Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Infranexia Kini Kelola Aset Fiber Rp 90 Triliun Milik Telkom

2026-01-01 | 04:01 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T21:01:44Z
Ruang Iklan

Infranexia Kini Kelola Aset Fiber Rp 90 Triliun Milik Telkom

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) secara resmi mengalihkan sebagian besar aset dan bisnis konektivitas serat optik grosir mereka kepada anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF), yang kini dikenal sebagai InfraNexia, dalam penandatanganan akta pemisahan tahap pertama pada Kamis, 18 Desember 2025. Aksi korporasi senilai sekitar Rp 35 triliun pada tahap awal ini, yang disetujui pemegang saham independen melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 12 Desember 2025, merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan nilai aset infrastruktur digital perusahaan dan memperkuat posisi Telkom Group di lanskap telekomunikasi nasional. Proses pemisahan ini menjadi tonggak penting dalam upaya Telkom untuk meningkatkan efisiensi operasional, mendorong network sharing, dan mempercepat pemerataan akses digital di seluruh Indonesia.

Pengalihan aset ini merupakan bagian integral dari strategi transformasi jangka menengah Telkom yang dikenal sebagai "Five Bold Moves" dan "Telkom 30". Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk membangun struktur usaha yang lebih fokus dan tangkas, memungkinkan InfraNexia untuk secara khusus mengembangkan bisnis serat optik, meningkatkan efisiensi biaya operasional dan investasi, serta membuka peluang kemitraan strategis. Pada tahap pertama, InfraNexia kini mengelola sekitar 50 persen dari total infrastruktur jaringan serat optik Telkom, mencakup segmen akses, agregasi, backbone, dan infrastruktur pendukung. Total nilai aset yang akan dikelola InfraNexia setelah seluruh proses spin-off rampung pada paruh kedua tahun 2026 diproyeksikan mencapai Rp 90 triliun, atau sekitar 5,4 miliar dollar AS. Telkom akan tetap mempertahankan kepemilikan mayoritas, dengan 99,99 persen saham di InfraNexia.

Latar belakang pemisahan aset ini tidak terlepas dari tren global dalam industri telekomunikasi yang melihat pemisahan bisnis infrastruktur (InfraCo) dari layanan ritel (ServiceCo). Sebelumnya, Telkom telah mengintegrasikan bisnis fixed broadband IndiHome ke Telkomsel pada April 2023, menjadikan Telkomsel sebagai pengelola penuh segmen Business-to-Consumer (B2C), sementara Telkom fokus pada Business-to-Business (B2B). Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyatakan bahwa aksi pemisahan aset serat optik ini merupakan realisasi dari strategi Telkom untuk efisiensi belanja modal (capex) dan maksimalisasi monetisasi aset milik Telkom Group.

Para pengamat industri dan anggota parlemen menyambut positif inisiatif ini. Anggota Komisi VI DPR, Achmad, menilai pemisahan aset ini sebagai langkah progresif untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengoptimalkan aset besar yang dimiliki Telkom, tidak hanya untuk keuntungan perusahaan tetapi juga kontribusi bagi negara. Ia menambahkan, dengan InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur grosir yang netral dan terbuka, operator telekomunikasi lain, termasuk penyedia jasa internet (ISP) skala kecil dan menengah, dapat mengakses infrastruktur dengan lebih mudah, yang berpotensi menciptakan persaingan yang lebih sehat dan inklusif di tingkat layanan. Anggota Komisi VI DPR lainnya, Gde Sumarjaya Linggih, menekankan bahwa inisiatif ini penting untuk mengatasi kesenjangan digital dan memastikan pemerataan akses layanan yang optimal di seluruh pelosok negeri, termasuk daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

Dengan penguatan peran InfraNexia sebagai entitas khusus pengelola wholesale fiber, Telkom menargetkan peningkatan pangsa pasar bisnis wholesale fiber connectivity menjadi di atas 25% dari posisi saat ini sekitar 16%. Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, optimis langkah ini akan mendongkrak daya saing di pasar domestik dan mendorong valuasi bisnis infrastruktur hingga di atas Rp 100 triliun, bahkan mencapai Rp 120-150 triliun saat beroperasi penuh. Meskipun demikian, Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menjelaskan bahwa Telkom belum mengambil keputusan terkait rencana Initial Public Offering (IPO) InfraNexia di pasar modal. Opsi IPO atau menggandeng mitra strategis tetap terbuka, namun prioritas saat ini adalah memastikan InfraNexia dapat menjadi perusahaan fiberco yang mumpuni dan membawa pertumbuhan lebih tinggi bagi Telkom Group. Sementara Telkomsel saat ini merupakan pelanggan terbesar InfraNexia, menyumbang sekitar 90% bisnisnya, Telkom berharap komposisi ini akan berubah dengan berkembangnya bisnis dari pihak di luar Telkomsel dan Telkom Group.

Spin-off ini merupakan tahapan krusial dalam peta jalan transformasi Telkom, dengan fase kedua pengalihan aset ditargetkan rampung pada 2026. Harapannya, pemisahan ini akan memungkinkan Telkom untuk lebih fokus pada segmen B2B, mengoptimalkan infrastruktur yang sebelumnya hanya dimanfaatkan sekitar 40% oleh Telkomsel, serta mempercepat adopsi digital di Indonesia melalui jaringan yang lebih luas dan efisien.