
Upaya pemulihan jaringan telekomunikasi pasca banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus dikebut oleh operator seluler dan pemerintah. Bencana yang terjadi sejak akhir November 2025 ini telah menyebabkan gangguan signifikan pada akses komunikasi di ketiga provinsi tersebut, dengan ribuan Base Transceiver Station (BTS) terdampak.
Per 1 Desember 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan adanya peningkatan jumlah BTS yang terdampak, mencapai 2.804 titik, naik dari 2.349 BTS pada 30 November dan 1.756 BTS pada 29 November 2025. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyatakan bahwa 90 persen layanan telekomunikasi di Sumatera Utara, khususnya di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga, telah pulih. Sementara itu, Sumatera Barat menunjukkan tingkat pemulihan yang lebih baik, mencapai 95 persen. Namun, Aceh masih menjadi prioritas dengan tingkat pemulihan di bawah 60 persen, dengan target mencapai 75 persen pada 5 Desember jika pasokan listrik kembali normal.
Telkomsel melaporkan bahwa di Aceh, sekitar 60 persen BTS mereka terdampak, atau lebih dari 1.430 site dan 2.400 BTS mengalami gangguan. Jumlah ini mencapai 1.252 site atau 63,75% dan 2.165 BTS yang terdampak per 1 Desember 2025. Di Sumatera Utara, sekitar 12 persen BTS Telkomsel mengalami down, dengan sekitar 1.100 site dan 1.900 BTS terdampak, dan 578 site (12,54%) atau 1.001 BTS masih terganggu per 1 Desember 2025. Sementara di Sumatera Barat, 11,03 persen BTS Telkomsel down, dengan lebih dari 190 site dan 360 BTS terdampak, atau 93 site (8,72%) dan 179 BTS masih terganggu. VP Corporate Communications and Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, menyebut gangguan di Aceh cukup masif akibat banjir, longsor, dan putusnya akses jembatan.
Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menyatakan bahwa per 27 November 2025, sebanyak 71,68 persen site mereka di wilayah Sumatera bagian utara telah berfungsi. EVP Head of Circle Sumatra Indosat, Agus Sulistio, menjelaskan bahwa tim teknis terus mempercepat pemulihan melalui perbaikan jalur transmisi telekomunikasi dan pengoperasian sumber daya portabel di lokasi terdampak. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mengakomodir kebutuhan layanan dasar seperti telepon dan pesan singkat, serta layanan data secara terbatas.
XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart) juga terus melakukan pemulihan jaringan. Hingga saat ini, sekitar 691 BTS XLSmart masih terdampak, meliputi 538 BTS di Aceh, 120 BTS di Sumatera Utara, dan 33 BTS di Sumatera Barat. Regional Group Head XLSmart West Region, Desy Sari Dewi, memastikan tim teknis bekerja 24 jam penuh untuk menjaga layanan telekomunikasi tetap tersedia.
Tantangan utama dalam pemulihan jaringan meliputi terputusnya pasokan listrik dari PLN, sulitnya akses transportasi ke lokasi BTS akibat jalan rusak dan tertutup longsor, serta keterbatasan pasokan bahan bakar untuk genset. Operator seluler telah mengerahkan genset sebagai catu daya alternatif, namun mobilisasinya sering terhambat kondisi medan. Telkomsel bahkan menggunakan perahu karet dan perangkat satelit untuk mencapai lokasi perbaikan di Aceh. Pemerintah juga telah memanfaatkan Starlink yang dilengkapi genset untuk menunjang komunikasi darurat, terutama di daerah terisolasi seperti Tapanuli Tengah yang kehilangan sinyal total.
Kementerian Komdigi, melalui Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital, terus memantau kualitas layanan dan berkoordinasi intensif dengan operator seluler, PLN, serta TNI/Polri untuk mempercepat proses pemulihan. Jalur backbone di Sumatera Utara yang menghubungkan ruas Rantau-Padang Sidempuan dan Sibolga-Barus-Manduamas, serta jalur di Aceh ruas Banda Aceh-Bireun dan Samalanga, dilaporkan telah berhasil dipulihkan dari kerusakan akibat longsor. Komunikasi yang berfungsi vital ini sangat krusial tidak hanya untuk masyarakat menghubungi keluarga, tetapi juga untuk koordinasi tim Search and Rescue (SAR) dan distribusi bantuan logistik. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 1 Desember 2025 mencatat 604 korban meninggal dunia dan 464 orang lainnya masih dinyatakan hilang akibat bencana ini.