
Teheran memberlakukan pemadaman internet nasional secara meluas sejak Kamis, 8 Januari 2026, di tengah gelombang demonstrasi yang dipicu krisis ekonomi dan anjloknya nilai tukar mata uang rial. Pemutusan akses komunikasi ini terjadi bersamaan dengan tawaran layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk yang diaktifkan secara "gratis" di Iran, sebuah langkah yang menyoroti tarik ulur antara kontrol informasi negara dan upaya masyarakat sipil untuk mendapatkan akses.
Pemerintah Iran secara historis telah menggunakan pemutusan akses internet sebagai alat strategis untuk meredam perbedaan pendapat, seperti yang terlihat selama gelombang protes besar pada 2022 dan 2023 menyusul kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi. Tindakan ini memperparah isolasi digital warga Iran, membatasi aliran informasi dari dan ke luar negeri. NetBlocks, kelompok pemantau jaringan internet, melaporkan bahwa pemadaman terbaru ini menyebabkan konektivitas nasional anjlok hingga sekitar 1% dari kondisi normal pada Jumat, 9 Januari 2026. Direktur Keamanan Internet dan Hak Digital di Miaan Group, Amir Rashidi, mencatat bahwa situasi saat ini sangat tidak biasa, dengan layanan domestik dan sistem pembayaran yang terganggu parah.
Menyikapi pemadaman tersebut, Elon Musk, CEO SpaceX, telah mengaktifkan layanan internet satelit Starlink di Iran. Tawaran ini juga mencakup penghapusan biaya berlangganan Starlink, memungkinkan pengguna dengan penerima perangkat untuk mengakses layanan tanpa membayar. Musk sebelumnya menegaskan pada Juni 2025 bahwa "sinyal sudah aktif" di Iran, menanggapi permintaan untuk menyediakan akses Starlink di negara tersebut. Langkah ini didukung oleh Amerika Serikat, dengan Presiden Donald Trump menyatakan pada Senin, 12 Januari 2026, bahwa ia akan menghubungi Musk untuk mengirimkan terminal Starlink guna memulihkan layanan internet. Sebelumnya, pada September 2022, Departemen Keuangan AS telah mengeluarkan izin umum untuk memperluas akses internet di Iran, termasuk melalui teknologi Starlink, guna mendukung kebebasan berekspresi dan aliran informasi.
Namun, implementasi Starlink di Iran menghadapi tantangan signifikan. Pemerintah Iran telah secara resmi melarang penggunaan Starlink pasca konflik 12 hari dengan Israel pada Juni 2025, menetapkan sanksi berat bagi siapa pun yang menggunakan atau mendistribusikan teknologi komunikasi tanpa izin. Lebih lanjut, Iran menunjukkan kemampuan canggih dalam perang elektronik dengan berhasil mengganggu sinyal Starlink. Analisis data menunjukkan bahwa operasi gangguan elektronik Iran awalnya mempengaruhi sekitar 30% lalu lintas unggah dan unduh Starlink, kemudian meningkat tajam hingga melampaui 80% dalam beberapa jam. Para ahli menyoroti bahwa Iran mampu melumpuhkan satelit Starlink dengan menggunakan pengacau GPS untuk memutus komunikasi, sebuah kemampuan yang diyakini berasal dari sistem peperangan elektronik kelas militer, yang beberapa laporan mengindikasikan mungkin didukung oleh teknologi Rusia seperti Krasukha-4. Direktur Eksekutif Holistic Resilience, Ahmad Ahmadian, mengakui bahwa meskipun Starlink dapat berfungsi dengan "cukup sederhana" hanya dengan menempatkan terminal satelit di tempat yang memiliki pandangan jelas ke langit, pemerintah Iran memiliki kemampuan untuk mengganggu sinyal tersebut.
Meskipun terdapat ribuan terminal Starlink yang beroperasi secara ilegal di Iran melalui pasar gelap, jumlah ini masih tergolong kecil dibandingkan populasi Iran yang mencapai sekitar 92 juta jiwa, membatasi dampak jangkauannya. Penggunaan Starlink juga dihadapkan pada kendala teknis dan logistik, termasuk harga perangkat yang mahal, sekitar 599 dolar AS ditambah biaya bulanan, yang tidak terjangkau bagi sebagian besar warga di tengah tekanan ekonomi dan sanksi internasional.
Implikasi dari upaya pemadaman internet dan aktivasi Starlink ini multifaset. Bagi warga Iran, pemutusan internet menghambat akses terhadap informasi, menghalangi koordinasi protes, dan mempersempit ruang kebebasan berekspresi. Organisasi hak asasi manusia menuduh aparat keamanan menggunakan metode represif tambahan, termasuk penggerebekan rumah sakit untuk menangkap demonstran yang terluka. Di sisi lain, Starlink mewakili jalur komunikasi darurat yang krusial, berpotensi memberikan harapan bagi aktivis dan warga sipil yang ingin terhubung dengan dunia luar, meski dengan risiko tinggi penyitaan perangkat dan hukuman pidana.
Dari perspektif geopolitik, keterlibatan Starlink dalam konflik internal Iran menempatkan perusahaan swasta teknologi pada garis depan ketegangan internasional, menciptakan preseden baru dalam peperangan informasi dan kedaulatan digital. Keberhasilan Iran dalam mengganggu Starlink juga menunjukkan bahwa negara dengan kapabilitas peperangan elektronik yang canggih dapat menetralkan layanan internet satelit orbit rendah bumi, sebuah perkembangan yang memiliki implikasi signifikan terhadap masa depan komunikasi berbasis ruang angkasa dalam konflik global. Para ahli seperti Amir Rashidi bahkan menyebut bahwa kemampuan Iran melumpuhkan Starlink merupakan "detik bersejarah" yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perang elektronik ini mengubah Starlink dari alat sipil menjadi sasaran keamanan nasional, menantang persepsi bahwa konstelasi satelit tidak dapat dijatuhkan.
Ke depan, dinamika antara kontrol informasi oleh negara dan upaya masyarakat global untuk mempertahankan akses internet diperkirakan akan terus berkembang. Inovasi teknologi seperti Starlink akan terus mencari cara untuk menembus sensor, sementara negara-negara akan berinvestasi lebih lanjut dalam teknologi pengacau dan pengawasan untuk mempertahankan kendali atas ruang digital mereka. Pertarungan atas akses internet di Iran menjadi studi kasus penting dalam evolusi kebebasan digital dan implikasi jangka panjang terhadap tatanan informasi global.