Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Maksimalkan Daya Tahan Baterai Kendaraan Listrik: 5 Panduan Esensial

2025-12-30 | 15:12 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-30T08:12:47Z
Ruang Iklan

Maksimalkan Daya Tahan Baterai Kendaraan Listrik: 5 Panduan Esensial

Gelombang adopsi kendaraan listrik (EV) global meningkat pesat, namun kekhawatiran mengenai masa pakai baterai, komponen termahal dan vital, tetap menjadi perhatian utama konsumen. Studi menunjukkan bahwa degradasi baterai, yang secara signifikan mempengaruhi jarak tempuh dan efisiensi, dapat diperlambat melalui praktik perawatan yang tepat. Perusahaan riset independen Which? menemukan rata-rata kapasitas baterai mobil listrik hanya berkurang sekitar 7 persen dalam tujuh tahun pertama penggunaan, sementara studi Geotab terhadap lebih dari 10.000 EV menunjukkan degradasi rata-rata 1,8% per tahun, mengindikasikan masa pakai hingga 20 tahun dengan kapasitas tersisa 64% jika tidak ada kegagalan besar. Perusahaan broker mobil bekas Swedia, Kvdbil, dalam analisis terhadap 1.366 unit kendaraan, juga menemukan bahwa delapan dari 10 EV bekas masih memiliki tingkat kesehatan baterai (State of Health/SoH) di atas 90 persen dari kondisi normal. Manajer Pengujian Kvdbil, Martin Reinholdsson, menekankan bahwa pola penggunaan, usia, iklim, gaya mengemudi, dan kebiasaan pengisian daya berperan besar dalam keausan baterai.

Berikut lima cara esensial untuk menjaga baterai kendaraan listrik agar tetap awet:

1. Optimalkan Tingkat Pengisian Daya Harian: Mengisi daya baterai hingga 100% secara rutin, atau membiarkannya kosong hingga 0%, dapat mempercepat degradasi sel baterai lithium-ion. Para ahli dan produsen menyarankan untuk menjaga level pengisian daya harian antara 20-30% hingga 80-90% guna memperpanjang umur baterai. "Idealnya, baterai harus diisi hingga sekitar 80-90% untuk memperpanjang umur baterai. Pengisian hingga 100% terus-menerus dapat mempengaruhi siklus hidup baterai," jelas salah satu sumber. Pengisian penuh hanya disarankan saat benar-benar dibutuhkan untuk perjalanan jarak jauh.

2. Minimalkan Penggunaan Pengisian Cepat (Fast Charging): Meskipun praktis, penggunaan fast charging, terutama arus searah (DC) berdaya tinggi (50 kW hingga 350 kW), secara konsisten menghasilkan panas berlebih pada baterai. Suhu ekstrem ini menjadi pemicu degradasi kimiawi pada sel baterai lithium-ion, mengurangi kapasitas dan masa pakai. Studi menunjukkan suhu baterai melebihi 40°C selama pengisian cepat dapat mempercepat tingkat degradasi hingga 40% dibandingkan pengisian standar. Uri, Technical Product Knowledge dari Akademi Pelatihan Hyundai, mengakui bahwa pengisian daya cepat yang berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan antar sel, yang berdampak pada kinerja baterai yang tidak efisien. Disarankan untuk sesekali menggunakan metode slow charging guna membantu keseimbangan sel-sel baterai.

3. Jaga Suhu Baterai dalam Batas Optimal: Baterai lithium-ion sangat sensitif terhadap suhu ekstrem, baik panas maupun dingin. Suhu panas dapat mempercepat reaksi kimia di dalam baterai, menyebabkan degradasi dan mengurangi umur pakainya. Studi dari Recurrent menunjukkan bahwa beberapa mobil listrik kehilangan daya tempuh hingga 31 persen ketika berada di suhu lebih dari 37 derajat celcius. Sebaliknya, suhu rendah dapat mengurangi kapasitas baterai hingga 20-40%. Oleh karena itu, parkir di tempat yang teduh atau terlindungi dari sinar matahari langsung sangat dianjurkan. Sistem pendingin baterai pada kendaraan modern membantu menjaga suhu, namun pemilik tetap perlu proaktif.

4. Adopsi Gaya Mengemudi yang Halus: Akselerasi dan pengereman agresif memberikan beban kerja berlebih pada baterai, yang dapat mempercepat keausan. Mengemudi dengan halus dan memanfaatkan teknologi rem regeneratif, yang mengubah energi pengereman menjadi listrik untuk mengisi ulang baterai, dapat membantu menghemat energi dan memperpanjang usia pakai. Mode berkendara ECO juga dirancang untuk menghemat konsumsi daya, mengurangi beban kerja baterai. "Mobil Listrik Sering Diajak Ngebut Bikin Baterai Cepat Soak? Begini Kata Ahli" mengindikasikan bahwa cara pemakaian mobil listrik juga akan berpengaruh pada keawetan baterai.

5. Lakukan Pemeliharaan Rutin dan Pembaruan Perangkat Lunak: Perawatan berkala, termasuk pemeriksaan kondisi baterai oleh teknisi berlisensi, sangat penting untuk mendeteksi dini masalah seperti overheat atau penurunan kapasitas. Kendaraan listrik modern dilengkapi dengan Battery Management System (BMS) canggih yang memantau tegangan, arus, suhu, dan kapasitas baterai, serta mencegah overcharge dan over-discharge. Pembaruan perangkat lunak (software update) pada mobil listrik juga krusial karena tidak hanya meningkatkan fitur dan keamanan, tetapi juga mengoptimalkan efisiensi baterai dan sistem kelistrikan secara keseluruhan. Pembaruan ini bisa dilakukan secara nirkabel (Over The Air/OTA) atau melalui dealer resmi. "Tanpa pembaruan software, performa mobil bisa stagnan atau bahkan menurun," demikian pernyataan dari Media Lampung. Mengabaikan pembaruan ini berarti mengabaikan potensi peningkatan performa dan umur panjang baterai.

Memahami dan menerapkan kelima cara perawatan ini secara konsisten bukan hanya memperpanjang masa pakai baterai, tetapi juga berkontribusi pada efisiensi kendaraan dan mengurangi potensi biaya penggantian baterai yang mahal, yang saat ini dapat berkisar antara $5.000 hingga $20.000 atau bahkan mencapai ratusan juta rupiah di Indonesia tergantung model dan merek kendaraan. Meskipun demikian, biaya penggantian diperkirakan akan menurun dalam 5–10 tahun mendatang berkat bahan yang lebih murah dan desain yang lebih baik. Dengan demikian, perawatan proaktif adalah investasi jangka panjang bagi pemilik kendaraan listrik.