:strip_icc()/kly-media-production/medias/3047100/original/045494200_1581405762-cpu-4393385_1920.jpg)
Gelombang investasi besar-besaran dalam kecerdasan buatan (AI) telah memicu kelangkaan akut chip memori global, sebuah situasi yang dikhawatirkan akan berdampak langsung pada kenaikan harga berbagai perangkat elektronik konsumen, termasuk ponsel pintar. Permintaan yang melonjak dari sektor AI, pusat data, dan infrastruktur server berkecepatan tinggi, khususnya untuk High-Bandwidth Memory (HBM) dan Graphics Processing Unit (GPU), membuat produsen chip kesulitan mengimbangi kebutuhan pasar.
Lembaga riset pasar semikonduktor mencatat bahwa beban produksi meningkat signifikan sejak pertengahan tahun 2025, terutama setelah perusahaan teknologi besar memperluas investasi pada model AI generatif. Komponen vital seperti HBM, yang merupakan tumpukan beberapa chip DRAM dan menjadi kunci dalam chip AI seperti Nvidia, kini menjadi rebutan sengit di antara raksasa teknologi dunia seperti Microsoft, Google, dan ByteDance. Prioritas produksi HBM ini telah menguras kapasitas manufaktur untuk memori konvensional (DRAM dan NAND flash) yang digunakan pada ponsel, PC, dan perangkat rumahan.
Akibatnya, harga berbagai segmen memori dilaporkan telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak Februari 2025. Data dari firma riset TrendForce menunjukkan bahwa stok DRAM, memori utama untuk komputer dan ponsel, telah menyusut drastis dari level 13-17 minggu pada akhir 2024 menjadi hanya dua hingga empat minggu pada Oktober 2025, menandakan pasokan yang mengering dengan cepat.
Situasi ini mendorong para analis untuk memperingatkan potensi kenaikan harga perangkat elektronik konsumen. Peter Hanbury dari perusahaan konsultan Bain & Company menyatakan bahwa permintaan AI yang pesat di pusat data memicu kemacetan di banyak area pasokan. Direktur Riset di Counterpoint Research, MS Hwang, menambahkan bahwa DRAM jelas menjadi hambatan karena investasi AI terus memenuhi ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan.
Beberapa produsen ponsel sudah mulai merasakan dampaknya. CEO Alibaba, Eddie Wu, menyebut bahwa perusahaannya menghadapi kekurangan pasokan chip memori dan perangkat penyimpanan. Produsen ponsel China seperti Xiaomi dan Realme bahkan telah memperingatkan kemungkinan kenaikan harga ponsel sebesar 20-30% pada pertengahan 2026 akibat lonjakan harga komponen memori yang belum pernah terjadi sebelumnya. Samsung juga dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menaikkan harga di hampir seluruh lini produknya, termasuk ponsel, karena kelangkaan stok memori.
Selain chip memori, harga chipset flagship seperti Snapdragon 8 Gen 4 dan MediaTek Dimensity 9400 juga diperkirakan akan lebih mahal sekitar 20% dibandingkan pendahulunya. Hal ini disebabkan oleh biaya proses manufaktur 3nm yang lebih tinggi dari TSMC, produsen semikonduktor terbesar di dunia. Secara keseluruhan, laporan lembaga riset pasar memprediksi potensi kenaikan harga smartphone global berada di kisaran 8-18% sepanjang 2025, dengan angka yang bisa lebih tinggi untuk produk impor di beberapa negara.
Para eksekutif industri memperingatkan bahwa krisis ini bisa berlangsung lama. SK Hynix memproyeksikan kelangkaan memori hingga akhir 2027, dengan kapasitas pabrik baru untuk chip konvensional diperkirakan baru akan beroperasi pada 2027-2028. Krisis memori kini tidak lagi hanya dianggap sebagai masalah komponen, melainkan risiko makroekonomi yang berpotensi menghambat pembangunan infrastruktur AI skala besar dan mendorong inflasi di banyak negara.