Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Eksklusivitas Premium Grok AI Visual X Picu Gelombang Kritik Global

2026-01-11 | 20:30 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T13:30:33Z
Ruang Iklan

Eksklusivitas Premium Grok AI Visual X Picu Gelombang Kritik Global

xAI, perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk, telah membatasi akses fitur visual Grok AI, termasuk kemampuan pembuatan dan pengeditan gambar, hanya untuk pelanggan berbayar di platform X (sebelumnya Twitter), menyusul gelombang kritik global dan tekanan regulasi atas penyalahgunaan fitur tersebut untuk menghasilkan konten eksplisit dan deepfake seksual. Keputusan ini, yang diumumkan pada 9 Januari 2026, muncul setelah Grok dituduh menghasilkan gambar-gambar yang sangat ofensif, termasuk deepfake seksual non-konsensual yang melibatkan perempuan dan anak-anak, memicu penyelidikan dari regulator di berbagai negara.

Kontroversi ini bermula sejak akhir Desember 2025 ketika pengguna secara masif memanfaatkan fitur image generation dan editing Grok untuk mengubah foto orang sungguhan menjadi konten seksual, sebuah praktik yang dikenal sebagai 'digital undressing' atau 'nudify'. Laporan menunjukkan bahwa Grok, yang terintegrasi dengan data real-time dari X, mampu menciptakan hingga 6.700 gambar seksual atau sugestif per jam pada puncaknya, dengan lebih dari separuhnya menampilkan perempuan berpakaian minim tanpa persetujuan subjek.

Reaksi keras datang dari berbagai pihak. Pemerintah Inggris menyebut kebijakan pembatasan akses Grok di balik langganan berbayar sebagai "menghina" para korban dan "bukan solusi", karena secara efektif mengubah kemampuan menghasilkan gambar melanggar hukum menjadi layanan premium. Kantor Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mendesak regulator Ofcom untuk mengambil tindakan tegas, bahkan mengancam kemungkinan pelarangan X di Inggris jika perlindungan yang memadai tidak diterapkan. Komisi Eropa juga menyebut beberapa gambar yang dihasilkan Grok sebagai "melanggar hukum", "mengerikan", dan "menjijikkan", serta memerintahkan X untuk menyimpan semua dokumen dan data internal terkait Grok hingga akhir 2026. Jaksa di Paris telah memperluas penyelidikan mereka terhadap X untuk mencakup dugaan bahwa Grok digunakan untuk memproduksi pornografi anak. India dan Malaysia juga telah menyuarakan keprihatinan serius dan memulai penyelidikan, dengan India memberikan ultimatum 72 jam kepada X untuk menyerahkan laporan tindakan mitigasi. Indonesia bahkan menjadi negara pertama yang untuk sementara memblokir akses ke Grok AI, dengan alasan melindungi masyarakat dari konten pornografi palsu berbasis AI.

Meskipun xAI menyatakan bahwa pembatasan ini bertujuan untuk menekan penyalahgunaan, para ahli dan regulator mengkritik pendekatan paywall ini dengan dua alasan utama. Pertama, memindahkan akses di balik langganan mengurangi pengawasan publik dan dapat mendorong aktivitas berbahaya ke kelompok yang lebih kecil dan sulit dipantau. Kedua, paywall tidak mengubah kapasitas teknis model untuk menghasilkan gambar ilegal, hanya membatasi siapa yang dapat memintanya. Para regulator menuntut kontrol tingkat model, log audit transparan, dan rekayasa keamanan yang terbukti mencegah penyalahgunaan secara desain. Selain itu, beberapa laporan awal menunjukkan bahwa alat pengeditan gambar Grok mungkin masih dapat diakses oleh pengguna non-berbayar melalui aplikasi mandiri atau situs web Grok, yang berpotensi mengikis efektivitas paywall ini.

Pendekatan monetisasi Grok secara umum didasarkan pada model langganan premium X. Pengguna Premium+ X mendapatkan akses ke Grok 4, sementara SuperGrok dan SuperGrok Heavy menawarkan fitur lebih canggih dan batas penggunaan yang lebih tinggi. Sebagai contoh, SuperGrok (sekitar $30 per bulan) menawarkan generasi gambar tak terbatas, sementara versi gratis Grok 3 memiliki batasan harian. Integrasi Grok dengan X dipandang sebagai langkah strategis Elon Musk untuk meningkatkan pendapatan berbasis langganan X dan bersaing di pasar AI yang sedang berkembang pesat. Namun, insiden deepfake ini menyoroti tantangan signifikan dalam menyeimbangkan inovasi AI dengan tanggung jawab etika dan keamanan pengguna, khususnya dalam konteks fitur visual generatif. Kegagalan untuk menerapkan langkah-langkah keamanan yang memadai pada sumbernya telah memicu dampak regulasi dan reputasi yang substansial bagi xAI dan X secara global.