
detikcom bersama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) meluncurkan "Apresiasi Konektivitas Digital 2026", sebuah ajang penghargaan nasional yang bertujuan mengakui kontribusi individu, komunitas, dan institusi dalam memperluas akses serta meningkatkan literasi digital di seluruh Indonesia. Proses nominasi untuk 13 kategori penghargaan ini telah dibuka dan akan berakhir pada 15 Januari 2026, menandai upaya kolektif untuk mendorong percepatan transformasi digital yang inklusif dan berkelanjutan di tanah air.
Program ini secara spesifik mengapresiasi inovasi dan dedikasi dalam berbagai sektor, mencakup kategori seperti Provinsi Pendorong Ekonomi Digital, Desa Digital Unggulan, BUMDes Inovatif dalam Bisnis Digital, Puskesmas Inovatif dalam Digitalisasi Layanan Kesehatan, hingga Individu Pejuang Internet Masuk Desa dan Komunitas Pendorong Internet untuk Rakyat. Daftar kategori ini mencerminkan spektrum tantangan dan peluang dalam ekosistem digital Indonesia, dari tingkat makro pemerintahan hingga inisiatif akar rumput yang krusial bagi pemerataan konektivitas.
Penyelenggaraan Apresiasi Konektivitas Digital 2026 ini hadir di tengah lanskap digital Indonesia yang terus berkembang namun masih menghadapi disparitas signifikan. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa penetrasi internet nasional pada tahun 2025 telah mencapai lebih dari 80%, mencakup 229,4 juta jiwa dari total populasi. Meskipun demikian, pemerataan akses masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pulau Jawa mendominasi dengan tingkat penetrasi mencapai 84,69%, sementara wilayah seperti Maluku dan Papua masih mencatatkan angka penetrasi terendah, yakni 69,26% pada tahun 2025. Kesenjangan ini menciptakan tantangan struktural dalam membangun ekonomi digital yang merata, keamanan siber, dan kualitas layanan yang konsisten di seluruh wilayah.
Dukungan BAKTI Komdigi terhadap ajang ini mengindikasikan komitmen pemerintah untuk mengatasi isu-isu tersebut. Strategi nasional "Arah Indonesia Digital" yang diluncurkan pemerintah, dengan tiga pilar utama Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga, menjadi kerangka besar percepatan transformasi digital. Pilar "Terhubung" berfokus pada konektivitas digital yang inklusif, berkualitas, dan terjangkau, dengan target operasional penting seperti pelaksanaan lelang frekuensi 1.4 GHz pada tahun 2026 yang diharapkan mampu meningkatkan daya saing harga layanan internet. Perusahaan telekomunikasi besar seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk juga terus berinvestasi pada penguatan infrastruktur, termasuk perluasan jaringan serat optik dan pengembangan teknologi satelit, guna menjangkau pelosok negeri dan mendukung transformasi digital nasional.
Ajang Apresiasi Konektivitas Digital 2026 ini berpotensi menjadi katalis dalam mendorong inovasi lokal dan partisipasi komunitas. Dengan menyoroti keberhasilan di berbagai tingkatan, program ini dapat memicu replikasi model-model pengembangan digital yang efektif, khususnya di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang masih mengandalkan solusi konektivitas satelit karena belum ekonomis untuk infrastruktur fiber atau seluler. Pengakuan terhadap individu dan komunitas penggerak juga diharapkan dapat meningkatkan literasi digital masyarakat, yang esensial untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi digital dan mitigasi risiko siber. Kesuksesan transformasi digital Indonesia di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan regulator untuk mengatasi hambatan struktural 5G dan memastikan penegakan hukum digital yang kredibel, sembari menutup jurang kesenjangan digital yang terlihat jelas dalam data penetrasi 2025.