada pengurangan limbah elektronik global dan permintaan akan sumber daya baru. Inisiatif seperti program tukar tambah Apple dan pasar perangkat rekondisi yang berkembang menunjukkan adanya ekosistem yang mendukung penggunaan kembali perangkat. Pada tahun 2026, dengan tekanan yang meningkat untuk keberlanjutan, pilihan ini diperkirakan akan menjadi semakin populer, mencerminkan pergeseran nilai konsumen yang lebih luas. Tren ini diperkuat oleh inflasi yang terus-menerus dan ketidakpastian ekonomi, yang membuat investasi pada perangkat baru yang mahal menjadi kurang menarik.
Pasar iPhone bekas dan rekondisi, yang diestimasi mencapai miliaran dolar secara global, terus tumbuh, didorong oleh permintaan akan pilihan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan. Perusahaan seperti Apple sendiri, serta pihak ketiga bersertifikat, menawarkan perangkat rekondisi yang telah diuji secara ketat, seringkali dengan garansi, memberikan kepercayaan tambahan bagi pembeli. Ini bukan hanya tentang penghematan biaya, melainkan tentang investasi yang cerdas dalam teknologi yang terbukti mampu bertahan.