
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk beserta seluruh anak perusahaan, atau TelkomGroup, secara masif mengerahkan 13.700 personel siaga sepanjang periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) di Sumatera, memprioritaskan keandalan infrastruktur digital di tengah prediksi lonjakan trafik dan tantangan pemulihan pascabencana. Kesiapsiagaan ini krusial untuk menjamin kelancaran komunikasi dan konektivitas digital bagi masyarakat di wilayah yang padat aktivitas tersebut.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan komitmen perusahaan dalam menjaga stabilitas dan kualitas layanan, terutama mengingat kebutuhan konektivitas digital yang meningkat tajam selama momen akhir tahun. Persiapan TelkomGroup mencakup aspek teknis jaringan serta kesiapan personel operasional yang memadai. Sebanyak 22 Posko Siaga Nataru 2025/2026 yang terdiri dari 9 posko utama dan 13 posko anak perusahaan telah diaktifkan secara daring sejak 19 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026 untuk memonitor layanan secara berkala 24/7.
Tantangan utama di Sumatera tidak hanya datang dari lonjakan trafik yang diprediksi Menteri Komunikasi dan Digital RI Meutya Hafid akan mencapai hingga 30 persen secara nasional, namun juga dari dampak bencana alam. TelkomGroup melaporkan telah menuntaskan perbaikan 31 Sentral Telepon Otomat (STO) yang terdampak bencana, kini beroperasi normal 100 persen. Percepatan pemulihan juga dilakukan pada link backbone utama ruas Sibolga–Pematang Siantar–Padang Sidempuan, dengan progres penanganan gangguan jaringan transmisi dan SKSO mencapai 90 persen di Sumatera. Menteri Meutya Hafid sebelumnya mengapresiasi progres pemulihan konektivitas di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatera: Sumatera Barat di atas 90 persen, Sumatera Utara 97-98 persen, dan Aceh 73,5 persen.
Upaya penguatan infrastruktur turut mencakup optimalisasi lebih dari 4.000 BTS 5G Telkomsel di 56 kota di Indonesia, meskipun detail spesifik untuk Sumatera tidak dirinci secara terpisah. Selain itu, TelkomGroup memperkuat pengamanan di 437 Point of Interest (POI) Mobile di area publik seperti tempat wisata, pusat perbelanjaan, jalur mudik, dan fasilitas transportasi publik. Untuk segmen enterprise, 1.665 POI diperkuat guna mendukung layanan publik. Kapasitas total jaringan TelkomGroup secara keseluruhan mencapai 23,2 Tbps, meningkat 12 persen secara tahunan, didukung oleh 14 infrastruktur kabel laut domestik serta jalur trafik internasional.
Kesiapsiagaan jaringan telekomunikasi yang andal selama Nataru memiliki implikasi signifikan terhadap mobilitas dan ekonomi daerah. Dengan lonjakan perjalanan masyarakat dan intensitas penggunaan layanan digital untuk komunikasi, hiburan, dan produktivitas, stabilitas jaringan menjadi penopang utama aktivitas sosial dan ekonomi. Menteri Meutya Hafid menekankan perlunya antisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem di wilayah-wilayah rawan hujan tinggi dengan menyiapkan power backup dan genset dalam kapasitas penuh. Hal ini mencerminkan pembelajaran dari gangguan jaringan sebelumnya yang seringkali dipicu oleh kondisi alam.
Telkomsel, sebagai anak perusahaan TelkomGroup, memproyeksikan kenaikan trafik data sebesar 17,9 persen dan trafik suara 13,2 persen selama Nataru, sementara trafik SMS diperkirakan menurun 0,7 persen dibandingkan rata-rata hari biasa. Kenaikan ini didominasi oleh layanan video streaming, media sosial, dan online gaming. Kesiapan jaringan di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), misalnya, difokuskan pada titik-titik strategis seperti penyeberangan Bakauheni Lampung, rest area Tol Bakauheni–Prabumulih, dan 53 titik POI lain yang meliputi pusat perbelanjaan dan kawasan wisata. General Manager Network Operations and Productivity Region Sumbagsel Telkomsel, Wawan Kuswandono, menyatakan prioritas menjaga jaringan tetap optimal agar pelanggan dapat tetap terhubung dengan nyaman. Penjagaan infrastruktur digital yang berkelanjutan di Sumatera diharapkan tidak hanya mendukung kelancaran momen Nataru tetapi juga mempercepat pemulihan dan transformasi digital di wilayah tersebut pascabencana.