:strip_icc()/kly-media-production/medias/5444224/original/057728400_1765773637-Casing_iPhone_17_Pro_dan_Pro_Max_01.jpg)
Pada Januari 2026, pasar ponsel pintar global menyaksikan Apple Inc. mempertahankan strategi harga premiumnya untuk lini terbaru iPhone 17, sementara secara bersamaan menerapkan penyesuaian signifikan pada model-model sebelumnya, khususnya seri iPhone 16, yang mengalami penurunan harga substansial. Dinamika ini terjadi di tengah tekanan inflasi komponen global dan fluktuasi nilai tukar mata uang yang menantang daya beli konsumen.
Model-model teratas dari seri iPhone 17 yang menjadi sorotan pada awal 2026 meliputi iPhone 17 Pro Max 256GB dengan harga sekitar Rp 24.999.000, serta iPhone 17 Pro 256GB yang dibanderol Rp 23.749.000. Sementara itu, iPhone 17 varian dasar dengan penyimpanan 256GB ditawarkan pada harga Rp 17.249.000. Harga-harga ini mencerminkan positioning Apple di segmen ultra-premium, menargetkan konsumen yang memprioritaskan inovasi terbaru dan fitur canggih.
Kontras dengan seri terbaru, model-model generasi sebelumnya mengalami koreksi harga signifikan. iPhone 16 Pro Max 256GB, misalnya, kini terpantau dijual mulai dari Rp 17.499.000, sebuah penurunan drastis dari harga peluncuran yang mencapai Rp 25.999.000. Demikian pula, iPhone 16 standar 128GB turun menjadi sekitar Rp 13.999.000 dari harga awal Rp 16.999.000. Penurunan harga ini terjadi sebagai bagian dari siklus tahunan Apple untuk membersihkan stok lama dan membuka ruang bagi lini produk terbaru, didukung oleh promo "New Year Sale" dari distributor resmi seperti iBox dan Digimap.
Kenaikan harga komponen utama, khususnya chip memori (RAM), menjadi faktor kunci yang mendorong potensi mahalnya perangkat elektronik di tahun 2026. Laporan analis industri terkemuka seperti Counterpoint Research dan TrendForce memprediksi harga ponsel pintar global akan melonjak signifikan. Average Selling Price (ASP) smartphone global diproyeksikan naik 6,9%, sebuah revisi dari prediksi sebelumnya 3,9%. Krisis pasokan chip memori ini dipicu oleh ledakan permintaan AI global, yang mengalihkan kapasitas produksi memori mobile (LPDDR) dan DRAM konsumen ke High Bandwidth Memory (HBM) untuk AI. Pemasok utama Apple, Samsung dan SK Hynix, dikabarkan menaikkan harga chip memori mulai Januari 2026, yang berpotensi membebankan sebagian biaya produksi kepada konsumen.
Di Indonesia, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga turut berkontribusi pada kenaikan harga produk impor, termasuk iPhone. Ekonom Senior Indef, Tauhid Ahmad, menyatakan bahwa pelemahan Rupiah akan memberikan dampak telak pada sektor riil dan konsumen di Indonesia, terutama yang berkaitan langsung dengan barang impor. Reseller resmi Apple di Indonesia telah menaikkan harga iPhone sebagai respons terhadap fluktuasi mata uang ini.
Apple secara konsisten menerapkan strategi harga yang berjenjang untuk menjaga eksklusivitas merek dan memenuhi berbagai segmen pasar. Dengan membagi pasar menjadi iPhone baru, lama, dan bekas, Apple berhasil menciptakan ekosistem harga yang stabil dan premium tanpa kanibalisasi antar segmen. Konsumen iPhone baru mendapatkan eksklusivitas, sementara pembeli model lama atau bekas dapat mengakses ekosistem Apple dengan harga lebih terjangkau. Pada Kuartal I 2025, pangsa pasar Apple secara global mencapai 19%, menempatkannya di posisi kedua setelah Samsung. Omdia melaporkan Apple tumbuh 4% secara tahunan pada Kuartal III 2025 dengan pengiriman 56,5 juta unit.
Meskipun terdapat tantangan biaya dan volatilitas pasar, Apple diproyeksikan akan terus berinvestasi pada teknologi kecerdasan buatan. Pendekatan hati-hati Apple terhadap AI, dengan fokus pada integrasi fitur AI yang mendalam ke dalam ekosistem perangkatnya, berpotensi membuahkan hasil manis di tahun 2026. Kenaikan harga smartphone akibat krisis chip global diperkirakan akan membuat siklus penggantian perangkat memanjang dari rata-rata 18-24 bulan menjadi 24-36 bulan, yang akan memengaruhi keputusan pembelian konsumen di masa depan. Di tengah prediksi kenaikan harga ini, model-model premium Apple, promosi berkelanjutan dari operator seluler, dan perangkat lipat diharapkan akan meningkatkan rerata harga jual menjadi sekitar US$984 atau sekitar Rp16,3 juta pada tahun 2026.