Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menguak Risiko Peninggi Shock Motor: Demi Keselamatan Berkendara Anda

2025-12-25 | 20:03 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-25T13:03:45Z
Ruang Iklan

Menguak Risiko Peninggi Shock Motor: Demi Keselamatan Berkendara Anda

Pemilik sepeda motor yang tergoda untuk memodifikasi ketinggian kendaraan mereka menggunakan peninggi shock breaker menghadapi risiko keselamatan serius, termasuk potensi kecelakaan fatal dan kerusakan struktural permanen, menurut ahli keselamatan dan teknisi otomotif. Praktik ini, meskipun populer di kalangan pengendara tertentu untuk tujuan estetika atau fungsionalitas semu, secara fundamental mengubah geometri desain pabrikan, yang berujung pada penurunan stabilitas dan kemampuan pengereman yang kritis.

Penggunaan peninggi shock breaker secara langsung memanipulasi posisi titik重心 (center of gravity) sepeda motor, mengangkatnya lebih tinggi dari spesifikasi asli. Perubahan ini secara signifikan mengurangi kestabilan kendaraan, terutama saat bermanuver di kecepatan tinggi atau saat melewati tikungan tajam. "Ketika titik重心 terlalu tinggi, motor menjadi lebih limbung dan sulit dikendalikan. Ini meningkatkan kemungkinan oleng atau terjatuh, terutama bagi pengendara yang tidak memahami dinamika kendaraan," jelas Dr. Ir. Wahyu Sudibyo, seorang pakar keselamatan berkendara dari Institut Teknologi Bandung. Dr. Wahyu menambahkan bahwa desain suspensi pabrikan telah melalui riset dan pengembangan ekstensif untuk memastikan keseimbangan optimal antara kenyamanan dan keselamatan.

Lebih jauh, pemasangan peninggi shock mengubah sudut rake dan trail pada garpu depan, elemen krusial yang mempengaruhi kemudi dan stabilitas jalur. Sudut rake yang lebih tegak dan trail yang lebih pendek dapat membuat kemudi menjadi terlalu responsif atau 'nervous', menyulitkan pengendara untuk mempertahankan jalur lurus, terutama di kecepatan tinggi. Sebaliknya, sudut rake yang lebih landai dapat membuat kemudi terasa berat dan lamban. Kedua kondisi tersebut membahayakan, menciptakan ketidakpastian yang dapat memicu kecelakaan. "Modifikasi ini juga menekan kinerja suspensi depan dan belakang, menyebabkan rebound yang tidak terkontrol atau malah terlalu kaku, mengurangi kemampuan peredaman guncangan secara efektif," kata Budi Santoso, seorang mekanik motor senior dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bengkel resmi Honda di Jakarta.

Dampak jangka panjang tidak terbatas pada bahaya kecelakaan. Komponen lain seperti swingarm, rantai, dan bahkan rangka motor mengalami tegangan yang tidak semestinya. Sudut kerja swingarm yang berubah secara drastis dapat menyebabkan keausan dini pada bushing dan bearing, mempercepat kerusakan komponen suspensi, dan bahkan memicu retaknya rangka karena beban yang tidak merata. "Kami sering menemukan kasus rangka retak di area dudukan shock absorber pada motor yang telah dimodifikasi peninggi. Biaya perbaikannya bisa sangat mahal, belum lagi risiko keamanan yang ditimbulkan," ungkap Budi Santoso. Selain itu, pabrikan seringkali membatalkan garansi resmi jika ditemukan adanya modifikasi signifikan pada sistem suspensi, meninggalkan pemilik dengan beban biaya perbaikan sepenuhnya.

Tren penggunaan peninggi shock breaker muncul dari keinginan sebagian pengendara untuk meningkatkan tampilan motor agar terlihat lebih "gagah" atau untuk mengatasi masalah mentok pada polisi tidur. Namun, solusi ini seringkali diabaikan tanpa pertimbangan teknis yang mendalam mengenai implikasi terhadap keselamatan dan durabilitas kendaraan. Opsi yang lebih aman dan direkomendasikan adalah mempertimbangkan peningkatan suspensi dengan komponen aftermarket yang dirancang khusus dan teruji, atau berkonsultasi dengan ahli untuk solusi yang tepat dan aman sesuai standar teknis. Prioritas utama tetap pada integritas desain kendaraan dan keselamatan pengendara serta pengguna jalan lainnya.