Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Lisa Jackson Bongkar Tantangan Lingkungan Terberat Apple Jelang Target 2030

2025-12-13 | 17:56 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-13T10:56:12Z
Ruang Iklan

Lisa Jackson Bongkar Tantangan Lingkungan Terberat Apple Jelang Target 2030

Apple, salah satu raksasa teknologi terbesar di dunia, semakin mendekati tenggat waktu ambisius tahun 2030 untuk mencapai netralitas karbon di seluruh jejak globalnya. Lisa Jackson, Wakil Presiden Lingkungan, Kebijakan, dan Inisiatif Sosial Apple, telah mengidentifikasi tantangan terbesar dalam perjalanan ini, lima tahun menjelang target.

Tujuan utama Apple 2030 adalah menjadi netral karbon di seluruh bisnisnya, termasuk rantai pasokan manufaktur dan siklus hidup produk. Ini berarti mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 75% dibandingkan dengan tingkat tahun 2015, dengan 25% sisanya ditangani melalui proyek penghilangan karbon berkualitas tinggi. Perusahaan ini telah mencapai pengurangan lebih dari 60% dalam emisi gas rumah kaca globalnya dibandingkan tingkat 2015.

Menurut Jackson, salah satu rintangan signifikan adalah mengubah pola pikir konsumen dan industri tentang keberlanjutan. Seringkali ada anggapan bahwa praktik berkelanjutan memerlukan pengorbanan atau biaya lebih tinggi, dan bahwa bahan daur ulang "kurang" atau tidak premium dibandingkan bahan baru. Apple berupaya menunjukkan bahwa produk yang dibuat dengan bahan daur ulang dapat tetap berkualitas tinggi, fungsional, dan tahan lama seperti yang diharapkan konsumen.

Tantangan besar lainnya terletak pada kompleksitas rantai pasokan global Apple. Sebagian besar jejak karbon Apple, sekitar dua pertiganya, berasal dari produksi produknya. Untuk mengatasi ini, Apple sangat bergantung pada Program Energi Bersih Pemasoknya, yang mendorong pemasok untuk beralih ke 100% energi terbarukan untuk produksi terkait Apple pada tahun 2030. Hingga saat ini, lebih dari 300 pemasok global telah berkomitmen pada program ini, dengan hampir 18 gigawatt energi terbarukan daring pada tahun 2024, menghindari hampir 22 juta metrik ton emisi gas rumah kaca.

Selain itu, Apple berfokus pada desain produk dengan bahan daur ulang dan terbarukan. Pada tahun 2024, 24% bahan yang dikirim dalam produk Apple berasal dari sumber daur ulang atau terbarukan. Contoh signifikan termasuk penggunaan 99% elemen tanah jarang daur ulang di semua magnet dan 99% kobalt daur ulang di semua baterai yang dirancang Apple. Perusahaan ini bertujuan untuk suatu hari mengakhiri ketergantungan pada penambangan. Inovasi dalam teknologi daur ulang, seperti robot Daisy yang membongkar iPhone untuk memulihkan bahan berharga, juga menjadi kunci. Apple juga berjanji untuk tidak lagi menggunakan kobalt baru dalam produksi baterainya pada tahun 2025, dan akan sepenuhnya mengandalkan kobalt daur ulang pada tahun 2030.

Apple juga menghadapi tantangan dalam transparansi emisi Lingkup 3, yaitu emisi yang terkait dengan penggunaan produk oleh pelanggan dan akhir masa pakainya. Meskipun fasilitas korporat, toko ritel, dan pusat datanya telah beralih ke 100% energi terbarukan sejak 2018, emisi dari penggunaan produk oleh pelanggan merupakan area fokus berikutnya. Apple berencana untuk mencocokkan 100% penggunaan listrik pelanggan yang diharapkan untuk produk Apple dengan listrik bersih.

Lisa Jackson menekankan bahwa Apple memandang tantangan lingkungan sebagai "kendala" yang memicu inovasi di antara para insinyurnya. Perusahaan ini ingin menjadi "pelopor" dan mendorong perubahan di seluruh industri, tidak hanya dalam operasinya sendiri tetapi juga melalui rantai pasokannya yang luas. Komitmen Apple terhadap keberlanjutan melampaui operasinya sendiri, termasuk masa pakai setiap perangkat yang dijualnya, dengan tujuan menjadi contoh bagi industri lain.