
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria secara terbuka mengapresiasi upaya cepat TelkomGroup dalam memulihkan jaringan telekomunikasi di Kabupaten Aceh Tamiang pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut baru-baru ini. Apresiasi ini disampaikan Nezar Patria saat meninjau Sentral Telepon Otomat (STO) Kuala Simpang dan sejumlah fasilitas vital seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang pada Rabu, 24 Desember 2025, menegaskan kembali peran krusial konektivitas dalam pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat pascabencana.
Gangguan jaringan telekomunikasi di Aceh Tamiang dipicu oleh dampak bencana hidrometeorologi, dengan sebagian besar (423 dari 475 site) disebabkan oleh gangguan pasokan listrik dan kerusakan infrastruktur akibat genangan air dan lumpur, serta akses menuju lokasi yang sempat terisolasi. Meskipun pada pertengahan Desember 2025, Komdigi mencatat bahwa Aceh Tamiang, bersama Bener Meriah dan Gayo Lues, masih memiliki tingkat pemulihan di bawah 50 persen dari total 3.414 menara BTS yang terdampak di Aceh, upaya intensif TelkomGroup berhasil meningkatkan pemulihan di Aceh Tamiang hingga lebih dari 80 persen. TelkomGroup menargetkan 90 persen jaringan di Aceh Tamiang akan pulih sepenuhnya pada 27 Desember 2025.
Nezar Patria menekankan bahwa pemulihan jaringan telekomunikasi bukan sekadar soal konektivitas teknis, melainkan fondasi penting bagi kebangkitan ekonomi lokal. "Dengan jaringan mulai kembali normal, aktivitas di pasar mulai tumbuh, masyarakat kembali beraktivitas, dan semangat warga pun bangkit," ujar Nezar Patria. Untuk mengatasi kendala utama berupa keterbatasan pasokan listrik, TelkomGroup telah mengerahkan sekitar 100 unit genset dan 500 unit telepon seluler ke titik-titik yang membutuhkan di Aceh Tamiang. Selain itu, TelkomGroup juga memanfaatkan konektivitas berbasis satelit sebagai solusi darurat dan menyalurkan bantuan kemanusiaan seperti posko layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, dan sumur bor. Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyoroti dedikasi tim teknis yang menembus banjir dan lumpur, membawa genset dan baterai demi memastikan layanan tetap pulih.
Peristiwa di Aceh Tamiang ini bukan insiden tunggal dalam sejarah gangguan telekomunikasi di wilayah tersebut. Sebelumnya, pada Agustus 2025, jaringan internet dan telepon di Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, juga terganggu akibat putusnya kabel induk oleh alat berat saat pengerjaan parit gajah, menyoroti kerentanan infrastruktur terhadap aktivitas eksternal dan kebutuhan koordinasi yang lebih baik dalam pembangunan. Secara lebih luas, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital telah memprioritaskan pembangunan infrastruktur digital di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) dengan program seperti Palapa Ring dan pembangunan BTS 4G, guna mengatasi kesenjangan digital yang masih mencapai 5-10 persen dari populasi nasional pada 2024.
Implikasi dari respons cepat TelkomGroup di Aceh Tamiang melampaui pemulihan layanan semata. Ini menjadi demonstrasi konkret pentingnya kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah dalam menghadapi krisis, serta memperkuat resiliensi infrastruktur digital nasional. Dalam konteks visi transformasi digital Indonesia, kemampuan untuk memulihkan konektivitas secara sigap di daerah bencana adalah prasyarat fundamental untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar, memastikan akses layanan dasar seperti kesehatan, dan mencegah isolasi informasi bagi masyarakat. Ke depan, tantangan akan terus meliputi mitigasi risiko bencana, penguatan pasokan listrik alternatif, serta pemerataan dan pemeliharaan infrastruktur yang berkelanjutan di wilayah-wilayah rawan, mengingat peran vital telekomunikasi sebagai kebutuhan primer masyarakat.