:strip_icc()/kly-media-production/medias/5407908/original/056215800_1762757535-samsung-s26-ultra.jpeg)
Samsung Electronics dilaporkan memutuskan untuk tidak melanjutkan pengembangan lini Galaxy S26 Edge, mengisyaratkan pergeseran strategis dari desain ponsel cerdas ultra-tipis yang telah menjadi ciri khas industri selama bertahun-tahun. Keputusan ini, menurut pernyataan internal perusahaan, didasari oleh analisis bahwa pasar untuk perangkat genggam yang sangat ramping semakin kurang menjanjikan secara komersial dan cenderung mengorbankan fungsionalitas utama yang kini lebih diminati konsumen.
Langkah ini menandai potensi titik balik bagi Samsung, produsen ponsel cerdas terbesar di dunia, yang sebelumnya dikenal sebagai pelopor desain "Edge" melengkung yang menekankan estetika ramping. Sejak peluncuran Galaxy Note Edge pada tahun 2014, diikuti oleh seri Galaxy S6 Edge dan seterusnya, layar melengkung dan profil tipis telah menjadi identitas premium. Namun, prioritas konsumen global telah bergeser. Data terbaru dari firma riset pasar Counterpoint Research menunjukkan bahwa daya tahan baterai, kualitas kamera, dan ketahanan perangkat kini menempati peringkat teratas dalam keputusan pembelian konsumen, seringkali di atas faktor ketipisan bodi.
Seorang eksekutif senior Samsung yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa upaya untuk mencapai desain yang lebih tipis seringkali menuntut kompromi signifikan pada kapasitas baterai, sistem pendingin, dan integrasi modul kamera yang lebih canggih. "Kami telah mengamati bahwa konsumen semakin memprioritaskan masa pakai baterai yang lebih lama dan performa kamera profesional, bahkan jika itu berarti ponsel sedikit lebih tebal," ujarnya. "Mengejar ketipisan ekstrem seringkali berarti mengorbankan inovasi di area tersebut atau menaikkan biaya produksi secara tidak proporsional dengan nilai yang dirasakan konsumen."
Tren pasar juga menunjukkan pertumbuhan segmen ponsel lipat yang, meskipun secara keseluruhan lebih tebal saat dilipat, menawarkan fungsionalitas layar yang jauh lebih besar dan fitur unik lainnya. Samsung sendiri telah memimpin kategori ini dengan seri Galaxy Z Fold dan Z Flip, yang mengindikasikan investasi besar perusahaan pada form factor alternatif daripada pengembangan garis desain "slab" tradisional yang semakin ramping. Analis industri dari IDC, Nabila Popal, menyoroti bahwa inovasi dalam beberapa tahun terakhir lebih condong ke arah pengalaman pengguna baru seperti lipat atau kemampuan AI yang disematkan, bukan sekadar pengurangan dimensi fisik. "Era 'ponsel tertipis di dunia' mungkin telah berlalu. Fokusnya kini pada apa yang bisa dilakukan ponsel, bukan hanya seberapa tipisnya," kata Popal.
Implikasi jangka panjang dari keputusan ini dapat membentuk ulang strategi desain Samsung untuk seri Galaxy S di masa mendatang. Alih-alih mengejar ketipisan minimal, perusahaan kemungkinan akan mengalokasikan sumber daya R&D untuk meningkatkan kapasitas baterai, menyematkan teknologi kamera yang lebih besar dan sensor-shift, serta meningkatkan sistem pendingin untuk mendukung chipset yang semakin bertenaga. Hal ini juga dapat membuka jalan bagi desain yang lebih ergonomis dengan fokus pada kenyamanan genggaman dan durabilitas, bahkan jika itu berarti sedikit peningkatan pada ketebalan keseluruhan perangkat. Pasar ponsel cerdas tampaknya memasuki fase di mana utilitas dan inovasi fungsional lebih diutamakan daripada sekadar estetika dimensi.