
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (Surge) secara resmi meluncurkan layanan "Internet Rakyat" pada November 2025, menawarkan akses internet berkecepatan tinggi 100 Mbps dengan harga bulanan Rp 100.000 dan kuota tak terbatas, memanfaatkan teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) berbasis Open RAN pada frekuensi 1,4 GHz. Inisiatif ini menandai upaya signifikan untuk mengatasi kesenjangan digital di Indonesia, terutama bagi segmen masyarakat menengah ke bawah dan daerah yang belum terlayani secara optimal oleh infrastruktur serat optik tradisional.
Langkah Surge ini muncul di tengah lanskap telekomunikasi Indonesia yang dinamis, di mana penetrasi internet terus meningkat namun masih menghadapi tantangan dalam hal kecepatan dan keterjangkauan. Pada Januari 2024, tingkat penetrasi internet Indonesia mencapai 66,5% dari total populasi, dengan 185,3 juta pengguna internet. Sumber lain bahkan menyebut angka 79,5% pada Januari 2024. Meskipun demikian, Indonesia masih tertinggal dalam kecepatan internet dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, dengan kecepatan unduh rata-rata fixed broadband sebesar 28,34 Mbps per Januari 2024. Biaya internet tetap juga relatif tinggi, membatasi akses bagi banyak rumah tangga.
Program "Internet Rakyat" dicanangkan oleh pemerintah Indonesia sebagai bagian dari upaya untuk menyediakan layanan internet cepat yang terjangkau. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah melelang pita frekuensi 1,4 GHz untuk layanan Broadband Wireless Access (BWA), dan Surge, melalui anak perusahaannya Telemedia Komunikasi Pratama, memenangkan lelang untuk Regional 1 (Jawa, Papua, dan Maluku). Penugasan frekuensi ini bertujuan untuk mendukung penyediaan internet rumah tangga berkecepatan hingga 100 Mbps dengan target harga antara Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per bulan.
Surge telah membangun infrastruktur tulang punggung serat optik sepanjang lebih dari 6.900 km di sepanjang jalur kereta api dan rute lainnya di Jawa, dengan kapasitas bandwidth hingga 64 Tbps dan mengoperasikan 58 Edge Data Center di berbagai kota di Jawa. Perusahaan ini juga telah bermitra dengan raksasa telekomunikasi global seperti NTT e-Asia Corporation (anak perusahaan NTT Group Jepang) untuk konsultasi layanan Fiber To The Home (FTTH), dengan tujuan memperluas infrastruktur jaringan ke 25 juta rumah tangga. Kemitraan ini mencakup investasi strategis NTT East sebesar 49% atau Rp 4 triliun di PT Integrasi Jaringan Ekosistem (WEAVE), anak perusahaan Surge. Selain itu, Surge juga bekerja sama dengan Nokia, Huawei, dan Qualcomm dalam pengembangan solusi 5G FWA.
Direktur Surge, Shannedy Ong, menjelaskan bahwa "Internet Rakyat" dirancang untuk memperkuat layanan internet berbasis nirkabel, terutama di wilayah yang belum optimal terlayani oleh jaringan serat optik. Dengan teknologi 5G FWA, pengguna dapat menginstal modem yang terhubung secara nirkabel ke menara 5G terdekat, memungkinkan penyebaran cepat di area di mana jaringan serat optik tidak tersedia atau tidak praktis. Layanan ini tidak memerlukan biaya instalasi atau sewa modem. Pra-registrasi untuk layanan ini telah dibuka melalui situs resmi InternetRakyat.id dan MyTelemedia.id.
Inisiatif ini berpotensi mengubah lanskap konektivitas di Indonesia. Dengan target 5 juta pelanggan pada akhir semester pertama 2026, Surge bertujuan untuk memperluas akses digital dan mendorong literasi internet di segmen berpenghasilan rendah. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyatakan bahwa program ini bukan hanya tentang menghubungkan orang, tetapi tentang menyediakan akses berkecepatan tinggi yang terjangkau tanpa harus menunggu instalasi serat optik tradisional yang mahal dan memakan waktu. Pertumbuhan yang didorong oleh FTTH dan peningkatan penggunaan 5G diperkirakan akan menjadi pendorong utama pendapatan layanan telekomunikasi di Indonesia hingga tahun 2029. Namun, tantangan seperti jangkauan wilayah, potensi kepadatan jaringan, dan keberlanjutan harga akan menjadi faktor krusial dalam keberhasilan jangka panjang program ini. Upaya konsolidasi pasar oleh pemain telekomunikasi besar, termasuk akuisisi aset infrastruktur dan merger, juga menunjukkan pergeseran strategis untuk memenuhi peningkatan konsumsi data dan permintaan akan kualitas internet yang lebih baik.