Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

3.413 BTS Aceh Pulih Penuh, Tantangan Pasokan Listrik Menanti

2026-01-07 | 05:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-06T22:26:57Z
Ruang Iklan

3.413 BTS Aceh Pulih Penuh, Tantangan Pasokan Listrik Menanti

Sebanyak 3.413 menara Base Transceiver Station (BTS) di Provinsi Aceh telah kembali aktif pasca-gangguan akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut sejak akhir November 2025, namun stabilisasi pasokan listrik masih menjadi kendala utama dalam memastikan operasional berkelanjutan. Upaya pemulihan jaringan telekomunikasi yang krusial bagi koordinasi darurat dan aktivitas masyarakat ini menghadapi tantangan signifikan dari fluktuasi pasokan energi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria pada awal Desember 2025 menyatakan bahwa dari total 3.414 BTS di Aceh, sekitar 52 persen, atau 1.789 unit, telah aktif kembali. Angka 3.413 BTS yang aktif ini merupakan bagian dari progres pemulihan tersebut. Nezar Patria menjelaskan bahwa mayoritas perangkat BTS tidak mengalami kerusakan fisik serius akibat banjir dan tanah longsor. "Problem utama dari BTS di Aceh ini bukan hancur karena banjir karena kebetulan tempatnya itu relatif aman dari terpaan banjir. Problem utama kita adalah suplai listrik," ujarnya pada 5 Desember 2025. Pada masa tanggap darurat, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan 75 persen BTS dapat beroperasi untuk menunjang kebutuhan komunikasi.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, dalam pernyataan terbaru pada 5 Januari 2026, mengonfirmasi bahwa tingkat pemulihan jaringan telekomunikasi di Aceh telah mencapai sekitar 95 persen untuk seluruh operator seluler, dari total 3.208 BTS yang tersebar. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa puluhan BTS, termasuk sekitar 67 unit milik Telkomsel, masih bergantung pada genset karena pasokan listrik utama yang belum stabil. Ketergantungan pada genset menimbulkan tantangan logistik terkait ketersediaan bahan bakar dan batasan operasional 24 jam penuh untuk mencegah kerusakan mesin.

Gangguan jaringan telekomunikasi berdampak luas, menghambat koordinasi penyaluran bantuan logistik, layanan kesehatan, serta pelaporan data korban dan kondisi wilayah. Masyarakat di beberapa daerah seperti Gayo Lues masih kesulitan mengakses komunikasi stabil hingga awal Januari 2026, memaksa mereka mencari sinyal di dataran tinggi. Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, juga menyoroti bahwa listrik dan jaringan telekomunikasi di wilayahnya belum pulih sepenuhnya per 30 Desember 2025.

Akademisi dan konsultan hukum, Bukhari, mengkritik kurangnya cadangan daya memadai pada banyak BTS di Aceh. Idealnya, setiap BTS harus dilengkapi baterai atau genset yang mampu beroperasi minimal 4 hingga 8 jam setelah listrik utama terputus, namun praktiknya banyak yang hanya bertahan hitungan menit. Situasi ini mengindikasikan kelemahan dalam manajemen kedaruratan dan pemeliharaan infrastruktur, khususnya terkait ketersediaan bahan bakar cadangan saat akses transportasi terganggu bencana.

Sebagai solusi sementara, Komdigi telah menyalurkan perangkat komunikasi darurat berbasis satelit Starlink ke beberapa wilayah terdampak, termasuk Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara. Perangkat ini berfungsi sebagai sistem penyangga untuk menjaga komunikasi publik tetap terhubung. Namun, untuk jangka panjang, kendala pasokan listrik di daerah terpencil menuntut solusi energi yang lebih andal dan berkelanjutan. Opsi seperti microgrid yang mengintegrasikan energi surya, angin, atau biomassa, serta baterai penyimpanan energi, dapat menjadi kunci untuk memastikan ketahanan jaringan telekomunikasi di masa depan. Komdigi sendiri tengah mengembangkan sistem hibrida yang memanfaatkan energi surya dan baterai cadangan di wilayah Sumatra untuk menjaga BTS tetap aktif saat listrik utama padam.

Pemerintah Provinsi Aceh sebelumnya juga telah menghadapi tantangan dengan 149 desa yang mengalami "blank spot" atau tidak memiliki akses sinyal internet, menggarisbawahi urgensi perluasan cakupan dan keandalan jaringan. Pemulihan dan peningkatan kualitas jaringan telekomunikasi di Aceh, oleh karena itu, tidak hanya sekadar mengaktifkan kembali menara, tetapi juga memerlukan strategi komprehensif untuk mengatasi masalah mendasar pasokan listrik agar konektivitas masyarakat dapat terjamin secara berkelanjutan.