:strip_icc()/kly-media-production/medias/4706398/original/039666800_1704367377-20240104-Banjir_Kemang_Utara-4.jpg)
Cuaca ekstrem, baik hujan deras yang memicu genangan maupun panas terik yang menyengat, menjadi tantangan besar bagi kesehatan mobil. Kondisi drastis ini dapat memicu kegagalan fungsi pada berbagai komponen vital kendaraan, yang jika diabaikan bisa berujung pada kerusakan serius atau mogok di tengah jalan. Berikut adalah lima masalah kritis mobil yang sering terjadi saat berkendara di cuaca ekstrem dan cara mengatasinya.
1. Kegagalan Sistem Pendinginan (Overheating Mesin)
Mesin overheating adalah kondisi di mana suhu mesin meningkat melebihi batas normal yang aman (sekitar 90°C hingga 104°C). Cuaca panas terik dapat memperburuk kondisi ini, meskipun bukan penyebab utama langsung. Penyebab umumnya melibatkan masalah pada sistem pendingin, seperti kebocoran saluran radiator, penggunaan cairan pendingin yang tidak tepat, masalah pada kipas radiator, kerusakan tutup radiator, sensor temperatur, pompa air, atau termostat yang macet. Gejala yang bisa dirasakan antara lain AC tidak dingin, tenaga mobil berkurang, dan munculnya suara menggelitik dari mesin.
* Tips & Trik: Pastikan cairan pendingin (coolant) selalu terisi cukup dan gunakan yang berkualitas. Periksa kondisi tutup radiator, kipas, pompa air, selang radiator, dan termostat secara berkala. Hindari memaksakan mesin bekerja terlalu berat, terutama dalam perjalanan panjang atau saat macet di bawah terik matahari. Jika indikator suhu menunjukkan peningkatan, segera menepi ke tempat teduh, buka kap mesin untuk membantu pendinginan, namun jangan langsung membuka tutup radiator sebelum mesin dingin sepenuhnya.
2. Masalah Aki Mobil
Aki adalah sumber energi vital bagi kendaraan, dan suhu ekstrem memiliki pengaruh signifikan. Suhu dingin yang ekstrem dapat mengurangi kapasitas listrik aki, sehingga menyulitkan proses starter. Sebaliknya, suhu panas yang tinggi dapat mempercepat penguapan cairan elektrolit aki, menyebabkan penurunan kapasitas. Kelembaban tinggi juga bisa memicu korosi pada terminal aki, mengganggu aliran listrik. Komponen seperti lampu kabut, AC, dan wiper yang bekerja lebih keras di cuaca ekstrem juga meningkatkan beban pada aki.
* Tips & Trik: Periksa tegangan aki secara rutin dan pastikan terminal aki bersih dari kerak putih. Untuk aki basah, periksa level air aki. Batasi penggunaan aki jika sudah berusia 2-3 tahun atau menempuh jarak 50.000 km. Jika mobil jarang dipakai, gunakan charger aki untuk menjaga dayanya. Parkirkan mobil di tempat teduh saat cuaca panas.
3. Kerusakan dan Masalah Ban
Ban mobil sangat rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Pada cuaca panas, suhu aspal yang tinggi dapat menyebabkan ban overheat lebih cepat, udara di dalam ban mengembang, dan berisiko pecah jika tekanan awal sudah terlalu tinggi atau ban sudah aus. Sementara itu, cuaca hujan dapat menyebabkan ban cepat kempes karena penurunan tekanan udara akibat suhu yang turun, membuat konstruksi ban rapuh. Ban dengan tapak yang tipis atau aus juga sangat berbahaya karena mengurangi daya cengkeram, meningkatkan risiko aquaplaning atau tergelincir di jalan licin.
* Tips & Trik: Periksa tekanan angin ban secara rutin, setidaknya seminggu sekali, dan sesuaikan dengan rekomendasi pabrikan (sekitar 30-35 psi). Hindari beban berlebih dan pastikan ban tidak melewati usia pakai maksimumnya (sekitar tiga tahun). Saat perjalanan jauh di cuaca panas, berhentilah sejenak setiap beberapa jam untuk memberi waktu ban mendingin. Lakukan rotasi ban secara berkala untuk memastikan keausan merata. Gunakan ban yang sesuai dengan segala musim (all-season) untuk performa seimbang di panas maupun hujan.
4. Sistem Pengereman Menurun
Cuaca basah dan jalanan licin memaksa sistem pengereman bekerja lebih keras, meningkatkan risiko masalah. Air dapat mempercepat korosi pada kampas rem dan mengurangi efektivitas pengereman. Rem juga bisa macet atau "lengket" jika mobil diparkir dengan rem tangan aktif setelah melewati genangan air, karena kotoran dan karat menempel pada kampas dan piringan rem. Suhu ekstrem, baik dingin maupun panas, juga mempengaruhi kinerja rem. Cairan rem bisa lebih encer di suhu panas, sementara komponen rem bisa lebih kaku di suhu dingin.
* Tips & Trik: Periksa kondisi kampas rem secara berkala dan segera ganti jika menipis atau menimbulkan bunyi gesekan. Bersihkan cakram rem dari kotoran dan lumpur setelah berkendara di cuaca hujan. Pastikan minyak rem tidak berkurang dan ganti sesuai jadwal. Hindari mengaktifkan rem tangan terlalu lama jika mobil basah setelah hujan, pastikan posisi parkir aman. Lakukan uji pengereman ringan sebelum memulai perjalanan di cuaca basah.
5. Gangguan Sistem Kelistrikan
Sistem kelistrikan mobil sangat rentan terhadap air dan kelembaban tinggi saat cuaca ekstrem, terutama musim hujan. Air adalah penghantar listrik yang dapat menyebabkan korsleting jika masuk ke komponen vital seperti aki, sekring, kabel, dan ECU (Unit Kontrol Elektronik), yang bisa mengakibatkan mobil mogok. Wiper yang tidak berfungsi optimal juga menjadi masalah kritis karena mengurangi visibilitas pengemudi saat hujan deras.
* Tips & Trik: Periksa kabel-kabel dan soket kelistrikan untuk memastikan tidak ada yang terkelupas atau longgar. Pastikan aki dalam kondisi baik. Jika mobil mogok karena kena air, hindari panik, tepikan kendaraan, lalu bersihkan cop delco dan ujung kabel busi dengan lap kering. Untuk wiper, periksa kondisi karetnya secara rutin (ganti setiap enam bulan sekali) dan gunakan air wiper berkualitas. Hindari memarkir mobil di tempat terbuka terlalu lama saat hujan deras dan keringkan bagian mesin serta kelistrikan setelah mobil terendam air atau genangan.