Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Komdigi Jamin Komunikasi Gratis Korban Banjir Sumatera

2025-12-23 | 04:08 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T21:08:21Z
Ruang Iklan

Komdigi Jamin Komunikasi Gratis Korban Banjir Sumatera

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi) telah mengaktifkan layanan telekomunikasi gratis bagi ribuan korban banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dalam beberapa pekan terakhir, sebuah langkah krusial untuk memastikan konektivitas darurat di tengah lumpuhnya infrastruktur. Inisiatif ini menargetkan area-area yang paling parah terdampak, di mana jaringan komunikasi seluler dan internet seringkali terputus akibat genangan air dan kerusakan fisik. Layanan ini mencakup penyediaan titik akses Wi-Fi gratis, bantuan pulsa, dan layanan panggilan darurat, memastikan masyarakat dapat berkomunikasi dengan keluarga, melaporkan kondisi, serta mengakses informasi penting dari otoritas setempat.

Kebijakan ini diambil menyusul serangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi sejak akhir November hingga pertengahan Desember 2025 di beberapa provinsi Sumatera, termasuk Sumatera Barat, Jambi, dan Sumatera Selatan, yang telah merendam ribuan rumah dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Kondisi geografis Sumatera yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi, diperparah dengan curah hujan ekstrem, secara historis memang kerap menyebabkan gangguan signifikan pada infrastruktur vital, termasuk jaringan telekomunikasi. Pada bencana serupa tahun-tahun sebelumnya, keterputusan komunikasi menjadi kendala besar dalam upaya tanggap darurat dan penyaluran bantuan. Misalnya, pada banjir besar di awal 2024, laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa kesulitan komunikasi menghambat koordinasi tim penyelamat dan penyebaran informasi kepada warga terdampak.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kementerian Kominfo, Wayan Toni Supriyanto, menyatakan bahwa langkah proaktif ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk hadir di tengah kesulitan masyarakat, khususnya dalam aspek komunikasi yang vital saat krisis. "Kami telah mengkoordinasikan dengan operator telekomunikasi untuk segera memulihkan jaringan di area terdampak dan menyediakan akses komunikasi gratis sebagai bagian dari layanan publik esensial. Ini bukan sekadar bantuan, tetapi juga memastikan hak fundamental warga untuk terhubung terpenuhi di masa darurat," ujar Supriyanto dalam keterangan pers yang dirilis pada 18 Desember 2025. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi komunikasi sebagai bagian tak terpisahkan dari manajemen bencana.

Respons Komdigi ini juga melibatkan pengerahan Mobile Combat Car (MCC) dan penyediaan generator set untuk menyuplai listrik ke menara BTS (Base Transceiver Station) yang mengalami pemadaman, sebuah strategi yang telah terbukti efektif dalam memulihkan konektivitas di daerah terpencil atau terdampak bencana. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa sekitar 15% dari total menara BTS di wilayah terdampak mengalami gangguan signifikan pada puncak bencana. Analis telekomunikasi dari Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada, Dr. Budi Santoso, menilai inisiatif ini sebagai langkah positif yang menunjukkan adaptasi pemerintah terhadap dinamika bencana modern. "Di era digital, telekomunikasi bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar. Memastikan akses gratis di masa bencana membantu mengurangi kepanikan, memfasilitasi koordinasi, dan mempercepat pemulihan psikologis korban," jelas Dr. Santoso.

Namun, tantangan ke depan tetap besar. Selain pemulihan fisik infrastruktur, Komdigi dan operator telekomunikasi perlu terus berinvestasi dalam sistem yang lebih tangguh (resilient) dan tahan bencana, seperti penggunaan energi terbarukan mandiri untuk BTS atau penggelaran jaringan serat optik bawah tanah yang lebih tahan terhadap banjir. Insiden banjir berulang di Sumatera juga menyoroti kebutuhan akan kebijakan mitigasi bencana yang lebih komprehensif, tidak hanya reaktif. Upaya seperti ini, meskipun bersifat sementara, memberikan dasar penting untuk merumuskan strategi jangka panjang dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin meningkat akibat perubahan iklim, memastikan bahwa konektivitas esensial tetap terjaga bahkan dalam situasi paling ekstrem sekalipun.