:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5472060/original/042327800_1768308786-20260113_164009.jpg)
Lima startup teknologi hijau di Jakarta secara resmi menyelesaikan program akselerator Grab Ventures Velocity (GVV) Batch 8 pada Selasa, 13 Januari 2026, menandai komitmen Grab terhadap inovasi berkelanjutan di tengah meningkatnya kebutuhan solusi ramah lingkungan di Asia Tenggara. Program yang bertema "Driving a Sustainable Future: Helping MSMEs to Adopt Greener Operations" ini meluluskan lima inovator dari lebih dari 160 pendaftar, menekankan fokus pada ekonomi sirkular dan energi terbarukan.
Inisiatif Grab Ventures Velocity, yang telah berjalan sejak 2018, secara konsisten mendukung ekosistem startup lokal dengan menawarkan pendampingan intensif, integrasi ke dalam ekosistem digital Grab, dan peluang untuk presentasi kepada investor. Program ini telah meluluskan 40 startup dengan tingkat keberlanjutan mencapai 85%, melampaui rata-rata global. Batch kedelapan ini menghadirkan startup yang beragam, masing-masing dengan solusi unik untuk masalah lingkungan yang mendesak. CASION, misalnya, mengembangkan jaringan stasiun pengisian kendaraan listrik dengan pemantauan dan pembayaran melalui aplikasi, menawarkan solusi hemat biaya untuk sektor mobilitas mikro dan logistik. Kevin Pudjiadi, CEO dan Co-Founder Casion, mencatat potensi sinergi yang kuat dengan Grab, khususnya dalam pengembangan armada kendaraan listrik perusahaan.
Startup lainnya, Jejakin, menyediakan platform teknologi iklim untuk perhitungan emisi, penanaman pohon, dan sistem MRV (Monitoring, Reporting, and Verification) yang didukung oleh kecerdasan buatan, satelit, dan IoT. Liberty Society, sebuah perusahaan sosial bersertifikasi B Corp, mengubah limbah menjadi produk dan kampanye B2B ramah lingkungan, sekaligus memberdayakan perempuan. Rekosistem bergerak dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi, mengelola 5.500 ton sampah per bulan dari rumah tangga dan bisnis melalui 15 Reko Hubs, 40 Reko Waste Stations, dan lebih dari 600 lokasi mitra. Terakhir, Sirsak berfokus pada pengelolaan sampah kemasan B2B dengan lebih dari 320 titik pengumpulan, dengan target memproses 100.000 ton sampah pada tahun 2030.
Fokus pada startup hijau mencerminkan pergeseran strategis dalam lanskap teknologi dan investasi regional. Pasar teknologi iklim di Asia Tenggara diperkirakan mencapai $102 miliar pada tahun 2023 dan diproyeksikan tumbuh menjadi $350 miliar pada tahun 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan lebih dari 20%. Investasi swasta hijau di enam negara Asia Tenggara utama melonjak 43% secara tahunan menjadi US$8 miliar pada tahun 2024, dengan Indonesia memimpin dengan 67% pendanaan teknologi iklim di ASEAN. Sektor pengelolaan sampah khususnya mengalami peningkatan kesepakatan sebesar 60% pada tahun 2024.
Neneng Goenadi, Country Managing Director Grab Indonesia, menegaskan bahwa GVV hadir untuk memperkuat ekosistem startup lokal agar adaptif, berkelanjutan, dan siap untuk scale-up, terutama di tengah tantangan pendanaan sejak "tech winter" 2022. Data CELIOS menunjukkan bahwa pendanaan startup digital di Indonesia turun 66% pada tahun 2023, namun kontribusi korporasi tetap signifikan, mencapai 34% dari total pendanaan nasional. Rivana Mezaya, Director of Digital & Sustainability Grab Indonesia, menambahkan bahwa ekosistem startup Indonesia memiliki potensi besar untuk terus menghasilkan inovasi teknologi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan ekonomi. Ia juga menekankan bahwa melalui integrasi dengan ekosistem Grab, startup dapat menguji model bisnis dan solusi teknologi mereka secara langsung, memastikan relevansi dan kesiapan untuk skala yang lebih besar.
Dukungan Grab terhadap startup hijau sejalan dengan komitmen perusahaan terhadap masa depan yang berkelanjutan dan netralitas karbon. Grab telah mengoperasikan lebih dari 11.000 kendaraan listrik di Indonesia sejak 2019. Baru-baru ini, pada 8 Januari 2026, Grab mengumumkan kemitraan strategis dengan Guangzhou Automobile Group (GAC) untuk memperluas adopsi kendaraan listrik di Asia Tenggara, dengan rencana penyediaan hingga 20.000 kendaraan listrik berperforma tinggi di enam negara.
Meskipun investasi hijau di Asia Tenggara menunjukkan pertumbuhan, masih terdapat kesenjangan pendanaan yang substansial. Diperlukan sekitar $1,5 triliun hingga tahun 2030 untuk transisi hijau, namun hanya $45 miliar yang diinvestasikan dalam investasi hijau khusus pada tahun 2023. Kawasan ASEAN membutuhkan setidaknya US$200 miliar dalam investasi energi tahunan hingga 2030, dengan tiga perempatnya dialokasikan untuk energi bersih, namun hanya menarik US$50 miliar pada tahun 2025. Dalam konteks ini, program akselerator seperti Grab Ventures Velocity memainkan peran krusial dalam menjembatani kesenjangan tersebut dengan membina startup yang fokus pada solusi berkelanjutan, sekaligus menyediakan platform untuk validasi pasar dan akses ke jaringan investor strategis seperti Superbank dan Genesis Alternative Ventures. Inisiatif ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi tetapi juga mempercepat transisi menuju ekonomi yang lebih hijau di seluruh Asia Tenggara.