:strip_icc()/kly-media-production/medias/5450432/original/076668800_1766139859-the-importance-of-wearing-motorcycle-riding-jacket-on-every-ride-Riding-Gear-Rent.jpg)
Indonesia mencatat 150.906 insiden kecelakaan lalu lintas sepanjang tahun 2024, dengan 16.601 korban mengalami luka berat dan 26.839 jiwa meninggal dunia, di mana sepeda motor menjadi kendaraan yang paling banyak terlibat, menyumbang 76,42% dari total kendaraan yang terlibat. Angka ini menggarisbawahi urgensi mitigasi risiko bagi pengendara roda dua, di mana pemilihan jaket riding yang tepat bukan sekadar preferensi gaya, melainkan elemen krusial dalam sistem keselamatan personal yang dapat mengurangi tingkat keparahan cedera secara signifikan saat terjadi benturan atau gesekan dengan aspal.
Persepsi publik yang kerap menganggap jaket sebagai pelengkap penampilan atau penahan angin semata, berbanding terbalik dengan fungsi esensialnya sebagai Alat Pelindung Diri (APD) utama. Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion Wahana Makmur Sejati (WMS), menegaskan bahwa jaket berfungsi sebagai pelindung pertama bagi tubuh dari gesekan saat terjatuh, yang tanpa jaket dapat menyebabkan luka serius seperti lecet atau luka bakar. Senada, Jusri Pulubuhu, pendiri dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menyatakan bahwa inti dari keselamatan adalah mengurangi risiko cedera ketika terjadi insiden, bukan sekadar estetika atau kenyamanan.
Memilih jaket riding membutuhkan pertimbangan cermat terhadap beberapa kriteria kunci yang melampaui tampilan visual:
Proteksi Dampak dan Abrasi: Standar Keamanan Internasional
Aspek paling vital dari jaket riding adalah kemampuannya melindungi tubuh dari benturan dan abrasi. Sertifikasi CE (Conformité Européenne), sebuah standar keamanan Eropa, menjadi tolok ukur global untuk menguji ketahanan jaket terhadap benturan, abrasi, sobekan, dan kekuatan jahitan. Produk yang memiliki tanda CE telah melalui serangkaian tes laboratorium ketat di bawah norma keselamatan Eropa, memastikan perlindungan yang konsisten dan terukur saat kecelakaan. Protektor pada bahu, siku, dan punggung adalah komponen vital yang harus disertifikasi CE, dengan level 1 menawarkan perlindungan dasar untuk berkendara perkotaan dan level 2 memberikan penyerapan energi benturan yang superior untuk touring atau berkendara performa tinggi. Klasifikasi jaket juga dibagi menjadi Level A, AA, dan AAA di bawah standar EN 17092, dengan AAA menawarkan tingkat perlindungan tertinggi dan A sebagai minimum yang disyaratkan. Jovand, Sales Head RCW Dainese Indonesia, merekomendasikan jaket yang dilengkapi bantalan pengaman karena "bagus untuk meredam benturan semisal jatuh dari motor."
Material yang Tepat untuk Berbagai Kondisi
Pemilihan material memegang peranan krusial dalam fungsi proteksi dan kenyamanan. Material seperti kulit asli atau sintetis sangat disarankan untuk perjalanan jarak jauh karena daya serap kuat dan tahan angin, meskipun harganya lebih mahal. Untuk penggunaan harian dan iklim tropis, bahan dengan sirkulasi udara yang baik sangat direkomendasikan. Brand Manager Respiro, M. Rosyid Ridlo, menyarankan jaket berbahan mesh karena memungkinkan udara masuk dengan mudah, sangat cocok untuk berkendara di perkotaan pada siang hari. Bahan Cordura atau polyester tebal juga menjadi pilihan karena ketahanannya terhadap gesekan dan cuaca ekstrem, sementara tetap menawarkan ventilasi. Penting untuk menghindari bahan seperti denim atau parasut tipis untuk proteksi utama dalam insiden serius, meskipun denim dapat menahan gesekan lebih baik daripada bahan non-riding lainnya, namun kurang ideal untuk perlindungan angin dan air hujan. Irfan Arifahni, owner brand apparel riding A1AM Gear dan X-Road, lebih menyarankan jaket riding berbahan cordura yang water resistant, karena mampu menahan guyuran air saat hujan ringan hingga sedang, menahan dinginnya angin malam, dan tidak membuat kepanasan di siang hari.
Kesesuaian dengan Iklim dan Kondisi Berkendara
Iklim tropis Indonesia menuntut adaptasi dalam pemilihan jaket. Jaket dengan bahan bernapas (breathable) seperti mesh atau kombinasi tekstil yang memiliki ventilasi baik sangat penting untuk kenyamanan di suhu panas dan kelembapan tinggi. Fitur ventilasi tambahan, seperti resleting atau panel mesh di dada, punggung, atau lengan, membantu menjaga aliran udara dan mengurangi keringat berlebih, menjaga fokus pengendara. Untuk touring atau perjalanan jarak jauh, jaket perlu memiliki fitur windproof dan water repellent atau waterproof untuk melindungi dari angin kencang dan hujan. Beberapa jaket modern bahkan dilengkapi teknologi water repellent seperti yang digunakan pada jaket Eiger Riding, yang dapat melindungi dari cipratan air dan hujan ringan.
Ergonomi dan Visibilitas
Ukuran jaket yang pas sangat memengaruhi kenyamanan dan keamanan. Jaket yang terlalu sempit membatasi pergerakan, sedangkan yang terlalu besar dapat mengganggu stabilitas karena terpaan angin. Desain ergonomis yang tidak terlalu banyak tali atau aksesori berpotensi tersangkut juga krusial untuk mencegah kecelakaan. Fitur reflektif, seperti strip reflektor atau warna cerah, meningkatkan visibilitas pengendara di malam hari atau kondisi cuaca buruk, secara langsung mengurangi risiko kecelakaan.
Dampak Jangka Panjang dan Implikasi Keselamatan
Peningkatan kesadaran dan adopsi jaket riding yang tepat memiliki implikasi signifikan terhadap kesehatan masyarakat dan beban ekonomi. Data Korlantas Polri pada tahun 2024 menunjukkan peningkatan jumlah kecelakaan lalu lintas hingga 5 Agustus mencapai 79.220 kejadian, dengan mayoritas melibatkan sepeda motor. Wakil Ketua Umum Bidang Keselamatan Transportasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Rivan Achmad Purwantono, mengungkapkan bahwa angka kecelakaan lalu lintas sepanjang 2023 mencapai 116 ribu kejadian, meningkat 6,8% dari tahun sebelumnya, dengan 77% didominasi sepeda motor dan 40% korban berada di usia produktif 24-40 tahun. Jaket riding yang sesuai standar keamanan internasional menjadi investasi vital untuk menekan angka cedera berat dan fatalitas. Arief G. Utomo, Founder dan CEO Respiro, berpendapat bahwa faktor kenyamanan berkendara, yang didukung oleh apparel riding sesuai iklim tropis, berkontribusi pada keselamatan karena membantu pengendara tetap fokus di jalan. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan mengenai pentingnya jaket riding sebagai APD, yang didukung oleh standar produk yang ketat dan pilihan material yang adaptif terhadap kondisi lokal, sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem berkendara yang lebih aman dan bertanggung jawab.