:strip_icc()/kly-media-production/medias/3150608/original/034688400_1591913197-ps5-2.jpg)
Distributor resmi PlayStation di Indonesia mulai memberlakukan penyesuaian harga untuk konsol PlayStation 5 (PS5) varian Slim 1TB pada Januari 2026, menandai penurunan signifikan yang diperkirakan akan memicu peningkatan adopsi di pasar lokal. Konsol tersebut kini tersedia dengan harga ritel sekitar Rp 7.999.000, turun dari harga peluncuran yang berada di kisaran Rp 8.699.000 hingga Rp 9.299.000 untuk versi standar tanpa bundel game tertentu. Penurunan harga ini muncul seiring dengan strategi global Sony Interactive Entertainment (SIE) untuk mempertahankan momentum penjualan di tengah siklus hidup konsol yang semakin matang serta persaingan ketat di segmen hiburan digital.
Sejak peluncuran versi Slim pada akhir tahun 2023, PS5 telah mengalami berbagai dinamika pasar, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Pada awalnya, harga PS5, termasuk versi standar dan kemudian versi Slim, cenderung stabil bahkan sempat mengalami sedikit kenaikan akibat fluktuasi nilai tukar rupiah dan kendala logistik global pasca-pandemi. Namun, memasuki tahun 2025, pasar konsol game menunjukkan tanda-tanda stabilisasi pasokan, memungkinkan Sony untuk mulai mempertimbangkan strategi harga yang lebih agresif. Analis industri game di Asia Tenggara, Risa Prastuti dari GameTech Insights, menyatakan bahwa penurunan harga ini adalah langkah yang diantisipasi. "Setelah tiga tahun di pasar, wajar bagi konsol untuk mencapai titik di mana pengurangan biaya produksi dan efisiensi rantai pasok memungkinkan penyesuaian harga. Ini juga strategi umum untuk menarik konsumen yang sebelumnya enggan membeli karena harga awal yang dianggap premium," ujar Prastuti dalam wawancara telepon.
Implikasi jangka panjang dari penurunan harga ini diperkirakan akan beragam. Bagi konsumen, harga yang lebih terjangkau berpotensi membuka akses bagi segmen pasar yang lebih luas, terutama mereka yang menunggu titik harga yang lebih menarik. Hal ini dapat mendorong peningkatan penjualan unit, yang pada gilirannya akan memacu pertumbuhan penjualan perangkat lunak dan aksesori PlayStation. Industri ritel game di Indonesia juga akan merasakan dampak positif, dengan potensi peningkatan volume transaksi. Namun, bagi para pengecer kecil dan menengah, margin keuntungan mungkin sedikit tertekan akibat penyesuaian harga dari distributor. Penurunan harga ini juga dapat menjadi respons terhadap tekanan kompetitif dari platform gaming lain, termasuk PC gaming yang semakin terjangkau dan layanan cloud gaming yang mulai merambah pasar Indonesia, meskipun penetrasi cloud gaming masih terbatas karena infrastruktur internet. Kevin Susanto, seorang pemerhati pasar game dari Asosiasi Game Indonesia, menambahkan, "Langkah ini juga bisa dilihat sebagai upaya Sony untuk mengamankan pangsa pasar menjelang potensi rilis konsol generasi berikutnya atau revisi model yang lebih canggih dalam beberapa tahun ke depan. Mereka ingin memaksimalkan penjualan unit di siklus tengah ini." Langkah ini menunjukkan adaptasi Sony terhadap realitas pasar global dan lokal, di mana harga tetap menjadi faktor penentu utama bagi sebagian besar konsumen.