:strip_icc()/kly-media-production/medias/3147394/original/052665700_1591673684-PicsArt_06-09-10.21.33.jpg)
Ponsel cerdas dengan kapasitas baterai jumbo 10.000 mAh dari Realme dan kemunculan iPhone layar lipat dari Apple diperkirakan akan menjadi pendorong utama inovasi di pasar teknologi global pada tahun 2026 dan seterusnya. Perkembangan ini mengindikasikan pergeseran strategis pabrikan untuk menjawab tuntutan konsumen akan daya tahan perangkat yang lebih lama dan form factor yang lebih revolusioner.
Realme, produsen ponsel asal Tiongkok, dikabarkan akan segera meluncurkan perangkat berkode nama RMX5107 yang dilengkapi baterai berkapasitas 10.001 mAh. Bocoran informasi menunjukkan ponsel ini menjalankan Realme UI 7.0 yang berbasis Android 16, ditenagai RAM 12GB, dan memiliki penyimpanan internal 256GB. Perangkat ini juga telah mendapatkan sertifikasi Hi-Res Audio dan persetujuan dari otoritas EEC Eropa, menandakan peluncuran komersial yang semakin dekat, kemungkinan pada awal tahun 2026. Sebelumnya, Realme telah memamerkan ponsel konsep GT 7 dengan baterai 10.000 mAh pada awal tahun 2025, yang menggunakan teknologi anoda silikon berkadar tinggi hingga 10% untuk mencapai kepadatan energi 887Wh/L, sambil tetap mempertahankan ketebalan kurang dari 8,5 mm dan berat sedikit di atas 200 gram. Langkah ini mengikuti tren yang telah dirintis oleh Honor dengan seri Honor Win yang juga menawarkan baterai 10.000 mAh. Peningkatan kapasitas baterai menjadi 10.000 mAh di ponsel komersial Realme menandai loncatan signifikan dari kapasitas terbesar Realme saat ini yang berada di kisaran 7.000 mAh. Tujuan utama di balik strategi ini adalah untuk mengatasi "kecemasan baterai" yang kerap dialami pengguna, memungkinkan penggunaan perangkat selama lebih dari 24 jam atau bahkan beberapa hari. Segmen baterai berkapasitas di atas 10.000 mAh saat ini menjadi yang tercepat pertumbuhannya di pasar baterai seluler.
Sementara itu, Apple, raksasa teknologi asal Amerika Serikat, diperkirakan akan mengumumkan iPhone layar lipat pertamanya pada paruh kedua tahun 2026. Namun, produksi massal dan pengiriman yang lancar mungkin baru akan terealisasi pada tahun 2027 akibat tantangan pada tahap awal produksi dan peningkatan skala. Analis terkemuka seperti Ming-Chi Kuo, Mark Gurman dari Bloomberg, dan leaker Jon Prosser telah secara konsisten menyuarakan prediksi ini. Desain iPhone lipat ini diantisipasi berbentuk "buku" atau "lipat lebar", yang akan terbuka menjadi layar seperti tablet sekitar 7,7 inci, dengan layar luar berukuran 5,3 hingga 5,5 inci saat dilipat. Perangkat ini kemungkinan akan dibanderol dengan harga premium antara $2.000 hingga $2.500, menempatkannya di segmen atas pasar ponsel lipat. Tantangan teknis utama yang dihadapi Apple meliputi daya tahan layar, desain engsel, dan upaya untuk menghilangkan bekas lipatan, meskipun laporan mengindikasikan adanya terobosan dalam pengembangan layar tanpa bekas lipatan. Apple dikenal mengutamakan kualitas dibandingkan kecepatan, sebuah filosofi yang diterapkan dalam pengembangan ponsel lipatnya. Dengan masuknya Apple, pasar ponsel lipat diperkirakan akan mengalami akselerasi pertumbuhan signifikan. Analis memprediksi Apple dapat menguasai sekitar 22% pangsa pasar ponsel lipat pada tahun pertama peluncurannya, mendorong pertumbuhan kategori keseluruhan mencapai atau melampaui 30% setiap tahun. Pasar ponsel lipat global diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 39,26% dari tahun 2025 hingga 2035, dengan estimasi nilai pasar sebesar USD 31,30 miliar pada tahun 2025. Perkembangan ini diharapkan akan semakin memicu persaingan inovasi di seluruh industri.