:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5472173/original/041635800_1768350712-20260113_165131.jpg)
Startup infrastruktur pengisian kendaraan listrik (EV) Casion telah berhasil menyelesaikan program akselerator Grab Ventures Velocity (GVV) Batch 8, sebuah langkah strategis yang kini memposisikannya untuk mempercepat ekspansi jaringan pengisian daya di seluruh Indonesia. Keberhasilan ini menempatkan Casion sebagai salah satu dari lima startup yang terpilih dalam program intensif yang berfokus pada teknologi iklim, energi terbarukan, dan ekonomi sirkular, menandai sinergi krusial antara inovasi startup dan ekosistem platform digital.
Casion, yang beroperasi dengan visi menjadikan transisi kendaraan listrik tanpa hambatan, memanfaatkan platform berbasis data untuk mengidentifikasi lokasi strategis dan mengoptimalkan penempatan stasiun pengisian. CEO dan Co-Founder Casion, Kevin Pudjiadi, menyatakan potensi sinergi yang kuat dengan Grab. Ia menyebut kolaborasi ini tidak hanya akan mendukung kebutuhan pengisian daya, tetapi juga membantu Grab dalam mengembangkan armada kendaraan listriknya serta memetakan area ekspansi yang efektif. Perusahaan ini menargetkan perluasan jaringan hingga 10.000 stasiun pada tahun 2025 dan berkomitmen untuk melindungi lebih dari 5.000 konektor pengisian EV pada periode yang sama. Kemitraan strategis dengan NWP Property untuk membangun infrastruktur pengisian EV di Jakarta dan sekitarnya, dengan penerapan pengisi daya AC Wallbox 22 kW, menggarisbawahi pendekatan proaktif Casion dalam mengatasi tantangan infrastruktur.
Program Grab Ventures Velocity, yang telah berlangsung sejak 2018, dirancang untuk mendukung startup tahap pertumbuhan di Indonesia melalui mentorship mendalam, integrasi ke dalam ekosistem Grab, dan kesempatan presentasi kepada investor. Direktur Digital & Keberlanjutan Grab Indonesia, Rivana Mezaya, menegaskan bahwa ekosistem startup di Indonesia memiliki potensi besar untuk melahirkan inovasi teknologi dengan dampak sosial dan ekonomi nyata. Beliau menambahkan, integrasi dengan ekosistem Grab memungkinkan startup menguji model bisnis dan solusi teknologi mereka dalam kondisi pasar riil, memastikan relevansi dan skalabilitas solusi yang dibangun.
Perkembangan ini terjadi di tengah momentum adopsi kendaraan listrik yang meningkat pesat di Indonesia. Penjualan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) menunjukkan lonjakan signifikan, dari sekitar 3.200 unit pada Desember 2023 menjadi sekitar 38.774 unit penjualan grosir dari Januari hingga November 2024. Laporan PwC juga menunjukkan total penjualan EV di Indonesia melonjak 43,4% secara tahunan pada kuartal I-2025, mencapai 27.616 unit. Pangsa pasar EV dari total penjualan kendaraan penumpang di Indonesia meningkat dari 9% pada 2023 menjadi 15% pada 2024, dengan proyeksi mencapai 29% pada 2030. Pada Agustus 2024, jumlah kendaraan listrik roda empat di Indonesia mencapai 68.695 unit, dan diperkirakan akan mencapai 98.764 unit pada 2025 dan 2,88 juta unit pada 2034.
Meskipun pertumbuhan adopsi EV menjanjikan, tantangan dalam pengembangan infrastruktur pengisian daya masih signifikan. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga Juli 2022 mencatat hanya 332 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di 279 lokasi publik. Namun, jumlah ini meningkat pesat, dengan PLN melaporkan 1.582 unit SPKLU di 1.131 titik pada paruh pertama 2024, serta 2.182 Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) dan 9.956 Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU). Per Maret 2025, tercatat sekitar 3.772 unit SPKLU di 2.667 lokasi, yang kemudian melonjak menjadi 4.062 unit di 2.702 lokasi pada Juni 2025. Pemerintah Indonesia menargetkan pembangunan 24.720 unit SPKLU pada tahun 2030, didukung oleh regulasi seperti Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019 dan Peraturan Menteri ESDM No. 1 Tahun 2023 yang mengatur penyediaan infrastruktur pengisian listrik.
Tantangan lainnya termasuk keterbatasan infrastruktur listrik di daerah terpencil, biaya investasi tinggi, kesulitan dalam menemukan lokasi strategis, serta kurangnya standar nasional yang seragam, meskipun standar CCS2 dianjurkan untuk pengisian daya cepat DC. Kekhawatiran konsumen seperti jarak tempuh terbatas, waktu pengisian, dan ketidakpastian daya tahan baterai juga menjadi faktor penghambat adopsi massal. Namun, komitmen pemerintah terhadap insentif fiskal dan pengembangan infrastruktur, seperti yang diungkapkan oleh Lukmanul Arsyad, Industry and Services Leader & Partner PwC Indonesia, menunjukkan prospek yang menjanjikan. Peran startup seperti Casion, dengan dukungan dari akselerator seperti Grab Ventures Velocity, menjadi sangat penting dalam mengisi kesenjangan infrastruktur ini dan mempercepat transisi Indonesia menuju mobilitas listrik berkelanjutan.