:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5185523/original/039873900_1744437444-IMG_9782.jpeg)
Peningkatan animo masyarakat Indonesia terhadap penggunaan kendaraan listrik sebagai moda transportasi liburan Nataru 2024/2025 menuntut perencanaan matang guna memastikan efisiensi biaya dan kelancaran perjalanan, mengingat infrastruktur pengisian daya masih dalam tahap pengembangan signifikan. Sejumlah strategi perlu diterapkan untuk mengoptimalkan penggunaan daya baterai, menavigasi ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), dan memitigasi potensi antrean panjang yang dapat mengganggu jadwal perjalanan. Tantangan utama saat ini adalah disparitas persebaran SPKLU di jalur-jalur mudik utama dibandingkan dengan kebutuhan aktual pengemudi mobil listrik yang terus bertumbuh, di mana menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan tren positif, mencapai lebih dari 17.000 unit hingga Oktober 2024, didominasi oleh segmen mobil penumpang.
Konteks historis menunjukkan bahwa pertumbuhan SPKLU di Indonesia telah pesat dalam tiga tahun terakhir. PT PLN (Persero) melaporkan bahwa jumlah SPKLU yang beroperasi pada Oktober 2024 telah mencapai 1.258 unit di 658 lokasi seluruh Indonesia, meningkat signifikan dari hanya puluhan unit pada awal 2020. Namun, konsentrasi SPKLU masih terkumpul di kota-kota besar dan sepanjang jalur tol utama Pulau Jawa, menyisakan celah di wilayah-wilayah lain. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan komitmen perusahaan untuk terus mempercepat pembangunan infrastruktur pengisian daya. "Kami akan terus memperluas jangkauan SPKLU hingga ke pelosok negeri, memastikan transisi energi yang mulus bagi masyarakat," kata Darmawan beberapa waktu lalu. Pernyataan ini menegaskan visi jangka panjang, namun bagi pengguna mobil listrik saat Nataru ini, perencanaan rute dan titik pengisian yang cermat adalah krusial.
Untuk meminimalisir pengeluaran dan memastikan kelancaran, pengemudi mobil listrik dianjurkan untuk memaksimalkan pengisian daya di rumah sebelum keberangkatan. Tarif listrik rumah tangga untuk pengisian mobil listrik jauh lebih kompetitif dibandingkan tarif SPKLU publik, yang umumnya menggunakan tarif komersial. Mengisi daya baterai hingga 100% sebelum memulai perjalanan panjang dapat memperpanjang jangkauan jelajah dan mengurangi frekuensi berhenti di SPKLU. Selain itu, optimalisasi gaya mengemudi, seperti menjaga kecepatan konstan dan menghindari akselerasi serta deselerasi mendadak, dapat meningkatkan efisiensi energi. Penurunan kecepatan rata-rata dari 100 km/jam menjadi 80 km/jam pada jalan tol dapat menghemat konsumsi daya hingga 15-20%, tergantung model kendaraan.
Implikasi dari keterbatasan SPKLU, terutama saat puncak liburan, adalah potensi antrean panjang dan waktu tunggu yang tidak terduga, yang dapat mengacaukan jadwal perjalanan. Pengguna disarankan untuk memanfaatkan aplikasi peta yang terintegrasi dengan data SPKLU real-time, seperti aplikasi Charge.IN milik PLN atau platform navigasi lainnya yang mulai menyediakan informasi serupa. Mengecek status ketersediaan dan jenis konektor pengisian daya (AC atau DC fast charging) di setiap SPKLU menjadi langkah proaktif. Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Kendaraan Listrik Indonesia (AILKI), Made Dana Tangkas, menyarankan pengemudi untuk mempertimbangkan waktu perjalanan di luar jam-jam puncak. "Hindari perjalanan atau pengisian di SPKLU pada jam-jam sibuk seperti pagi hari atau sore hari saat orang banyak bepergian atau kembali," ujarnya. Hal ini dapat mengurangi risiko tertunda akibat antrean.
Di masa depan, pemerintah dan pihak swasta diharapkan terus berkolaborasi untuk mempercepat pemerataan dan peningkatan kualitas SPKLU. Target pemerintah untuk mencapai 1.000 unit SPKLU pada tahun 2024 dan 3.000 unit pada tahun 2025 menunjukkan komitmen serius. Namun, untuk Nataru tahun ini, kesiapan individu menjadi faktor penentu. Pengemudi juga harus mempertimbangkan kondisi kendaraan, termasuk tekanan ban yang tepat, karena ban yang kempes dapat meningkatkan hambatan gelinding dan mengurangi efisiensi baterai hingga 5-10%. Membawa adaptor pengisian portabel untuk situasi darurat, meskipun pengisiannya lebih lambat, dapat menjadi cadangan yang berharga ketika SPKLU sulit dijangkau. Persiapan yang matang, informasi yang akurat, dan gaya mengemudi yang bijaksana akan menjadi kunci pengalaman liburan Nataru yang hemat dan lancar menggunakan mobil listrik.