Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Banjir Sumatera 3 Pekan: Mengulik Kondisi Internet yang Terganggu

2026-01-03 | 06:54 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-02T23:54:56Z
Ruang Iklan

Banjir Sumatera 3 Pekan: Mengulik Kondisi Internet yang Terganggu

Setelah tiga pekan pasca banjir bandang dan tanah longsor menghantam sebagian besar wilayah Sumatra, meliputi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, akses internet dan layanan telekomunikasi digital kini mencapai tingkat pemulihan signifikan lebih dari 95 persen. Meskipun demikian, konektivitas di sejumlah titik kritis, khususnya di Aceh seperti Benar Meriah, Aceh Tamiang, dan Gayo Lues, masih menghadapi tantangan serius karena sangat bergantung pada pasokan listrik yang belum sepenuhnya stabil, dengan tingkat operasional jaringan berkisar antara 60 hingga 80 persen.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah mengonfirmasi bahwa sebagian besar menara Base Transceiver Station (BTS) yang terdampak telah kembali beroperasi. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyatakan bahwa pemulihan jaringan menjadi kebutuhan mendesak dalam situasi bencana dan upaya pemantauan akan terus dilakukan hingga kondisi benar-benar stabil. Hingga 13 Desember 2025, dari total 4.368 BTS yang terdampak di Sumatra Utara, sebanyak 4.273 unit atau 97,8 persen telah berfungsi kembali. Sementara itu, di Sumatra Barat, pemulihan mencapai 99,20 persen dengan 3.709 dari 3.739 BTS aktif per 10 Desember 2025.

Operator telekomunikasi besar seperti XLSmart melaporkan pemulihan jaringan di Aceh mencapai sekitar 95 persen, hampir 100 persen di Sumatra Utara, dan pulih penuh di Sumatra Barat pada akhir Desember 2025. Direktur & Chief Regulatory Officer XLSmart, Merza Fachys, menekankan bahwa pemulihan tidak hanya fokus pada infrastruktur tetapi juga keberlanjutan konektivitas masyarakat di masa krisis. Tantangan geografis seperti genangan banjir dan jalan terputus menjadi hambatan utama mobilisasi tim dan peralatan.

TelkomGroup, melalui anak usahanya Telkom Akses, mengerahkan 320 personel untuk mempercepat perbaikan, mengaktifkan kembali Sentral Telepon Otomat (STO), dan mengoperasikan perangkat kritis dengan genset portabel di wilayah yang belum pulih pasokan listriknya. EVP Telkom Regional 1 (Sumatra) Dwi Pratomo Juniarto menyebut bahwa perusahaan mengaktifkan layanan backup terbatas melalui satelit dan IP radio. Kerusakan terbanyak pada perangkat ONT pelanggan tercatat di Aceh akibat pemadaman listrik luas, dengan 62.547 perangkat pelanggan sempat tidak aktif. Pada 13 Desember 2025, TelkomGroup melaporkan sekitar 90 persen BTS mereka di Sumatra Utara dan Sumatra Barat telah kembali aktif, namun Aceh masih di angka 50 persen.

Telkomsel juga secara proaktif memulihkan jaringan dengan 76,5 persen layanan seluler (5.851 dari 7.640 situs) dan 79,7 persen layanan IndiHome (422.551 pelanggan) telah normal kembali per 3 Desember 2025. Perusahaan juga menyediakan "Paket Siaga Peduli Sumatera" gratis untuk memastikan masyarakat terdampak tetap dapat berkomunikasi.

Kendala utama dalam pemulihan, khususnya di Aceh, adalah terganggunya pasokan listrik, yang menyebabkan banyak BTS tidak dapat berfungsi meskipun perbaikan teknis telah dilakukan. Untuk mengatasi masalah ini, Komdigi mendistribusikan 88 perangkat Starlink ke tiga provinsi terdampak, dengan 27 unit dialokasikan untuk Aceh, 27 unit untuk Sumatra Utara, dan 34 unit untuk Sumatra Barat guna memastikan konektivitas di lokasi paling membutuhkan. Koordinasi intensif antara Komdigi, operator seluler, PLN, dan Pertamina menjadi kunci dalam upaya pemulihan.

Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Sumatra ini tidak terlepas dari akar persoalan kerusakan lingkungan. Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menunjukkan deforestasi di ketiga provinsi tersebut melonjak tajam antara 2016 hingga 2024, dengan total hutan yang hilang mencapai 1,4 juta hektare. Kawasan hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga ekologis kini lenyap akibat eksploitasi yang masif, memperparah dampak bencana hidrometeorologi.

Implikasi jangka panjang dari terganggunya jaringan telekomunikasi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial dan psikologis. Akses komunikasi yang terbatas menghambat koordinasi bantuan darurat, penyaluran informasi penting, dan kemampuan warga untuk menghubungi keluarga. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti pentingnya akses komunikasi bagi proses penyelamatan dan penyaluran bantuan. Selain itu, dampak psikologis bagi penyintas bencana juga signifikan, di mana mereka menghadapi tekanan ekstrem dan trauma yang membutuhkan dukungan psikososial berlapis dan komprehensif.

Pemulihan infrastruktur telekomunikasi pascabencana di Sumatra menjadi momentum bagi Komdigi untuk mengevaluasi secara menyeluruh ketahanan infrastruktur di daerah rawan bencana. DPR juga mengusulkan agar Komdigi membentuk lembaga untuk menanggulangi narasi sesat dan hoaks terkait penanganan bencana di berbagai platform media sosial, seperti yang terjadi dengan isu klaim Majelis Umum PBB membantu korban banjir Sumatra. Hal ini menegaskan bahwa konektivitas yang stabil dan informasi yang akurat adalah fondasi penting dalam respons dan pemulihan bencana.