Fenomena angin kencang yang meningkat intensitasnya di berbagai wilayah Indonesia, dipicu oleh dinamika atmosfer regional dan puncak musim hujan, menghadirkan ancaman serius bagi keselamatan berkendara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa periode Desember 2025 merupakan puncak musim hujan di wilayah barat Indonesia, dengan kombinasi hujan lebat, awan konvektif, dan perbedaan tekanan udara yang memicu kecepatan angin hingga 30 knot di lapisan atmosfer bawah Jabodetabek. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan pohon tumbang dan gangguan aktivitas nelayan, tetapi juga secara signifikan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas bagi pengendara kendaraan roda dua maupun roda empat.
Data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menunjukkan bahwa cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan. Pada tahun 2023, meskipun mayoritas kecelakaan terjadi saat cuaca cerah, terdapat 2.287 kasus kecelakaan yang secara spesifik disebabkan oleh angin kencang. Angka ini, meski tampak kecil dibandingkan total kasus, merepresentasikan potensi bahaya yang spesifik dan seringkali diremehkan. Departemen Transportasi AS bahkan menyatakan sekitar 21% kecelakaan mobil berhubungan dengan cuaca. Angin kencang menimbulkan ancaman signifikan, terutama di jalan raya terbuka, jembatan, dan jalan pedesaan, di mana hembusan angin yang kuat dapat mendorong kendaraan keluar jalur, mengurangi kontrol kemudi, dan bahkan menyebabkan kendaraan berprofil tinggi seperti truk dan SUV terguling. Pengendara sepeda motor bahkan lebih rentan karena stabilitasnya yang rendah.
Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, menjelaskan bahwa angin kencang belakangan ini juga tak lepas dari dinamika atmosfer regional dan potensi siklon tropis, seperti Siklon Tropis Bakung di Samudra Hindia yang memengaruhi pergerakan angin dan hujan di sekitarnya. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menambahkan bahwa mulai November 2025, wilayah selatan Indonesia telah memasuki periode aktifnya siklon tropis yang berpotensi memengaruhi pola cuaca nasional, membawa angin kencang, hujan deras, dan badai besar. Peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, bahkan memproyeksikan Sumatra, khususnya Sumatra Utara dan Riau, menjadi wilayah paling rentan terhadap hujan dan angin ekstrem hingga 2040, diperburuk oleh alih fungsi lahan. Implikasi jangka panjang dari perubahan iklim global, dengan laut yang semakin hangat menjadi "bahan bakar" utama bagi badai tropis, menunjukkan bahwa intensitas cuaca ekstrem, termasuk angin kencang, kemungkinan akan terus meningkat di masa depan.
Menghadapi realitas ini, sejumlah langkah preventif dan responsif krusial wajib diterapkan pengendara. Berikut adalah tips berkendara aman saat angin kencang:
Pertama, pantau kondisi cuaca secara aktual sebelum memulai perjalanan. Manfaatkan aplikasi cuaca atau informasi dari BMKG. Jika ada potensi angin kencang atau cuaca ekstrem, tunda perjalanan bila memungkinkan. Pemilihan waktu yang aman adalah kunci utama.
Kedua, kurangi kecepatan kendaraan secara signifikan. Saat angin kencang, terutama disertai hujan deras, disarankan menurunkan kecepatan hingga sekitar 20 persen atau berkendara di kisaran 20-30 km/jam untuk menjaga kendali. Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant, menekankan pentingnya kecepatan ideal yang sesuai dengan aturan dan rambu lalu lintas di jalan tol, mengingat kecepatan terlalu tinggi dapat memperparah dampak hembusan angin. Angin samping (crosswind) bisa membuat kendaraan bergeser dan kehilangan kendali, sehingga mengurangi kecepatan dan memegang kemudi dengan kuat sangat penting.
Ketiga, fokus dan waspada penuh pada kondisi jalan dan lingkungan sekitar. Hindari distraksi seperti bermain ponsel. Perhatikan potensi objek tumbang seperti pohon, papan reklame, atau tiang listrik. Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menyoroti insiden mobil tertimpa pohon tumbang di Pondok Indah pada Oktober 2025 yang menewaskan satu orang, sebagai pengingat akan bahaya ini. Jangan menyalip atau melaju cepat di ruas terbuka seperti jembatan atau jalan tol yang tidak memiliki pelindung angin, karena hembusan angin akan terasa lebih kuat.
Keempat, jaga jarak aman dengan kendaraan lain. Ini memberikan ruang reaksi yang cukup untuk mengantisipasi pengereman mendadak atau manuver tak terduga dari pengguna jalan lain yang mungkin juga terpengaruh angin kencang.
Kelima, periksa kondisi kendaraan secara menyeluruh. Pastikan ban, rem, wiper, lampu, dan sistem kelistrikan berfungsi optimal. Tekanan angin ban yang sesuai rekomendasi sangat penting karena memengaruhi efisiensi pengereman dan stabilitas kendaraan. Untuk kendaraan besar seperti truk, sistem rem angin yang berfungsi baik menjadi krusial dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Terakhir, jika kondisi angin kencang sangat ekstrem dan kendaraan sulit dikendalikan, menepilah di tempat yang aman. Jauhi pohon besar, tiang listrik, atau struktur lain yang rawan roboh. Nyalakan lampu hazard sebagai tanda peringatan bagi pengendara lain. Keputusan ini bisa menyelamatkan nyawa dan mencegah risiko yang lebih besar. Bagi pengendara sepeda motor, Agus Sani, Head Of Safety Riding PT Wahana Makmur Sejati (WMS), menyarankan pengaturan posisi berkendara yang tepat untuk menembus angin kencang dengan lebih aman. Selain itu, hindari berteduh di bawah pohon atau bangunan semi-permanen.
Kesiapsiagaan masyarakat dan pemahaman mendalam tentang risiko angin kencang merupakan fondasi keselamatan. Dengan semakin seringnya fenomena cuaca ekstrem di Indonesia, beradaptasi dan menerapkan tips berkendara aman adalah investasi vital untuk mengurangi fatalitas di jalan raya.