
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (Surge) dan perusahaan solusi teknologi informasi dan komunikasi global FiberHome telah menjalin kemitraan strategis untuk meluncurkan layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA) di Indonesia, yang dipasarkan dengan nama "IRA – Internet Rakyat." Inisiatif ini menargetkan penyediaan akses internet berkecepatan 100 Mbps dengan kuota tanpa batas seharga Rp100.000 per bulan, ditujukan untuk mempercepat inklusi digital di seluruh negeri, dengan peluncuran komersial yang direncanakan pada kuartal pertama tahun 2026. Kolaborasi ini menandai peluncuran komersial pertama di dunia untuk teknologi 5G FWA yang beroperasi pada spektrum 1,4 GHz, menegaskan posisi Indonesia sebagai pelopor dalam inovasi broadband global.
Layanan internet yang ditawarkan Surge melalui kemitraan ini secara signifikan lebih terjangkau dibandingkan rata-rata pasar Indonesia. Saat ini, paket internet 100 Mbps dari penyedia lain berkisar antara Rp400.000 hingga Rp680.000 per bulan. Strategi harga agresif Surge ini berpotensi mendisrupsi pasar dan mengatasi masalah keterjangkauan yang menjadi kendala utama penetrasi internet tetap di banyak rumah tangga Indonesia. Implementasi awal akan memprioritaskan wilayah Jawa yang padat penduduk serta Maluku dan Papua, daerah-daerah yang masih menghadapi kesenjangan signifikan dalam infrastruktur digital. Uji coba pra-komersial telah dimulai di beberapa situs di Jawa.
Kemitraan ini sejalan dengan agenda transformasi digital inklusif pemerintah Indonesia. Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi telah menargetkan peningkatan kecepatan internet di Indonesia menjadi 100 Mbps dalam 4-5 tahun ke depan (hingga 2029), dengan target jangka panjang mencapai 765 Mbps pada tahun 2045. Saat ini, kecepatan internet rata-rata di Indonesia masih sekitar 25 Mbps untuk broadband tetap, menempatkannya pada peringkat ke-151 di dunia dengan kecepatan 19,54 Mbps pada Juni 2024. Tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,66% pada tahun 2025, menjangkau 229,43 juta jiwa dari total populasi 284,44 juta jiwa, naik dari 79,50% pada tahun 2024. Namun, penetrasi fixed broadband masih di bawah 15%, dengan sebagian besar masyarakat mengandalkan jaringan seluler.
Presiden Direktur Surge, Yune Marketatmo, menyatakan bahwa Surge berkomitmen untuk menetapkan standar baru dalam penyediaan layanan broadband berperforma tinggi dengan harga terjangkau. Keahlian teknologi FiberHome dalam mendukung implementasi skala besar menjadikan mereka mitra ideal untuk ekspansi ini, dengan FiberHome memasok rangkaian lengkap produk FWA yang dioptimalkan untuk spektrum 1,4 GHz. Liang Dong, Presiden Direktur FiberHome South Pacific Region, menekankan bahwa komersialisasi 5G FWA pada spektrum 1,4 GHz yang pertama di dunia ini menunjukkan kepemimpinan Indonesia dalam inovasi digital.
Surge memanfaatkan infrastruktur tulang punggung serat optik sepanjang 7.000 km di Pulau Jawa dengan kapasitas bandwidth hingga 64.000 Gbps, serta 58 Edge Data Center yang berpotensi ekspansi ke 592 lokasi. Perusahaan juga menjalin kemitraan dengan PT KAI untuk membangun jaringan serat optik di sepanjang jalur kereta api di Pulau Jawa, yang sedang dikembangkan untuk menjangkau hingga 5 juta rumah. Strategi ini diharapkan mampu memperluas jangkauan layanan broadband tetap secara cepat dan merata.
Meskipun layanan internet murah memiliki potensi besar untuk mendorong ekonomi digital dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tantangan geografis Indonesia yang luas dan berbentuk kepulauan mengakibatkan biaya pembangunan infrastruktur yang lebih tinggi di wilayah timur, bahkan mencapai empat kali lipat dibandingkan Jawa. Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif Angga, mengakui optimisme terhadap realisasi internet murah, namun juga menyoroti potensi persaingan tidak sehat yang dapat mengancam ISP kecil dan menengah. Insentif pemerintah dan regulasi baru mungkin diperlukan untuk menjaga keberlanjutan bisnis di daerah berpopulasi rendah. Kolaborasi antara pemerintah dan swasta, serta model layanan berbasis komunitas, diusulkan untuk mengatasi tantangan pemerataan akses internet.