
Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) telah diakui dalam daftar "2025 Fortune Best Companies to Work For Southeast Asia", menandai pengakuan signifikan terhadap strategi sumber daya manusia dan budaya perusahaan. Perusahaan ini menjadi satu-satunya entitas telekomunikasi asal Indonesia yang berhasil menembus daftar bergengsi tersebut setelah melalui proses seleksi ketat di seluruh kawasan. Penghargaan ini menegaskan komitmen Indosat terhadap transformasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berpusat pada manusia serta penciptaan lingkungan kerja yang inklusif dan mendukung kesejahteraan karyawan.
Pengakuan oleh Fortune dan Great Place To Work ASEAN & ANZ, yang diumumkan pada Desember 2025, merupakan bagian dari peluncuran daftar perdana "Fortune 100 Best Companies to Work For Southeast Asia". Metodologi penilaian didasarkan pada survei ekstensif terhadap 1,3 juta karyawan dari lebih 450 perusahaan di sepuluh pasar Asia Tenggara, mengukur tingkat kepercayaan, keadilan, dan dukungan di tempat kerja. Skor Trust Index di antara perusahaan yang diakui berkisar antara 80% hingga 92%, jauh melampaui rata-rata regional sebesar 67%, menunjukkan bahwa kesejahteraan karyawan dan kesuksesan bisnis saling terkait. Bagi Indonesia dan Singapura, integritas dan transparansi kepemimpinan menjadi faktor yang sangat dihargai oleh karyawan.
Pencapaian ini berakar pada upaya berkelanjutan Indosat, terutama setelah merger Indosat Ooredoo dan Hutchison 3 Indonesia pada tahun 2022. Integrasi dua budaya perusahaan yang berbeda merupakan tantangan besar yang dihadapi IOH, namun berhasil diatasi dengan pendekatan "people-first". Direktur dan Chief Human Resources Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Irsyad Sahroni, sebelumnya telah menekankan pentingnya menciptakan pengalaman karyawan terbaik di mana setiap individu merasa dihargai secara profesional dan pribadi.
Indosat telah mengintegrasikan AI secara mendalam ke dalam operasional dan pengembangan karyawannya. Perusahaan ini menyediakan lebih dari 400 pelatihan per tahun dan 25.000 kursus daring, membuka peluang peningkatan kompetensi, terutama dalam kecakapan AI. Inisiatif seperti Administration Assistant Robotic Indosat (ASTRID), asisten virtual HR bertenaga AI, menyederhanakan proses administratif dan memberikan dukungan cepat, sementara Career Simulator menggunakan pembelajaran mesin untuk membantu karyawan menjelajahi jalur karier di dalam perusahaan. Penggunaan AI di Indosat bertujuan untuk meningkatkan efisiensi energi, mendukung tim penjualan dalam mengelola stok, dan memberikan rekomendasi karier yang lebih personal.
Dampak positif dari strategi ini tercermin dalam skor Employee Net Promoter Score (eNPS) yang mencapai 94% untuk aspek keterlibatan dan pemberdayaan karyawan. President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menyatakan bahwa membangun talenta AI-native dalam organisasi tidak hanya mempersiapkan perusahaan untuk masa depan, tetapi juga mempersiapkan setiap karyawan untuk masa depan mereka sendiri. Ia menambahkan, "Ketika kami menjaga kesejahteraan dan pertumbuhan karyawan, mereka akan menjaga dan menguatkan bisnis kami."
Pengakuan ini datang di tengah pertumbuhan bisnis yang solid. Pada kuartal ketiga 2025, pendapatan Indosat tumbuh 3,8% dan laba bersih naik 29,1% dibandingkan kuartal sebelumnya, sebuah hasil yang oleh manajemen dikaitkan dengan pemberdayaan karyawan. Di sisi kesejahteraan, Indosat mendukung karyawan melalui fasilitas klinik kesehatan, akses psikolog dan layanan mental, serta komunitas hobi dan olahraga. Indosat juga menargetkan peningkatan representasi pemimpin perempuan, sebuah langkah krusial mengingat rendahnya partisipasi perempuan di dunia kerja yang hanya mencapai 54%.
Pencapaian Indosat memiliki implikasi signifikan bagi lanskap telekomunikasi dan ketenagakerjaan di Asia Tenggara. Kawasan ini mengalami transformasi digital yang pesat dan permintaan tinggi akan talenta teknologi, namun dihadapkan pada kesenjangan talenta. Dengan masuknya Indosat dalam daftar bergengsi ini, perusahaan memperkuat daya tariknya sebagai magnet talenta di tengah persaingan ketat. Ini juga menempatkan Indosat sebagai tolok ukur bagi perusahaan telekomunikasi lain di Indonesia dan Asia Tenggara dalam mengintegrasikan teknologi canggih seperti AI dengan pendekatan yang berpusat pada manusia untuk memacu pertumbuhan dan mempertahankan tenaga kerja berkualitas. Seiring ekonomi digital ASEAN yang diperkirakan akan tumbuh 6,4 kali lipat mencapai hampir 200 miliar dolar AS pada tahun 2025 dari 31 miliar dolar AS pada tahun 2015, model Indosat menjadi relevan dalam membentuk hubungan kerja dan pengembangan talenta di masa depan.