
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menargetkan unit bisnis infrastruktur digitalnya, Infranexia, akan menyumbang kontribusi pendapatan setara dengan Telkomsel pada tahun 2030. Langkah ambisius ini merupakan bagian integral dari strategi transformasi "Telkom 30" perusahaan untuk menyeimbangkan portofolio pendapatan grup yang saat ini masih sangat didominasi oleh segmen seluler.
Infranexia, yang secara resmi dikenal sebagai PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF), didirikan pada 8 Desember 2023 dan mulai beroperasi penuh mengelola seluruh layanan jaringan dan infrastruktur Telkom Indonesia secara end-to-end sejak Agustus 2024. Entitas baru ini dirancang untuk mengelola bisnis dan aset konektivitas serat optik grosir Telkom. Pada 18 Desember 2025, Telkom secara resmi menandatangani akta pemisahan aset serat optik tahap pertama kepada Infranexia, dengan nilai buku aset tahap pertama sekitar Rp 35 triliun. Secara keseluruhan, nilai aset Infranexia diproyeksikan mencapai Rp 90 triliun, atau sekitar US$ 5,4 miliar setelah seluruh proses spin-off rampung. Telkom akan mempertahankan 99,9% kepemilikan di Infranexia setelah transaksi ini.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menjelaskan bahwa target ini bukan berarti mengurangi pendapatan absolut Telkomsel, melainkan membangun "mesin pertumbuhan baru" dari segmen InfraCo, sektor data, dan grup B2B ICT. "Harapannya di 2030 ini proporsinya sudah hampir mendekati 50:50. Mungkin tidak sepenuhnya 50:50 tapi paling tidak sudah mendekati," ujar Seno, menegaskan ambisi Telkom untuk menciptakan keseimbangan sumber pendapatan di masa depan. Sebagai perbandingan, Telkomsel membukukan pendapatan sebesar Rp 81,3 triliun pada kuartal III-2025, termasuk kontribusi dari bisnis IndiHome. Pada kuartal kedua 2025, Telkomsel mencatat pendapatan Rp 53,8 triliun dari bisnis seluler, dengan bisnis digital menyumbang 90,6% dari total tersebut.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengungkapkan bahwa pemisahan aset ke Infranexia dilakukan karena pengelolaan infrastruktur jaringan, khususnya serat optik, memerlukan fokus, tata kelola, dan model bisnis yang lebih terdedikasi untuk menciptakan nilai optimal dan membuka ruang kemitraan strategis yang lebih luas. Kehadiran Infranexia diharapkan mempercepat implementasi strategi Telkom 30 melalui peningkatan efisiensi operasional, transparansi model bisnis grosir, serta penguatan peran Telkom Group sebagai enabler ekosistem digital nasional yang inklusif dan berdaya saing global.
Transformasi ini sejalan dengan strategi "Five Bold Moves" Telkom, yang mencakup Fixed Mobile Convergence (FMC) melalui integrasi IndiHome ke Telkomsel, pembentukan Data Center Co, Infra Co, B2B Digital IT Service Co, dan DigiCo. Integrasi IndiHome ke Telkomsel, yang secara legal selesai pada 1 Juli 2023, memungkinkan Telkomsel fokus pada bisnis B2C, sementara Telkom dapat berkonsentrasi pada bisnis B2B.
Infranexia akan mengelola infrastruktur serat optik Telkom yang sangat luas, mencakup 179.000 kilometer, setara empat kali keliling bumi, dan menjangkau 501 kota di Indonesia dan internasional. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan utilisasi kapasitas serat optik yang saat ini baru sekitar 40% termanfaatkan, sebagian besar oleh Telkomsel. Dengan model berbagi jaringan, Infranexia diharapkan dapat melayani berbagai Penyedia Layanan Internet (ISP) dan Operator Berlisensi Lainnya (OLO), menawarkan layanan seperti Bitstream dan VULA untuk memperluas jangkauan ke pelanggan akhir. Analis industri melihat langkah Telkom ini sebagai upaya strategis untuk mengoptimalkan portofolio aset, meningkatkan efisiensi operasional, dan sejalan dengan praktik global operator telekomunikasi besar seperti Telstra, Telecom Italia, dan Telefonica yang telah melakukan spin-off infrastruktur serupa. Upaya ini juga diharapkan mendukung agenda nasional percepatan pemerataan digital, peningkatan penetrasi fixed broadband, serta ketersediaan konektivitas yang andal dan berkualitas tinggi di seluruh wilayah Indonesia.