Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Samsung Gaet Eks Bos AMD-Intel: Strategi Revolusioner Bangun Ulang Chip Exynos

2025-12-25 | 20:16 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-25T13:16:40Z
Ruang Iklan

Samsung Gaet Eks Bos AMD-Intel: Strategi Revolusioner Bangun Ulang Chip Exynos

Samsung Electronics telah merekrut John Rayfield, seorang eksekutif senior dengan pengalaman panjang di AMD dan Intel, sebagai Wakil Presiden Senior untuk Advanced Computing Lab (ACL) di Samsung Austin Research Center (SARC) di Texas, Amerika Serikat, sekitar dua bulan lalu, menandai komitmen serius perusahaan untuk merevitalisasi dan membangun kembali lini chip Exynos internalnya. Penunjukan Rayfield, yang sebelumnya menjabat sebagai Corporate Vice President di AMD, secara eksplisit menargetkan perbaikan di area pengembangan GPU, arsitektur System-on-Chip (SoC), dan riset Kekayaan Intelektual (IP) sistem, sektor-sektor yang secara historis menjadi titik lemah Exynos dibandingkan dengan pesaing utama seperti Qualcomm dan Apple.

Langkah strategis ini berakar pada sejarah panjang masalah performa dan efisiensi yang membelit chip Exynos Samsung. Model-model sebelumnya seperti Exynos 990, Exynos 2200, dan Exynos 2400, seringkali tertinggal di belakang alternatif Snapdragon dari Qualcomm, terutama dalam performa grafis dan efisiensi daya pada beban kerja intensif. Ketidaksesuaian performa ini memaksa Samsung menerapkan strategi hibrida, di mana beberapa wilayah pasar, termasuk Amerika Utara dan Tiongkok, menerima perangkat Galaxy dengan chip Snapdragon, sementara wilayah lain menggunakan Exynos. Situasi ini menciptakan disparitas pengalaman pengguna dan menjadi tantangan signifikan bagi reputasi chip in-house Samsung.

Rayfield membawa pengalaman puluhan tahun dalam desain chip dan arsitektur sistem dari berbagai perusahaan semikonduktor terkemuka, termasuk Arm, Imagination Technologies, dan NXP Semiconductors. Di AMD, ia bekerja erat dengan Microsoft dalam pengembangan PC Copilot+ yang ditenagai seri Ryzen AI 300, sementara di Intel, ia memimpin divisi Client AI dan Visual Processing Unit (VPU), berfokus pada grafis, akselerasi AI, dan arsitektur komputasi tingkat tinggi. Keahliannya di bidang-bidang ini sangat relevan dengan upaya Samsung untuk mengatasi masalah GPU dan efisiensi daya Exynos. Tim ACL di bawah kepemimpinan Rayfield akan berfokus pada peningkatan kinerja game, beban kerja AI, dan efisiensi daya.

Perekrutan ini datang pada saat krusial, bertepatan dengan persiapan Samsung untuk meluncurkan chip flagship Exynos 2600. Chip ini diharapkan menjadi prosesor mobile pertama di dunia yang dibangun menggunakan proses 2 nanometer (nm) dengan teknologi Gate-All-Around (GAA). Samsung mengklaim Exynos 2600 akan menawarkan peningkatan performa CPU hingga 39% dibandingkan pendahulunya, Exynos 2500, dan peningkatan performa NPU untuk AI generatif hingga 113%. Selain itu, chip ini akan mengintegrasikan teknologi manajemen termal baru yang disebut Heat Path Block (HPB), yang diklaim dapat mengurangi resistansi termal hingga 16% dan suhu hingga 30% dibandingkan chip Exynos sebelumnya, bertujuan untuk mengatasi masalah overheating yang sering dikeluhkan. Exynos 2600 diharapkan akan debut pada seri Galaxy S26.

Secara historis, Samsung telah menghadapi tantangan bukan hanya dalam desain chip, tetapi juga dalam proses manufaktur foundry mereka. Tingkat hasil (yield rates) yang rendah dan masalah efisiensi produksi di foundry Samsung sering disebut sebagai penyebab kegagalan Exynos bersaing penuh, bahkan memaksa perusahaan untuk mengandalkan Snapdragon secara eksklusif untuk seluruh lini Galaxy S23 dan sebagian besar S25. Pada kuartal ketiga 2024, pangsa pasar Samsung di segmen prosesor aplikasi (AP) mobile hanya 5%. Laporan Counterpoint Research menunjukkan pangsa pasar Exynos pada Q4 2024 turun menjadi 21% dari 25% pada kuartal sebelumnya, meskipun ada upaya penggunaan Exynos pada model kelas menengah.

Dengan perekrutan Rayfield dan investasi besar dalam teknologi 2nm GAA serta solusi termal baru, Samsung mengirimkan sinyal kuat tentang ambisi jangka panjangnya untuk mengurangi ketergantungan pada Qualcomm dan menjadi pemain yang lebih dominan di pasar semikonduktor mobile. Upaya ini mencerminkan dorongan untuk mencapai integrasi perangkat keras-perangkat lunak yang lebih baik, serupa dengan pendekatan Apple. Namun, dampak penuh dari perubahan strategis ini diperkirakan akan membutuhkan beberapa siklus produk untuk sepenuhnya terwujud. Keberhasilan Exynos 2600 dan generasi chip selanjutnya akan sangat menentukan apakah Samsung dapat menyelaraskan performa chip di semua perangkat global dan memenuhi ekspektasi konsumen yang semakin tinggi di era komputasi AI on-device.