:strip_icc()/kly-media-production/medias/5455686/original/072242500_1766724069-BERITA_1732677230_ad2dc66de3c287d4c99265f2aaf9f6aa.jpg)
Pemilik sepeda motor matic di Indonesia menghadapi masalah umum berupa suara ‘ngelitik’ atau knocking dari area mesin, sebuah indikasi pre-ignition atau detonasi yang berpotensi mengurangi efisiensi pembakaran dan memperpendek usia komponen. Fenomena ini, yang sering diabaikan, dapat memicu kerusakan serius jika tidak ditangani secara proaktif.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa penyebab utama fenomena ‘ngelitik’ pada motor matic seringkali bermuara pada penggunaan bahan bakar dengan oktan yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan. Rata-rata motor matic modern membutuhkan bahan bakar beroktan tinggi untuk pembakaran optimal. Sebuah studi oleh pakar otomotif dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr. Eng. Ir. Putu Eka Astawa, menyatakan bahwa kompresi mesin yang tinggi pada motor matic menuntut angka oktan yang juga tinggi untuk mencegah pembakaran dini. Oktan yang rendah dapat menyebabkan bahan bakar terbakar sebelum busi memercik, menciptakan gelombang kejut yang menghasilkan suara ‘ngelitik’ dan memberikan tekanan berlebihan pada piston serta kruk as.
Selain kualitas bahan bakar, penumpukan karbon di ruang bakar menjadi kontributor signifikan lainnya. Karbon yang terbentuk dari sisa pembakaran yang tidak sempurna dapat menjadi titik panas (hot spot) yang memicu pembakaran prematur, mirip dengan efek oktan rendah. Kepala Bengkel AHASS Daya Motor, Wahyudin, menjelaskan bahwa endapan karbon ini semakin parah jika pengendara sering menggunakan motor untuk perjalanan jarak pendek atau berkendara dengan putaran mesin rendah. Endapan karbon ini juga dapat mengganggu kerja katup dan injektor, memperburuk performa mesin secara keseluruhan.
Permasalahan pada busi, khususnya penggunaan busi yang tidak sesuai spesifikasi atau sudah aus, juga berperan penting. Busi yang kotor atau memiliki celah elektroda yang salah dapat menyebabkan percikan api yang lemah, mengganggu proses pembakaran dan memicu detonasi. Pengaturan klep yang tidak tepat, terlalu rapat atau terlalu longgar, juga bisa menjadi sumber suara ‘ngelitik’ karena mengganggu aliran campuran udara-bahan bakar dan gas buang, mengakibatkan pembakaran tidak efisien.
Untuk mengatasi permasalahan ini, langkah pertama yang fundamental adalah memastikan penggunaan bahan bakar dengan oktan yang sesuai rekomendasi pabrikan. Mayoritas motor matic membutuhkan minimal oktan 92 (RON 92). Penggantian bahan bakar secara bertahap ke oktan yang lebih tinggi seringkali dapat meredakan suara ‘ngelitik’ dalam beberapa kali pengisian. Kemudian, dekontaminasi ruang bakar secara berkala melalui metode seperti carbon clean atau penggunaan cairan pembersih injektor sangat disarankan. Prosedur ini membantu menghilangkan endapan karbon yang menjadi pemicu utama.
Perawatan rutin juga mencakup pemeriksaan dan penggantian busi sesuai jadwal yang direkomendasikan, serta penyetelan ulang celah klep oleh teknisi yang berpengalaman. Wahyudin menekankan bahwa pemeriksaan ini penting dilakukan setiap 8.000 hingga 12.000 kilometer tergantung pada model motor dan intensitas penggunaan. Penggantian oli mesin secara teratur dengan spesifikasi yang tepat juga krusial, karena oli berfungsi melumasi, mendinginkan, dan membersihkan komponen internal mesin. Oli yang kotor atau tidak sesuai viskositasnya dapat memperburuk kondisi mesin dan mempercepat penumpukan karbon.
Implikasi jangka panjang dari suara ‘ngelitik’ yang dibiarkan meliputi penurunan daya tahan mesin, peningkatan konsumsi bahan bakar, dan potensi kerusakan komponen internal seperti piston dan stang seher akibat tekanan berulang. Industri otomotif, khususnya produsen motor matic, menghadapi tantangan untuk terus mengedukasi konsumen mengenai pentingnya perawatan preventif dan pemilihan bahan bakar yang tepat. Dengan volume penjualan motor matic yang terus mendominasi pasar kendaraan roda dua di Indonesia—tercatat lebih dari 5 juta unit terjual pada tahun 2023—edukasi ini menjadi semakin krusial untuk menjaga kinerja kendaraan dan kepuasan konsumen. Produsen dan bengkel resmi perlu berkolaborasi lebih intensif dalam menyediakan informasi yang akurat dan mudah diakses, serta mendorong jadwal servis berkala sebagai investasi penting dalam menjaga performa dan umur panjang motor matic.