Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rahasia Orang Tua Bebas Cemas: Mengelola Gadget Anak dengan Bijak

2025-12-30 | 19:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-30T12:42:28Z
Ruang Iklan

Rahasia Orang Tua Bebas Cemas: Mengelola Gadget Anak dengan Bijak

Kekhawatiran orang tua terkait dampak gawai pada tumbuh kembang anak semakin mendalam seiring masifnya adopsi teknologi digital. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, dengan 5,88 persen di antaranya bahkan berusia di bawah satu tahun. Angka ini mencerminkan realitas bahwa anak-anak kini terpapar gawai pada usia yang sangat muda, memunculkan urgensi bagi orang tua untuk mengelola penggunaan teknologi secara bijak. Meskipun demikian, para ahli dan pemerintah menekankan bahwa gawai tidak selalu menjadi ancaman, melainkan dapat menjadi alat edukasi yang efektif bila dikelola dengan strategi yang tepat dan didasari literasi digital.

Fenomena ketergantungan gawai pada anak menimbulkan serangkaian dampak negatif yang serius. Penggunaan berlebihan dapat memicu gangguan tidur, sifat agresif, penurunan konsentrasi belajar, serta masalah kesehatan fisik seperti miopia (rabun jauh) dan obesitas akibat kurangnya aktivitas fisik. Anak-anak yang terlalu sering terpapar layar juga cenderung kurang terlatih dalam interaksi sosial langsung, yang esensial untuk perkembangan emosi dan sosial mereka. Dr. Adisti F. Soegoto, MPsi, Psikolog, menjelaskan bahwa terlalu banyak menyaksikan tontonan di layar pada usia dini dapat menurunkan rentang atensi anak karena perubahan gambar yang cepat menghambat fokus pada satu objek dalam waktu lama.

Di sisi lain, gawai menawarkan potensi positif yang signifikan untuk perkembangan kognitif dan kreativitas anak melalui aplikasi edukatif dan akses informasi tanpa batas. Penggunaan gawai dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi, memecahkan masalah, dan mendorong pembelajaran interaktif. Oleh karena itu, tantangan bagi orang tua bukan hanya membatasi, melainkan juga mengarahkan dan mendampingi penggunaan gawai secara konstruktif.

Pemerintah Indonesia merespons isu ini dengan serius. Pada Maret 2025, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan kebijakan Tata Kelola untuk Anak Aman dan Sehat Digital (TUNAS), yang menjadi dasar hukum baru untuk melindungi anak di ruang digital. Regulasi ini mewajibkan platform digital menerapkan fitur keamanan, klasifikasi usia, dan kontrol orang tua, serta melarang pelacakan lokasi dan profiling data anak untuk kepentingan komersial. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa perlindungan anak harus dimulai dari keluarga, dengan orang tua sebagai garda terdepan dalam memastikan anak mengakses ruang digital secara aman dan bertanggung jawab.

Untuk itu, para ahli dan pakar pendidikan anak merekomendasikan beberapa trik yang bisa diterapkan orang tua:

1. Tetapkan Batasan Waktu Layar yang Jelas dan Konsisten: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar anak di bawah 1 tahun tidak terpapar layar gawai sama sekali, dan anak usia 2 tahun dibatasi maksimal 1 jam sehari. Untuk usia 3-4 tahun, batasan maksimal 1 jam sehari juga dianjurkan, disertai pendampingan aktif. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menyarankan serupa, dengan durasi maksimal 1-1,5 jam per hari untuk anak di atas 6 tahun, dengan konten berkualitas dan edukatif serta pendampingan orang tua. Orang tua perlu bersikap tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan ini, bahkan saat anak menunjukkan perilaku tantrum.
2. Jadilah Teladan Digital yang Baik: Anak-anak cenderung meniru kebiasaan orang tua. Jika orang tua sendiri terlalu sering terpaku pada gawai, anak akan mengikuti perilaku tersebut. Batasi penggunaan gawai pribadi di depan anak dan tunjukkan keseimbangan antara waktu online dan offline.
3. Prioritaskan Kualitas Konten dan Pendampingan Aktif: Alih-alih melarang total, arahkan anak pada konten edukatif dan interaktif. Orang tua perlu mendampingi dan berinteraksi saat anak menggunakan gawai, mengubah waktu layar menjadi pengalaman belajar yang kolaboratif. Ini membantu anak memahami isi konten, mendorong berpikir kritis, dan menjalin komunikasi yang terbuka.
4. Sediakan Alternatif Aktivitas Menarik dan Zona Bebas Gawai: Dorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik, bermain di luar ruangan, membaca buku, melakukan hobi, atau berinteraksi langsung dengan teman sebaya dan keluarga. Tetapkan area di rumah, seperti ruang makan atau kamar tidur, sebagai zona bebas gawai untuk membentuk kebiasaan sehat.
5. Manfaatkan Fitur Kontrol Orang Tua (Parental Control): Teknologi modern menyediakan fitur pengawasan yang memungkinkan orang tua membatasi durasi penggunaan, menyaring konten, dan mengelola aplikasi yang dapat diakses anak. Ini memberikan kendali lebih besar dan menghadirkan ketenangan bagi orang tua.
6. Tanamkan Literasi Digital Sejak Dini: Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara kerja internet, mengelola informasi, serta menjaga keamanan dan privasi di dunia maya. Ajarkan anak tentang pentingnya berpikir kritis terhadap konten digital dan perilaku daring yang bertanggung jawab.

Dengan penerapan strategi komprehensif ini, orang tua dapat membimbing anak untuk memanfaatkan gawai secara cerdas dan aman, mempersiapkan mereka menghadapi tantangan serta peluang di era digital tanpa harus diliputi kekhawatiran yang berlebihan. Pendekatan ini memastikan bahwa teknologi menjadi fasilitator, bukan penghalang, bagi perkembangan holistik anak.