Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Indosat Akselerator Indonesia Raih Takhta AI Regional

2026-01-08 | 01:13 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T18:13:30Z
Ruang Iklan

Indosat Akselerator Indonesia Raih Takhta AI Regional

Indonesia sedang memposisikan diri untuk menjadi pemimpin kecerdasan buatan (AI) regional, sebuah ambisi yang didukung oleh proyeksi kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan tingginya antusiasme digital. Pasar AI di Indonesia diperkirakan akan menyumbang sekitar 12% peningkatan PDB nasional, atau setara dengan USD366 miliar pada tahun 2030, menurut laporan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Angka ini jauh melampaui target pertumbuhan ekonomi nasional dan menunjukkan peluang transformatif AI bagi negara. Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), sebagai salah satu pemain telekomunikasi terkemuka, telah mengambil peran sentral dalam memajukan ekosistem AI nasional, tidak hanya sebagai pengguna tetapi juga sebagai pengembang dan pembentuk talenta AI.

Visi Indonesia untuk menjadi kekuatan AI regional tidak terlepas dari lanskap ekonomi digitalnya yang masif. Ekonomi digital Indonesia telah tumbuh 14% dibandingkan tahun lalu, mencapai total nilai ekonomi digital (Gross Merchandise Value/GMV) hampir USD100 miliar, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara. Negara ini juga menduduki peringkat keenam dengan jumlah startup terbesar di dunia, termasuk 15 unicorn dan 2 decacorn, yang menandakan kesiapan Indonesia menjadi pemain utama di era AI. Terlebih lagi, Indonesia tercatat sebagai negara ketiga dengan pengguna AI terbanyak di dunia, dengan 1,4 miliar kunjungan ke platform berbasis AI pada tahun 2024, menunjukkan antusiasme publik yang tinggi terhadap teknologi ini. Laporan Amazon Web Services (AWS) juga mencatat bahwa hampir sepertiga perusahaan di Indonesia telah menggunakan solusi AI, bergerak dari fase eksperimen menuju pemanfaatan praktis.

Dalam konteks ini, Indosat Ooredoo Hutchison telah secara agresif berinvestasi dalam kecerdasan buatan, mengumumkan strategi "Northstar AI" dengan tiga pilar utama: AI Native Telco, AI Native Techco, dan Nation Shaper. Sebagai AI Native Telco, Indosat telah mengintegrasikan AI ke semua lini produksinya untuk membantu karyawan bekerja lebih baik dan meningkatkan kinerja perusahaan. Konsep AI Native Telco telah membawa manfaat nyata, seperti program Know Your Customer (KYC) berbasis AI yang memungkinkan hyper-personalisasi layanan bagi lebih dari 100 juta pelanggan, serta optimalisasi penempatan menara BTS untuk efisiensi investasi.

Sebagai AI Native Techco, Indosat berinvestasi pada sovereign AI cloud dan telah membangun "AI factory" di Lintasarta, anak usahanya, yang dibuat di Indonesia, oleh Indonesia, dan didukung oleh perusahaan global seperti Nvidia dan Google. Inisiatif ini bersifat kedaulatan, bertujuan membantu adaptasi awal AI di Indonesia. Kolaborasi dengan Nvidia dan Accenture dalam mengembangkan full stack sovereign AI juga bertujuan memastikan teknologi AI dikembangkan secara mandiri melalui infrastruktur, data, dan talenta lokal.

Pilar Nation Shaper menunjukkan komitmen Indosat untuk membentuk ekosistem dan talenta AI di Indonesia. Perusahaan ini menargetkan untuk melatih satu juta talenta AI bersertifikasi hingga tahun 2027 melalui program seperti IDCamp, bekerja sama dengan pemerintah dan universitas. Peningkatan talenta AI sangat krusial, mengingat Indonesia membutuhkan jumlah talenta yang masif untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 dan bersaing di tingkat global. Konsentrasi talenta AI di Indonesia menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 191% dalam kurun waktu 2016 hingga 2024, menempatkannya sejajar dengan negara-negara maju dalam pengembangan teknologi digital.

Pemerintah Indonesia juga telah menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan AI. Pada tahun 2020, pemerintah merancang Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas AI) 2020-2045, dengan empat area fokus: etika dan kebijakan, pengembangan talenta, infrastruktur dan data, serta riset dan inovasi industri. Stranas AI juga memuat lima bidang prioritas, termasuk layanan kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan talenta, pengembangan kota pintar, dan keamanan pangan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah terus memberikan dukungan terhadap transformasi digital. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria juga menegaskan kesiapan Indonesia untuk mengintegrasikan AI secara menyeluruh ke seluruh aspek kehidupan masyarakat, mendorong pemanfaatan AI secara etis, adil, dan inklusif. Indonesia adalah negara Asia Tenggara pertama yang menyelesaikan Readiness Assessment Methodology for Artificial Intelligence (RAM AI) dari UNESCO pada tahun 2024, menggarisbawahi kesiapan dan keinginan bangsa untuk merangkul peluang transformatif AI.

Meskipun potensi AI di Indonesia sangat besar, sejumlah tantangan masih harus diatasi. Infrastruktur digital dan konektivitas yang belum merata, terutama di luar Pulau Jawa, menjadi hambatan utama. Kecepatan internet rata-rata Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga. Selain itu, ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten dan terampil dalam bidang AI masih menjadi tantangan. Kurangnya akses ke data berkualitas, regulasi yang belum memadai, isu etika dan privasi, serta pendanaan riset AI yang masih terbatas juga memerlukan perhatian. Pemerintah telah berupaya mengatasi tantangan infrastruktur dengan membangun jaringan fiber optik Palapa Ring dan satelit multifungsi Satria-1. Pusat data juga direncanakan akan dibangun di Batam, Ibu Kota Nusantara (IKN), dan Jabodetabek.

Namun, penting untuk menggarisbawahi bahwa kesuksesan AI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada investasi dalam talenta lokal dan pengembangan kapabilitas. Dengan proyeksi pasar AI di Indonesia mencapai USD9,1 miliar pada tahun 2031, tumbuh 306,4% dari tahun 2022, kolaborasi strategis antara pemerintah, pelaku usaha, dan investor akan menjadi kunci untuk mengubah antusiasme pengguna menjadi inovasi domestik dan memposisikan Indonesia sebagai pemimpin AI di tingkat regional.