
Penyelesaian proyek Base Transceiver Station (BTS) di Aceh oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) telah mencapai progres signifikan, dengan 73,5% menara telekomunikasi kini dilaporkan aktif beroperasi. Angka tersebut menandai fase krusial dalam upaya pemerintah mempersempit kesenjangan digital di provinsi paling barat Indonesia itu, yang secara historis menghadapi tantangan geografis dan infrastruktur.
Laporan terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengindikasikan bahwa dari target total pembangunan menara BTS di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di Aceh, sebagian besar telah fungsional, menyediakan akses 4G untuk komunitas yang sebelumnya terisolasi. Proyek ini, yang merupakan bagian integral dari Strategi Nasional Konektivitas Digital, bertujuan untuk memastikan ketersediaan infrastruktur telekomunikasi merata, mendukung aktivitas ekonomi digital, pendidikan jarak jauh, dan layanan kesehatan di daerah-daerah tersebut.
Secara historis, pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Aceh, seperti di banyak daerah 3T lainnya, dihadapkan pada hambatan berat, termasuk kondisi geografis yang menantang, ketersediaan listrik, dan logistik material. Inisiatif BAKTI Kominfo untuk membangun BTS 4G merupakan respons langsung terhadap kebutuhan mendesak untuk meningkatkan penetrasi internet di seluruh pelosok negeri, sejalan dengan agenda transformasi digital nasional. Proyek ini juga sempat diwarnai isu-isu kompleks, termasuk dugaan tindak pidana korupsi yang menimpa sejumlah pejabat terkait, yang sedikit banyak memperlambat implementasi awal. Namun, upaya percepatan dan pengawasan telah diterapkan untuk memastikan kelanjutan dan penyelesaian proyek.
Meskipun progres 73,5% menunjukkan pencapaian yang substansial, tantangan tersisa tetap ada. Sisa 26,5% dari menara BTS yang belum aktif kemungkinan besar berada di lokasi yang paling sulit dijangkau atau menghadapi masalah teknis dan perizinan. Penyelesaian instalasi daya listrik, seperti panel surya atau generator, serta optimalisasi transmisi, sering menjadi kendala utama dalam mengoperasikan menara telekomunikasi di daerah terpencil. Keberlanjutan operasional menara-menara ini juga memerlukan dukungan pemeliharaan jangka panjang dan koordinasi erat dengan penyedia layanan telekomunikasi seluler untuk memastikan kualitas layanan yang stabil bagi masyarakat.
Dampak jangka panjang dari aktivasi BTS ini diharapkan transformatif bagi Aceh. Konektivitas internet 4G berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui e-commerce, meningkatkan akses informasi dan pendidikan bagi pelajar di daerah terpencil, serta memfasilitasi telemedis. Komunitas yang sebelumnya terputus dari dunia luar kini dapat berpartisipasi lebih aktif dalam ekonomi digital nasional. Kendati demikian, pemerintah dan operator telekomunikasi harus terus berinvestasi dalam pemeliharaan dan peningkatan kapasitas jaringan untuk mengakomodasi peningkatan permintaan data, serta memastikan literasi digital masyarakat juga terus ditingkatkan agar manfaat infrastruktur ini dapat dimaksimalkan. Implementasi secara menyeluruh dan berkesinambungan adalah kunci keberhasilan program digitalisasi ini di Aceh.