
Telkom Indonesia secara resmi telah merestrukturisasi dan mengintegrasikan segmen bisnis ritel broadband-nya, IndiHome, ke dalam PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) pada 1 Juli 2023, menandai langkah signifikan dalam strategi divestasi aset infrastruktur serat optik dan mengikuti tren global operator telekomunikasi untuk memonetisasi infrastruktur pasif yang padat modal. Langkah ini bertujuan untuk mengoptimalkan valuasi aset, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempercepat pengembangan ekosistem digital nasional di tengah lanskap persaingan yang semakin ketat dan kebutuhan investasi infrastruktur yang masif.
Transformasi strategis ini secara historis berakar pada kebutuhan mendesak untuk memisahkan operasional jaringan dan layanan untuk membuka nilai tersembunyi dari infrastruktur telekomunikasi. Sejak awal 2020-an, banyak operator global menghadapi tekanan untuk mendanai investasi jaringan 5G dan ekspansi serat optik, yang membutuhkan modal besar. Memisahkan infrastruktur, seperti menara telekomunikasi dan jaringan serat optik, ke entitas terpisah (sering disebut FiberCo atau TowerCo) memungkinkan operator untuk menarik investor eksternal, mengurangi beban utang, dan fokus pada layanan inti. Contoh serupa telah terlihat di Eropa dengan operator seperti Vodafone (Vantage Towers) dan di Asia dengan berbagai inisiatif divestasi aset infrastruktur. Telkom sendiri sebelumnya telah melakukan spin-off menara telekomunikasi melalui Mitratel, yang kemudian melantai di bursa saham. Penggabungan IndiHome ke Telkomsel, anak perusahaan seluler Telkom, menciptakan entitas Fixed Mobile Convergence (FMC) terbesar di Indonesia, yang diperkirakan akan melayani lebih dari 100 juta pelanggan dan menguasai sekitar 75% pangsa pasar broadband rumah tangga di Indonesia.
Implikasi dari langkah ini diperkirakan akan multifaceted. Bagi Telkom, restrukturisasi ini memungkinkan fokus yang lebih tajam pada bisnis B2B (enterprise) dan pengembangan infrastruktur digital tingkat tinggi, sementara Telkomsel diharapkan dapat memanfaatkan sinergi antara layanan seluler dan fixed broadband untuk menawarkan paket bundling yang lebih kompetitif dan inovatif. Direktur Utama Telkom, Ririek Adriansyah, menyatakan bahwa "Integrasi IndiHome ke Telkomsel akan menghasilkan penciptaan nilai yang optimal bagi kedua belah pihak dan juga bagi ekosistem digital Indonesia". Hal ini sejalan dengan upaya perusahaan untuk bertransformasi menjadi penyedia layanan digital terkemuka. Secara finansial, aksi korporasi ini diperkirakan dapat meningkatkan valuasi Telkom Group secara keseluruhan dan potensi pengurangan belanja modal (capex) yang dialokasikan untuk segmen ritel fixed broadband, memungkinkan alokasi sumber daya ke area pertumbuhan lainnya seperti data center, cloud, dan IoT.
Namun, tantangan tetap ada. Integrasi operasional antara IndiHome dan Telkomsel, yang melibatkan jutaan pelanggan dan infrastruktur yang luas, memerlukan manajemen yang cermat untuk menghindari disrupsi layanan dan memastikan pengalaman pelanggan yang mulus. Selain itu, Telkom akan menghadapi tekanan untuk membuktikan bahwa model operasi yang baru ini benar-benar dapat meningkatkan efisiensi dan inovasi secara signifikan. Beberapa analis memandang positif langkah ini, mencatat bahwa konsolidasi aset akan memperkuat posisi pasar Telkomsel dan memungkinkan skala ekonomi yang lebih besar dalam pengadaan dan operasional jaringan. Penetapan nilai transaksi integrasi sebesar Rp58,24 triliun, yang melibatkan Telkomsel mengeluarkan 249.989.988 saham baru kepada Telkom, mencerminkan valuasi signifikan dari bisnis IndiHome dan menunjukkan komitmen Telkom terhadap strategi monetisasi asetnya. Dengan sekitar 8,5 juta pelanggan IndiHome yang kini berada di bawah Telkomsel, perusahaan gabungan ini memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung digitalisasi rumah tangga di Indonesia, meskipun persaingan dengan operator lain yang juga gencar membangun jaringan serat optik akan terus berlanjut. Ke depan, keberhasilan Telkom dalam memanfaatkan momentum ini akan sangat bergantung pada eksekusi strategis dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan dinamika pasar yang terus berubah.