:strip_icc()/kly-media-production/medias/5440892/original/036682300_1765446824-fungsi_timing_belt.jpg)
Sabuk penggerak waktu atau timing belt, komponen krusial berbahan dasar karet dalam mesin kendaraan, seringkali terabaikan hingga menunjukkan tanda-tanda kerusakan parah, padahal kegagalannya dapat memicu kerusakan mesin fatal dan biaya perbaikan yang mencapai jutaan rupiah. Komponen ini berfungsi vital dalam menyelaraskan putaran poros engkol (crankshaft) dan poros bubungan (camshaft), memastikan katup-katup mesin membuka dan menutup secara presisi sesuai dengan gerakan piston agar proses pembakaran internal berjalan optimal. Mengabaikan penggantian tepat waktu dapat menyebabkan benturan antara piston dan katup yang berujung pada klep bengkok, piston patah, bahkan mesin mati total.
Secara umum, pabrikan merekomendasikan penggantian timing belt berkala setiap 40.000 hingga 120.000 kilometer atau sekitar lima tahun, tergantung pada jenis kendaraan dan instruksi spesifik dalam buku manual. Namun, interval ini dapat bervariasi; beberapa model seperti Toyota Innova dan Fortuner diesel memiliki rekomendasi penggantian hingga 150.000 km atau lima tahun. Pemeriksaan visual disarankan setiap kendaraan menempuh jarak 40.000 hingga 60.000 km untuk mendeteksi potensi kerusakan lebih dini.
Gejala awal yang mengindikasikan timing belt perlu diganti meliputi kondisi karet yang getas atau keras, retakan pada permukaan sabuk (bukan pada gerigi), serta penipisan material. Timing belt yang kendur juga merupakan tanda peringatan serius karena dapat menyebabkan lepasnya sabuk dan mengganggu sinkronisasi mesin, bahkan terkadang disertai suara mesin yang lebih keras. Ausnya gerigi pada timing belt mengurangi cengkeraman pada camshaft, mengakibatkan kinerja yang tidak maksimal dan berpotensi putus. Indikator lain termasuk bunyi berdecit atau gemeretak dari mesin, getaran yang tidak biasa, penemuan debu atau serpihan karet di sekitar area timing belt, penyimpangan posisi pulley, hingga kebocoran oli di bagian depan mesin yang dapat merusak karet timing belt. Dalam kasus yang lebih parah, mesin dapat macet, mengeluarkan asap lebih banyak dari biasanya, atau bahkan mati mendadak dan tidak bisa dihidupkan kembali.
Technical Leader Nasmoco Demak, Eko Sulis, menegaskan bahwa timing belt, yang terbuat dari material karet, akan getas dan patah seiring waktu, sehingga penggantian berkala wajib dilakukan meskipun tidak ada kerusakan visual, untuk menghindari masalah di tengah perjalanan. Senada, Yudi, pemilik bengkel WRC Auto Care, mengingatkan bahwa jika timing belt putus saat mobil melaju kencang, keempat piston bisa terdampak tabrakan dengan klep, menyebabkan kerusakan parah. Mekanik Toha dari bengkel Pit Stop menambahkan, penyetelan timing belt harus pas, tidak boleh terlalu tegang atau kendur, karena memengaruhi daya tahan dan kerja piranti tersebut.
Dampak putusnya timing belt sangat merugikan. Kerusakan yang paling umum terjadi adalah bengkoknya klep mesin dan rusaknya pelatuk klep akibat tumbukan dengan piston, yang menuntut proses turun mesin atau overhaul yang memakan waktu dan biaya besar. Sebagai gambaran, biaya penggantian timing belt saja relatif terjangkau, misalnya untuk Daihatsu Xenia 1.0 Liter sekitar Rp 200.000-400.000, atau umumnya di bawah Rp 1 juta untuk komponennya. Namun, biaya perbaikan kerusakan mesin akibat timing belt putus bisa mencapai jutaan rupiah, dengan satu kasus perbaikan Daihatsu Espass di tahun 2018 menghabiskan dana kurang dari 3 juta rupiah untuk berbagai komponen terkait dan jasa perbaikan mesin. Secara internasional, biaya ini dapat berkisar antara USD 500 hingga USD 1000 atau lebih, terutama jika komponen lain seperti pompa air atau tensioner ikut diganti.
Meskipun banyak mobil modern beralih menggunakan timing chain (rantai waktu) yang dikenal lebih awet, mobil yang masih mengandalkan timing belt memerlukan perhatian khusus. Pentingnya memahami tanda-tanda kerusakan dan mematuhi jadwal penggantian yang direkomendasikan pabrikan bukan hanya tentang menjaga performa mesin, tetapi juga menghindari risiko kecelakaan akibat mesin mati mendadak saat berkendara. Pemilik kendaraan dianjurkan untuk secara rutin memeriksakan kondisi timing belt di bengkel terpercaya atau mengikuti panduan dalam buku manual untuk memastikan keselamatan dan umur panjang kendaraan.