Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Starlink Indonesia Hentikan Pendaftaran Baru: Analis Ungkap Tantangan Kapasitas Terbatas

2025-12-02 | 14:03 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-02T07:03:17Z
Ruang Iklan

Starlink Indonesia Hentikan Pendaftaran Baru: Analis Ungkap Tantangan Kapasitas Terbatas

Penyedia layanan internet satelit Starlink milik SpaceX telah secara resmi menghentikan pendaftaran pelanggan baru di Indonesia. Keputusan ini diumumkan melalui blog dan situs web resmi perusahaan, menyatakan bahwa layanan saat ini tidak tersedia bagi pelanggan baru karena kapasitas telah habis terjual di seluruh Indonesia. Starlink juga mengonfirmasi penangguhan aktivasi kit baru yang dibeli melalui pengecer atau penjual pihak ketiga.

Layanan Starlink resmi diluncurkan di Indonesia pada 19 Mei 2024, dengan pendiri SpaceX Elon Musk turut hadir dalam peresmian di Bali. Penghentian sementara ini terjadi setelah lebih dari setahun beroperasi di pasar Indonesia. Starlink menyebutkan bahwa layanan tidak tersedia untuk pelanggan baru di wilayah Anda karena kapasitas di seluruh Indonesia telah terjual habis.

Tingginya permintaan akan layanan internet Starlink, terutama di wilayah terpencil dan kurang terlayani di Indonesia, disebut menjadi pendorong utama cepatnya kapasitas layanan terpenuhi. Geografi kepulauan Indonesia dengan lebih dari 17.000 pulau menciptakan tantangan unik bagi penyedia layanan internet tradisional yang mengandalkan kabel terestrial dan menara. Starlink, dengan teknologi orbit rendahnya, menawarkan kinerja yang lebih baik dibandingkan internet satelit tradisional, dengan kecepatan unduh 100-250 Mbps dan latensi 20-50ms, menciptakan ekspektasi pengguna yang lebih tinggi dan menuntut pengelolaan kapasitas yang cermat. Meskipun harga langganan bulanan Starlink (mulai dari Rp 450.000 atau Rp 550.000) lebih tinggi dibandingkan ISP tradisional di Indonesia (Rp 200.000-400.000), penyerapan yang cepat menunjukkan permintaan besar akan internet yang andal di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur serat optik.

Bagi pengguna Starlink yang sudah ada di Indonesia, mereka disarankan untuk memeriksa situs web resmi Starlink untuk mendapatkan informasi terbaru. Sementara itu, calon pelanggan masih dapat melakukan pemesanan awal dengan membayar deposit untuk bergabung dalam daftar tunggu, dan akan diberitahu setelah layanan kembali tersedia. Perusahaan menyatakan bahwa mereka tidak dapat memberikan perkiraan jangka waktu ketersediaan, namun tim mereka berkolaborasi dengan pihak berwenang setempat untuk menghadirkan Starlink ke Indonesia sesegera mungkin.

Para analis menggarisbawahi bahwa penangguhan pelanggan baru ini menyoroti tingginya permintaan dan keterbatasan fisik konstelasi satelit yang paling canggih sekalipun. Hal ini mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam penerapan internet satelit dan kebutuhan akan pengelolaan kapasitas yang hati-hati. Pendekatan ekspansi Starlink memprioritaskan pertumbuhan yang terkontrol untuk menjaga kualitas layanan, serupa dengan pasar lain di mana daftar tunggu diterapkan. Situasi ini juga menunjukkan besarnya permintaan yang belum terpenuhi untuk internet yang andal di daerah-daerah di mana pembangunan serat optik tidak layak secara ekonomi atau menantang secara teknis.

Beberapa analis menyarankan bahwa situasi ini dapat menjadi peluang bagi penyedia layanan internet lokal untuk memperkuat kehadiran pasar mereka dan membuktikan bahwa solusi konektivitas dalam negeri juga dapat diandalkan dan efektif. Namun, terdapat juga kekhawatiran mengenai keseimbangan antara keuntungan konektivitas dengan kedaulatan internet dan risiko keamanan siber saat mengandalkan jaringan LEO asing. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran tentang masuknya Starlink, mengutip potensi "penetapan harga predator" dan gangguan pasar. Meskipun demikian, beberapa analis lain berpendapat bahwa Starlink tidak menimbulkan ancaman signifikan bagi penyedia telekomunikasi yang ada, melainkan berfungsi sebagai pelengkap konektivitas serat optik di daerah pedesaan.

Dalam perkembangan terkait, Starlink baru-baru ini memberikan layanan internet gratis kepada korban banjir di Sumatra hingga akhir Desember 2025, bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk memulihkan konektivitas di wilayah yang paling terdampak. Elon Musk menegaskan bahwa kebijakan ini adalah standar SpaceX untuk menggratiskan Starlink setiap kali terjadi bencana alam di seluruh dunia, dengan prinsip "tidak etis untuk mengambil keuntungan dari musibah".